Wamenperin Riza: Rupiah Lemah, Industri Tekstil Tak Terganggu

Rini S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Wamenperin Riza: Rupiah Lemah, Industri Tekstil Tak Terganggu

Gambar atau konten salah?

Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza mengunjungi PT Gajah Angkasa Perkasa di Bandung, Jawa Barat, pada 12 Juni 2026. Ia menilai bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan gejolak pasar modal tidak menimbulkan dampak besar bagi industri nasional, khususnya industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Dalam keterangan tertulis, Riza menegaskan bahwa “Belakangan banyak isu bahwa kenaikan mata uang asing dan penekanan rupiah kondisi pasar seolah-olah pengaruhnya besar pada industri. Tapi, kita tahu bahwa justru sekarang sektor-sektor tertentu mengalami panen peluang. Kelihatan bahwa industri kita punya fundamental yang baik, dan hampir tidak terpengaruh oleh lemahnya atau tidak stabilnya nilai tukar rupiah maupun pasar modal. Saya juga melihat industri nasional kita memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi situasi yang tidak stabil secara global.”

Selama kunjungan, Riza menyaksikan langsung proses produksi di pabrik. Ia mengapresiasi pencapaian perusahaan garmen tersebut, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menembus pasar mancanegara. Riza menambahkan, “Kita bisa bersaing dengan harga tekstil yang diproduksi negara lain bahkan dengan harga di pasar. Ini membanggakan. Tentu, pemerintah juga akan terus mendukung industri tekstil di Indonesia.”

Ia mengajak industri tekstil untuk memanfaatkan tantangan geopolitik guna memperluas pasar ekspor. Salah satu langkahnya adalah melalui perjanjian dagang Indonesia dengan Eropa yang memberikan bea masuk nol persen untuk produk tekstil Indonesia. Riza juga menegaskan, “Pemerintah juga mengatur supaya di border betul-betul ketat. Presiden sudah memerintahkan agar bea cukai jadi kekuatan ekonomi kita, dengan membatasi barang ilegal, tidak memenuhi standar, dan barang yang merusak pasar dalam negeri.”

Direktur Gajah Group, Dedy Zein, menyatakan bahwa PT Gajah Angkasa Perkasa saat ini mampu memproduksi total 3 juta meter produk garmen dalam sebulan. Produksi tersebut melayani pasar dalam negeri dan ekspor, termasuk kebutuhan seragam militer dan pemerintahan di Malaysia, Jepang, dan India.

Dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 85%, Dedy optimis perusahaan dapat menambah negara tujuan ekspor. Ia menargetkan pasar berikut:

Dedy menekankan harapannya “kami berharap ke depannya bisa mengekspor bahan jadi, specialty menjadi uniform (seragam) militer dan pemerintah di negara lain.”

Selain seragam, PT Gajah Angkasa Perkasa juga memproduksi berbagai produk garmen seperti sepatu, tanda pangkat, kain batik, dan sepatu. Perusahaan ini menonjolkan kualitas dan komponen dalam negeri yang tinggi, sehingga produk mereka tetap kompetitif di pasar global.

Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan ketahanan industri, sektor tekstil Indonesia menunjukkan kemampuan adaptasi di tengah ketidakpastian nilai tukar dan pasar modal. Perusahaan-perusahaan lokal terus memperkuat jaringan ekspor, memanfaatkan perjanjian perdagangan, dan menjaga standar kualitas untuk tetap bersaing di panggung internasional.

Wakil Menteri PerindustrianPT Gajah Angkasa Perkasaindustri tekstilnilai tukar rupiaheksporperjanjian dagang Indonesia‑Eropaseragam militer

Komentar

Memuat komentar...