LRT Surabaya Barat-Timur Dikaji Inggris
Gambar atau konten salah?
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menggandeng Pemerintah Inggris untuk mengkaji pembangunan kereta ringan atau LRT. Rutenya difokuskan untuk perjalanan dari Surabaya Barat ke Surabaya Timur.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengatakan kajian dari pemerintah Inggris saat ini terus berjalan. Hasilnya pun sudah dibicarakan dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
"LRT Surabaya Barat sudah dilakukan kajian, dan sudah dimutakhirkan oleh pemerintah Inggris, sudah dikomunikasikan ke Bappenas," kata Emil di Surabaya, Rabu, 8 Juli 2026.
Menurut Emil, LRT di Surabaya akan fokus pada rute Barat ke Timur. Tapi hasil kajian menunjukkan perlunya integrasi jalur dari Selatan ke Utara. Tanpa itu, layanan LRT tidak akan optimal.
"Ini kan memang jalurnya kemungkinan kita fokus dari Barat ke Timur. Tetapi kan kelayakannya ini belum bisa terpenuhi secara traffic kalau langsung dari Timur ke Barat. Harus ada integrasi dengan jalur Utara-Selatan," jelasnya.
Mantan Bupati Trenggalek ini menyebut pemerintah Inggris juga mengkaji integrasi LRT dengan Terminal Joyoboyo. Terminal ini menjadi salah satu titik penting.
"Nanti integrasi ini yang perlu penting dirancang gimana mengintegrasikan di daerah-daerah tadi seperti Terminal Joyoboyo, kemudian Wonokromo bagaimana bisa terintegrasi, tantangannya di situ, ini yang sedang dilakukan sekarang," tegasnya.
Pada awal Maret 2026, Wagub Emil bertemu dengan Minister Counsellor for Development dari Kedutaan Besar Inggris (FCDO), Peter Rajadiston, di Surabaya. Mereka membahas percepatan proyek kerja sama internasional antara Jawa Timur dan Inggris. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan antara Presiden RI Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Januari 2026.
Wagub Emil mengatakan fokus utama pertemuan adalah penguatan sektor pendidikan tinggi dan modernisasi transportasi perkotaan. Khususnya di wilayah Surabaya, Jawa Timur.
Di sektor infrastruktur, fokus utama pertemuan Jawa Timur-Inggris adalah pengembangan sistem transportasi kereta api urban di Surabaya. Berbeda dengan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang hanya meningkatkan jalur yang sudah ada, kerja sama dengan Inggris ini mengkaji pembangunan jalur kereta baru. Termasuk peluang membangun LRT.
"Di mana, studi-studi yang dilakukan telah mengidentifikasi rute-rute strategis yang selama ini belum terjangkau, khususnya untuk memfasilitasi mobilitas masyarakat dari wilayah Barat menuju Timur Surabaya," kata Emil, Kamis, 12 Maret 2026.
"Tadi disampaikan hasil pertemuan juga dengan Pak Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, menunjukkan ada rute yang belum terisi selama ini. Salah satunya dari Barat ke arah Timur. Nah ini yang sudah dikaji melalui proses pembahasan yang cukup panjang," jelasnya.
Emil menjelaskan hasil kajian teknis mulai mengerucut pada opsi penggunaan moda LRT. Pemilihan LRT dinilai paling ideal untuk karakter mobilitas di Kota Surabaya. Sistemnya lebih ringkas dan efisien untuk kawasan perkotaan yang padat.
Selain aspek teknis rute, pertemuan itu juga mendalami konsep pengelolaan transportasi aglomerasi yang terintegrasi. Konsep ini sudah berjalan di Inggris.
Gubernur Khofifah Indar Parawansa disebut Emil secara khusus menaruh perhatian pada model Transport for London (TfL). Model ini sukses mengelola transportasi di wilayah Greater London. Konsep serupa ingin diadaptasi untuk wilayah Surabaya Raya, yaitu Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. Tujuannya agar seluruh pemangku kepentingan, mulai dari KAI, Dinas Perhubungan, hingga kepolisian, terintegrasi dalam satu sistem manajemen.
"Yang menarik juga adalah Ibu gubernur berkomunikasi dengan TFL. Kita punya Surabaya, Sidoarjo, Gresik yang nyambung langsung. Tetapi bagaimana aglomerasi transportasi ini dikelola dengan baik Ini salah satu yang juga kita bahas," jelasnya.
Emil juga menyadari pembangunan transportasi publik berskala besar memerlukan komitmen fiskal yang kuat dan berkelanjutan. Ia menegaskan proyek kereta api urban tidak bisa diserahkan sepenuhnya ke pihak swasta. Karena itu, diperlukan kajian mendalam soal kondisi fiskal jangka panjang, baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kota.
"Ini masih melakukan penajaman studi teknisnya. Model pengerjaannya seperti apa ini kita ingin bahas dulu dengan pemerintah pusat karena tentu harus ada komitmen fiskal," pungkasnya.
Sementara itu, Peter Rajadiston dari Kedutaan Besar Inggris (FCDO) mengatakan pertemuan ini adalah tindak lanjut kunjungan Presiden Prabowo ke Inggris pada Januari lalu. Ia mengaku senang bertemu dan diterima langsung oleh Wagub Emil Dardak. Melalui pertemuan ini, ia berharap dapat memperkuat kerja sama antara Jawa Timur dan Inggris, terutama di sektor infrastruktur perkotaan di Surabaya dan sekitarnya.
"Saya sangat menantikan kolaborasi yang akan berlanjut untuk memastikan bahwa kita memiliki infrastruktur urban yang berkembang di Kota Surabaya dan sekitarnya," ucapnya.
Proyek LRT ini masih dalam tahap kajian. Belum ada kepastian kapan pembangunan dimulai. Yang jelas, pemerintah Jawa Timur dan Inggris serius menggarapnya. Rute Barat-Timur menjadi prioritas, tapi integrasi dengan jalur Utara-Selatan juga penting. Terminal Joyoboyo dan Wonokromo disebut sebagai titik integrasi. Model pengelolaan ala London juga diincar untuk Surabaya Raya. Semua masih butuh waktu dan kajian lebih lanjut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
LRT Surabaya Barat-Timur Dikaji Inggris
Pemain Bola Lubangi Kaus Kaki, Bukan Sekadar Gaya
Prabowo-Modi Resmikan Restorasi Candi Prambanan
Arhan Pulang ke Persija, Rindu Ridho dan Witan
Sumur LLA-5 Hasilkan Minyak 780 Barel per Hari, Lampaui Target
IPO Kedua 2026, BEI Catat Pencatatan Saham Baru
Diaspora Indonesia Rela Antre Satu Jam Demi Nasi Padang di Australia
