Menkeu: Ekonomi Indonesia Kuartal I-2026 Tumbuh 5,61%, Ungguli Rata-Rata G20

Guntur P. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Menkeu: Ekonomi Indonesia Kuartal I-2026 Tumbuh 5,61%, Ungguli Rata-Rata G20

Gambar atau konten salah?

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berbicara di hadapan ratusan akademisi dan mahasiswa di Nankai University, Tianjin, China. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa kondisi perekonomian Indonesia saat ini sangat kuat dan mampu bersaing di tingkat global. Pertemuan ini dihadiri oleh Rektor Nankai University President Chen Yulu, Wakil Rektor Eksekutif Chen Jun, Wakil Rektor Sheng Bin, serta Profesor Xingmin Li.

Purbaya menyampaikan harapannya agar diskusi akademik semacam ini bisa mempererat pertukaran ide dan memperkuat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok. Ia menegaskan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi prima. Hal ini didukung oleh pengelolaan fiskal yang sehat, hati-hati, dan terjaga. Defisit anggaran negara konsisten berada di bawah batas yang ditetapkan undang-undang, yaitu 3 persen.

"Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk berada di Nankai University. Hari ini, dengan sukacita saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan. Saya berharap dialog ini memperkuat pertukaran akademik, memperdalam pemahaman bersama, dan semakin meningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok," ujar Purbaya dalam keterangannya pada Minggu, 21 Juni 2026.

Purbaya menjelaskan bahwa di tengah situasi pasar global yang mulai stabil, seiring dengan meredanya indikator volatilitas dan membaiknya sentimen risiko, perekonomian domestik Indonesia justru tampil menonjol. Hal ini dibuktikan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I-2026 yang menembus angka 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini menempatkan performa Indonesia di atas rata-rata pertumbuhan negara-negara G20 dan kawasan ASEAN.

Kinerja pertumbuhan ini didukung oleh stabilitas harga yang sangat terjaga di dalam negeri. Per Mei 2026, tingkat inflasi tercatat berada di level yang sangat terkendali, yaitu 3,08 persen. Kombinasi pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang terkendali, semakin mempertebal kepercayaan pasar global terhadap kredibilitas manajemen makroekonomi Indonesia.

"Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen yoy, mengungguli banyak negara ekonomi G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08 persen. Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel," beber Purbaya.

Purbaya menyebut posisi Indonesia sangat diuntungkan dalam menghadapi risiko gangguan energi global. Berdasarkan analisis risiko, posisi Indonesia berada pada kuadran eksposur rendah dengan penahan (buffer) yang kuat. Penilaian skor ketahanan energi global bahkan menempatkan Indonesia di angka 77 persen, berada di atas China yang mencatatkan skor 76 persen dan hanya selisih tipis di bawah Afrika Selatan (79 persen).

Ketangguhan ini tidak lepas dari bauran kebijakan fiskal yang sehat dan hati-hati. Defisit yang dijaga ketat di bawah 3 persen memberikan ruang yang memadai bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk berfungsi optimal sebagai shock absorber dalam meredam gejolak eksternal tanpa mengorbankan stabilitas makro.

Purbaya menjelaskan, seluruh indikator utama menunjukkan mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia kian bertenaga dan bergerak secara inklusif. Geliat ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur yang berada di level ekspansif 50,0, pertumbuhan likuiditas perekonomian (M0) sebesar 14,8 persen yoy, serta pertumbuhan kredit perbankan yang melesat hingga 11,5 persen yoy.

Selain itu, eksternalitas Indonesia diperkuat oleh catatan surplus neraca perdagangan yang bertahan selama 72 bulan berturut-turut, diiringi cadangan devisa yang gemuk sebesar USD 144,9 miliar atau setara 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Paling krusial, pertumbuhan ekonomi yang kokoh ini langsung ditranslasikan ke dalam peningkatan kesejahteraan riil masyarakat luas melalui perbaikan pasar tenaga kerja.

Terjadinya penciptaan lapangan kerja baru bagi sekitar 1,9 juta orang berhasil menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), turun menjadi 4,68 persen pada tahun 2026. Di sisi lain, efektivitas program perlindungan sosial berhasil menurunkan tingkat kemiskinan secara konsisten, dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025. Beralih dari mesin pertumbuhan baru menuju tahap implementasi, Indonesia kini memiliki 8 kluster program kerja prioritas nasional yang akan menerjemahkan strategi pembangunan ke dalam hasil yang nyata.

"Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana," jelas Purbaya.

Pada saat yang sama, Purbaya menekankan pemerintah sedang mempercepat transformasi struktural melalui hilirisasi dan industrialisasi, memperkuat ekonomi kerakyatan dan pembangunan pedesaan, serta memperdalam pengentasan kemiskinan melalui program bantuan sosial dan lapangan kerja yang terintegrasi.

Program-program ini akan diperkuat oleh sektor pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, digitalisasi, serta diplomasi ekonomi, guna memastikan bahwa pembangunan nasional tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga bersifat inklusif, tangguh, dan terkoordinasi dengan baik.

"Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata," tambah Purbaya.

Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid di tengah ketidakpastian global. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang terkendali, dan pengelolaan fiskal yang disiplin menjadi fondasi utama. Keberhasilan menekan angka pengangguran dan kemiskinan juga menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat.

ekonomiIndonesiakuatglobalpertumbuhaninflasifiskal

Komentar

Memuat komentar...