Manufaktur Indonesia Tertahan di Tengah Risiko PHK Massal

Sari D. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Manufaktur Indonesia Tertahan di Tengah Risiko PHK Massal

Gambar atau konten salah?

Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian, menyatakan bahwa sektor manufaktur Indonesia saat ini berada dalam situasi yang memerlukan perhatian serius. Ia menegaskan bahwa konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dapat memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di industri dalam negeri.

"Kita ini sekarang dalam kondisi yang memang harus diberi perhatian, dan yang menghadapi kondisi ini bukan hanya Indonesia," ujarnya kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (05 Mei 2026).

Menurutnya, tekanan yang dirasakan manufaktur berasal dari beberapa arah: rantai pasok yang terganggu, harga bahan baku yang melonjak, dan pelemahan pasar. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi ini bersifat sementara, karena mayoritas tekanan tersebut bersumber dari faktor global.

"Tekanan terhadap market, ada tekanan terhadap bahan baku. Itu memang dihadapi oleh semua negara, semua pihak, dan saya yakin ini sifatnya sementara. Saya yakin," tambahnya.

Agus menekankan bahwa industri dalam negeri memiliki resiliensi yang kuat. Ia mengingatkan bahwa sektor manufaktur sudah pernah melewati krisis besar, termasuk pandemi COVID-19, di mana para pekerja dan perusahaan menunjukkan ketahanan yang luar biasa.

"Saya tetap percaya dengan resiliensi sektor manufaktur. Kita sudah berkali-kali mengalami krisis dengan magnitude yang luar biasa, terakhir COVID-19, di mana teman-teman manufaktur bisa menunjukkan resiliensinya," tegasnya.

Konflik di Timur Tengah juga menimbulkan kekhawatiran tentang potensi PHK massal. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) telah mengingatkan bahwa risiko PHK dapat meningkat dalam tiga bulan ke depan. Informasi ini berasal dari laporan buruh di lapangan.

Serikat pekerja telah memulai diskusi dengan perwakilan perusahaan mengenai kemungkinan pengurangan tenaga kerja. Presiden KSPI, Said Iqbal, menyoroti sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) sebagai yang paling rentan. Ia mengatakan:

"Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester, dan sebagainya," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Senin (04 Mei 2026).

Sektor lain yang terancam adalah industri plastik, yang menghadapi lonjakan harga bahan baku impor. Kenaikan biaya produksi akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS menambah beban. Dampak ini juga dapat merembet ke industri elektronik dan otomotif, yang banyak menggunakan komponen berbahan plastik.

Selain itu, sektor semen juga mengalami tekanan karena kelebihan pasokan (oversupply) dan penurunan permintaan akibat konflik. Semua faktor ini menambah ketidakpastian bagi industri manufaktur.

Secara keseluruhan, meski menghadapi tekanan global, Menteri Perindustrian tetap optimis bahwa industri manufaktur Indonesia dapat menahan badai ini. Pengalaman masa lalu, seperti pandemi, menunjukkan bahwa sektor ini mampu beradaptasi dan tetap produktif.

Menteri PerindustrianSektor manufakturKonflik Timur TengahPHK massalPasokan bahan bakuKSPIResiliensi industri

Komentar

Memuat komentar...