Limbah Plastik Dihasilkan Bahan Bakar: Pyrolysis Solusi

Fajar H. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Limbah Plastik Dihasilkan Bahan Bakar: Pyrolysis Solusi

Gambar atau konten salah?

Plastik yang menumpuk di tempat pembuangan akhir tetap menjadi masalah besar bagi lingkungan, baik di Indonesia maupun di negara lain. Setiap hari, limbah plastik menembus laut, sungai, dan danau, menimbulkan dampak ekologis yang luas.

Menurut Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), jumlah sampah plastik yang masuk ke perairan setara dengan 2.000 truk sampah setiap harinya. Di seluruh dunia, tercatat sekitar 19–23 juta ton limbah plastik mengotori ekosistem perairan setiap tahun.

Di Indonesia, perkiraan data tahun 2025 menunjukkan produksi sampah plastik mencapai 12,4 juta ton per tahun. Dengan demikian, setiap hari dihasilkan sekitar 28.000 ton sampah plastik.

Dalam upaya mengurangi tumpukan sampah, muncul gagasan memanfaatkan plastik sebagai bahan bakar. Dr. Leopold Oscar, seorang pakar dari IPB University, menjelaskan bahwa secara ilmiah limbah plastik dapat diolah menjadi bahan bakar cair melalui proses pirolisis.

“Plastik seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) cenderung menghasilkan senyawa hidrokarbon yang lebih sesuai untuk bahan bakar,” ucapnya, dilansir dari laman IPB University.

Pirolisis adalah proses termokimia yang memecah material pada suhu tinggi di bawah kondisi minim atau tanpa oksigen. Proses ini menghasilkan gas, cairan, dan residu padat. Produk cairnya, jika dimurnikan, dapat dikembangkan menjadi bahan bakar.

Dr. Leopold menekankan bahwa karakteristik minyak hasil pirolisis sangat dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan. “Karakteristik minyak hasil pirolisis sangat dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan sebagai bahan baku,” jelasnya.

Plastik jenis polyethylene terephthalate (PET) dan polyvinyl chloride (PVC) kurang ideal untuk dijadikan bahan bakar. Jenis tersebut dapat menghasilkan senyawa korosif atau menimbulkan masalah lingkungan.

Selain jenis plastik, kualitas produk juga dipengaruhi oleh suhu operasi, proses pemanasan, penggunaan katalis, dan tahap pra-perlakuan bahan baku. Akibatnya, minyak hasil pirolisis masih memerlukan proses pemurnian, distilasi, maupun cracking sebelum memenuhi standar mutu bahan bakar diesel.

UNEP menilai bahwa masalah plastik tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan daur ulang. Lembaga tersebut menekankan perlunya perubahan sistemik menuju ekonomi sirkular, karena dampak pencemaran plastik terkait perubahan iklim, degradasi ekosistem, dan kesehatan masyarakat.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Dr. Leopold menilai pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar perlu disertai standar dan pengawasan yang ketat, terutama bila produk akan dipasarkan kepada masyarakat. “Apabila nantinya dipasarkan kepada masyarakat, aspek kualitas dan keamanan harus menjadi prioritas utama. Mulai dari pemilahan bahan baku, pengendalian proses produksi, hingga pengujian mutu produk akhir perlu dilakukan secara konsisten,” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa Indonesia memerlukan regulasi yang jelas terkait standar bahan baku, proses produksi, dan kualitas produk akhir. Menurutnya, teknologi pirolisis berpotensi membantu mengurangi tumpukan limbah sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular dengan memberi nilai tambah pada sampah yang sebelumnya tidak termanfaatkan.

Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan peningkatan efisiensi proses, kelayakan ekonomi, dan keamanan lingkungan masih perlu menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi tersebut. “Ke depan, pemanfaatan sampah plastik menjadi bahan bakar cukup potensial untuk memecahkan solusi pengelolaan limbah, terutama selama kebutuhan energi masih bergantung pada sumber daya fosil,” tutur Leopold.

Ia juga menekankan bahwa produk pirolisis plastik dapat digunakan untuk keperluan nonbahan bakar. Oleh karena itu, perannya perlu terus dievaluasi seiring berkembangnya pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia.

Dengan fakta bahwa setiap hari dihasilkan puluhan ribu ton sampah plastik, pendekatan pirolisis menawarkan alternatif yang menarik. Namun, keberhasilan penerapannya bergantung pada regulasi, standar mutu, dan pemantauan ketat untuk memastikan produk aman bagi konsumen dan lingkungan.

Limbah plastikPirolisisBahan bakarEkonomi sirkularUNEPRegulasiKualitas produkEnergi terbarukan

Komentar

Memuat komentar...