Menahan Kencing Terlalu Lama Bisa Merusak Kandung Kemih

Ningsih R. · 4 min baca · 8 jam lalu · 6 dibaca
Bisik.id
Menahan Kencing Terlalu Lama Bisa Merusak Kandung Kemih

Gambar atau konten salah?

Hampir semua orang pernah menahan buang air kecil. Entah sedang dalam perjalanan, sibuk bekerja, menghadiri rapat, atau sulit menemukan toilet bersih, kebiasaan ini tampak sepele. Namun, bila dilakukan terlalu sering, menahan kencing dapat memengaruhi kesehatan kandung kemih.

Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai mengalami gangguan kontrol kandung kemih. Ibu hamil dan pria lanjut usia dengan masalah prostat sering melaporkan gejala tersebut. Pertanyaannya: apakah menahan kencing selama bertahun‑tahun bisa merusak kandung kemih? Dan berapa banyak urine yang dapat ditampung?

Dr. Chong Weiliang, spesialis urologi di Advanced Urology Associates Singapura, menjelaskan bahwa kapasitas kandung kemih setiap orang berbeda. Secara umum, kandung kemih dewasa sehat dapat menampung sekitar 300 hingga 500 mililiter urine atau setara 1 hingga 2 gelas. Pada volume tersebut, biasanya muncul dorongan kuat untuk buang air kecil. Beberapa orang bahkan mulai merasakan keinginan buang air kecil saat kandung kemih berisi sekitar 200–300 mililiter urine. Dalam beberapa kasus, kapasitas dapat mencapai 600 hingga 800 mililiter. Namun, jika volumenya melebihi angka tersebut, rasa tidak nyaman biasanya mulai muncul.

“Banyak yang beranggapan pria memiliki kandung kemih lebih besar dibandingkan wanita. Menurut para ahli, kapasitas kandung kemih pria memang sedikit lebih besar karena ukuran tubuh yang umumnya lebih besar. Namun perbedaannya tidak terlalu signifikan,” sorotnya. Selain itu, pria memiliki uretra yang lebih panjang serta kelenjar prostat yang turut memengaruhi proses penyimpanan dan pengeluaran urine.

Setelah minum air putih, tubuh membutuhkan waktu sekitar 15–30 menit hingga cairan mulai muncul sebagai urine pada orang yang sehat dan terhidrasi dengan baik. Ginjal terus menyaring darah sepanjang waktu, sehingga produksi urine merupakan proses yang berlangsung terus‑menerus, bukan sekadar perjalanan langsung dari air yang diminum menuju kandung kemih. Pada kondisi tertentu, proses ini bisa berlangsung lebih lama, sekitar 30 menit hingga 2 jam. Salah satunya ketika tubuh mengalami dehidrasi.

“Saat kekurangan cairan, tubuh akan berusaha mempertahankan cadangan air untuk memenuhi kebutuhan sel dan jaringan. Akibatnya, produksi urine menjadi lebih lambat,” jelas dr. Chong.

Beberapa kondisi tertentu dapat memengaruhi frekuensi buang air kecil. Saat terlalu lama duduk atau berdiri, cairan tubuh cenderung menumpuk di kaki dan pergelangan kaki. Akibatnya, sebagian orang merasa kakinya lebih bengkak menjelang malam. Ketika berbaring, cairan tersebut kembali masuk ke aliran darah sehingga volume darah meningkat. Kondisi ini merangsang ginjal untuk memproduksi lebih banyak urine. Hal serupa juga dapat terjadi saat berada di dalam pesawat. Suhu kabin yang dingin dan tingkat kelembapan yang rendah dapat membuat seseorang lebih sering ingin buang air kecil. Udara kabin yang kering juga bisa menyebabkan dehidrasi ringan. Meski pada awalnya dehidrasi memperlambat produksi urine, urine yang lebih pekat dapat mengiritasi kandung kemih sehingga memicu rasa ingin buang air kecil.

dr. Chong memperingatkan bahwa kebiasaan menahan kencing dalam waktu lama dan berulang kali dapat menyebabkan kandung kemih meregang melebihi kapasitas normalnya atau dikenal sebagai overdistensi kandung kemih. “Ketika kondisi ini terjadi, otot kandung kemih dapat melemah sehingga tidak mampu mengosongkan urine secara sempurna,” tandas dia. Akibatnya, urine yang tertinggal di dalam kandung kemih dapat meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK). Selain itu, seseorang juga bisa kehilangan sensitivitas terhadap rasa penuh pada kandung kemih sehingga tidak lagi menyadari dorongan untuk buang air kecil sejak dini.

