Mantan Napi Buka Warung Nasi Campur Murah di Singapura

Nita W. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Mantan Napi Buka Warung Nasi Campur Murah di Singapura

Gambar atau konten salah?

Di Singapura, seorang mantan narapidana membuka warung nasi campur prasmanan dengan harga murah. Tujuannya bukan sekadar cari untung, melainkan membantu sesama yang membutuhkan makanan terjangkau.

Warung bernama R&B Cai Fan ini berlokasi di Woodlands. Pelanggan cukup membayar SGD 7 atau sekitar Rp97.000 untuk satu piring. Mereka bisa mengambil aneka lauk sepuasnya—tanpa batas jumlah atau jenis makanan. Hanya satu aturan: tidak boleh refill atau mengambil ulang.

Pemiliknya, Royce Lee (53 tahun), punya masa lalu kelam. Ia bergabung dengan kelompok rahasia sejak usia 14 tahun. Kemudian terjerat narkoba dan dua kali dipenjara karena kasus perdagangan narkotika. Namun, hidupnya berubah total saat di penjara.

Di dalam penjara, Lee ditempatkan di dapur. Di sana ia belajar memasak hidangan Barat. Sang ibu mendukung penuh dengan rutin mengirimkan buku masak dan resep untuk dipelajari. Pengalaman itu menjadi bekal berharga setelah bebas pada 2017.

Setelah keluar dari penjara, Lee sempat membuka restoran sendiri. Sayangnya, usaha itu gulung tikar karena masalah keuangan. Ia lalu bekerja sebagai juru masak di MBox Mahota Market. Di sana ia bertemu Benson Tong, yang kini menjadi rekan bisnisnya.

Pada Januari 2026, Tong mengajak Lee membuka gerai makanan Barat di Woodlands. Kebetulan, ada lapak nasi campur kosong di lokasi yang sama. Mereka memutuskan mengambil alih tempat itu dan mendirikan R&B Cai Fan. Warung ini resmi beroperasi sejak 15 Juni 2026.

Lee mengaku membuka gerai ini sebagai bentuk rasa syukur. Banyak orang yang memberinya kesempatan memulai hidup baru setelah bebas dari penjara. Ia ingin membantu orang-orang yang kesulitan membeli makanan mahal.

"Saya bersyukur setelah bebas dari penjara, banyak orang tidak menghakimi saya dan justru memberi kesempatan yang sangat berarti. Ini menjadi cara saya untuk membalas kebaikan mereka," ujar Lee.

Harga prasmanan SGD 7 sempat memicu banyak pertanyaan. Tidak sedikit orang bercanda dan mempertanyakan bagaimana warung ini bisa bertahan dengan harga semurah itu. Menurut Tong, kuncinya ada pada hubungan baik dengan pemasok yang sudah dibangun selama lebih dari dua dekade.

Karena membeli dalam jumlah besar, mereka mendapat harga daging dan seafood sekitar 30 persen lebih murah dibanding harga pasar. Strategi ini membuat mereka bisa menjual makanan dengan harga rendah tanpa rugi.

Saat ini, gerai tersebut melayani sekitar 90 pelanggan setiap jam makan siang. Pada malam hari, tempat itu berubah fungsi menjadi restoran Korean barbecue dan steamboat. Keuntungan dari layanan makan malam digunakan untuk menopang operasional warung nasi campur di siang hari.

Ke depannya, Lee dan Tong berencana membuka cabang baru di kawasan industri lain. Mereka juga mempertimbangkan membuka gerai bersertifikat halal agar bisa menjangkau lebih banyak pelanggan.

Cerita Lee menunjukkan bahwa masa lalu tidak selalu menentukan masa depan. Dengan kesempatan kedua dan kerja keras, seseorang bisa membangun usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Warung nasi campur murah ini bukan sekadar bisnis, melainkan juga wujud terima kasih kepada mereka yang percaya padanya.

warung nasi campurharga murahmantan narapidanaSingapuraprasmanankesempatan keduaR&B Cai Fan

Komentar

Memuat komentar...