Meski terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan kandung kemih pecah akibat menahan kencing merupakan kondisi yang sangat jarang terjadi. “Kasus pecahnya kandung kemih umumnya berkaitan dengan trauma berat, keracunan alkohol, sumbatan saluran kemih, atau retensi urine yang parah, bukan karena kebiasaan menahan kencing sesekali dalam aktivitas sehari‑hari,” jelas dia. Risiko tersebut juga dapat meningkat pada orang dengan gangguan kejiwaan tertentu yang mengurangi sensasi penuh pada kandung kemih, atau mereka yang pernah menjalani operasi maupun terapi radiasi yang melemahkan dinding kandung kemih.

Frekuensi buang air kecil normal pada orang dewasa sehat berkisar 4 hingga 8 kali per hari. Sebagian besar orang akan buang air kecil setiap 3 sampai 4 jam saat terjaga. Namun, jika seseorang harus bangun lebih dari satu kali setiap malam untuk buang air kecil dan kondisi tersebut mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis mungkin diperlukan. Para ahli menegaskan tidak ada batas waktu pasti mengenai berapa lama seseorang boleh menahan kencing. Yang terpenting adalah merespons dorongan buang air kecil dan tidak membiasakan diri menundanya secara berulang. Meski kebanyakan orang dewasa sehat masih dapat menahan kencing selama beberapa jam sesekali, kebiasaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan terus‑menerus.

Untuk menjaga kesehatan kandung kemih, dokter menyarankan beberapa kebiasaan berikut:

  • mengosongkan kandung kemih setelah bangun tidur;
  • tidak menahan kencing terlalu lama;
  • buang air kecil sebelum perjalanan jauh atau sebelum tidur;
  • memastikan asupan cairan tubuh tetap cukup sepanjang hari;
  • dan menarikan, terlalu sering ke toilet untuk berjaga‑jaga juga tidak disarankan. Kebiasaan ini dapat membuat kapasitas fungsional kandung kemih berkurang seiring waktu.

Berikut gejala yang memerlukan perhatian medis karena bisa menandakan adanya gangguan pada saluran kemih atau kandung kemih:

  • nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil;
  • adanya darah dalam urine;
  • infeksi saluran kemih yang berulang;
  • perubahan mendadak pada pola buang air kecil;
  • kesulitan menahan kencing atau mengalami kebocoran urine;
  • kesulitan mengeluarkan urine;
  • aliran urine lemah;
  • merasa kandung kemih tidak kosong sepenuhnya setelah buang air kecil;
  • terlalu sering buang air kecil tanpa penyebab yang jelas;
  • terbangun berkali‑kali pada malam hari untuk buang air kecil;
  • nyeri perut bagian bawah atau perut terasa penuh akibat kandung kemih membesar;
  • demam yang disertai keluhan saluran kemih.

Ia menegaskan keberadaan darah dalam urine, meski hanya sekali dan tanpa rasa sakit, tetap harus diperiksakan. Terutama pada orang lanjut usia atau perokok. Selain itu, berbagai keluhan saluran kemih yang menetap tidak boleh dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Banyak gangguan kandung kemih dan saluran kemih yang dapat ditangani dengan baik jika terdeteksi sejak dini.

Secara keseluruhan, menahan kencing secara berkala dapat memengaruhi fungsi kandung kemih, namun risiko kerusakan parah seperti pecahnya kandung kemih sangat jarang. Menjaga kebiasaan buang air kecil yang sehat, menyesuaikan asupan cairan, dan merespons dorongan tubuh secara tepat dapat membantu mencegah komplikasi. Jika mengalami gejala yang disebutkan di atas, segera konsultasikan dengan tenaga medis untuk evaluasi lebih lanjut.

kencingkandung kemihkapasitasoverdistensiinfeksi saluran kemihdehidrasifrekuensi buang air kecil

Komentar

Memuat komentar...