Penumpang Bandara Minang Anjlok 61%, Armada Pesawat Menipis

Mira T. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Penumpang Bandara Minang Anjlok 61%, Armada Pesawat Menipis

Gambar atau konten salah?

Bandara Internasional Minangkabau di Padang, Sumatera Barat, sedang menghadapi masa sulit. Jumlah orang yang naik pesawat dari bandara ini turun drastis. Hingga Mei 2026, hanya 931.737 penumpang yang tercatat. Angka ini 61 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini tidak terjadi sendiri. General Manager Bandara Internasional Minangkabau, Dony Subardono, menjelaskan bahwa jumlah penerbangan juga ikut menyusut. Sampai Mei 2026, tercatat 7.492 penerbangan. Ini 59 persen lebih sedikit dari jumlah penerbangan di periode yang sama tahun lalu.

Dony mengatakan, salah satu penyebab utama adalah ketersediaan pesawat. Sejak pandemi COVID-19 melanda, jumlah armada pesawat berkurang banyak. Maskapai pun jadi lebih hati-hati. Mereka cenderung memilih rute yang paling banyak peminatnya. Rute yang sepi penumpang, mereka tinggalkan.

“Penumpang turun, salah satunya karena soal ketersediaan armada,” kata Dony di Bandara Minangkabau, Padang, pada Jumat, 19 Juni 2026.

Penumpang di Bandara Minangkabau memang punya pola khusus. Banyak dari mereka adalah perantau. Orang-orang yang bekerja atau sekolah di luar Sumatera Barat. Mereka baru ramai pulang saat waktu-waktu tertentu. Misalnya saat Hari Raya Idul Fitri atau acara besar lainnya di Sumatera Barat.

“Ini karena ada liburan, kemudian ada event-event di Sumatera Barat. Rata-rata per hari untuk tiga hari ini sudah lumayan, kembali ke angka 6.000 per hari,” jelas Dony.

Ada faktor lain yang ikut menekan jumlah penumpang. Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah ikut berperan. Konflik ini mendorong kenaikan harga bahan bakar pesawat, atau avtur. Akibatnya, harga tiket pesawat ikut melonjak.

Dony menjelaskan, dampaknya langsung terasa. Begitu ada ketegangan geopolitik, penumpang langsung berkurang. Pemilik pesawat pun berpikir ulang. Mereka tidak mau rugi. “Jadi kalau memang penumpangnya tidak full, mereka tidak terbang. Lebih baik memilih begitu kan daripada jalan, tetapi biaya operasionalnya tinggi. Harga tiket juga sudah langsung segera disesuaikan,” terang Dony.

Meskipun situasi berat, bandara tetap punya target. Sampai akhir 2026, mereka berharap bisa menampung 2,4 juta penumpang. Target ini memang lebih tinggi dari capaian tahun 2025, yang mencapai 2,37 juta penumpang. Tapi angka ini masih jauh dari kondisi sebelum pandemi. Pada 2019, jumlah penumpang di Bandara Internasional Minangkabau mencapai 3 juta orang per tahun.

“Karena ada beberapa faktor geopolitik ini kan tidak kita perkirakan. Seharusnya kita targetnya sih 2,5 juta penumpang kemarin, tetapi karena ada faktor-faktor lain ini yang tentu membuat kita harus realistis,” imbuh Dony.

Bandara ini tidak menyerah begitu saja. Dony menyampaikan optimisme. “Kita akan optimistis di tahun 2028 kita sudah bisa mencapai (penumpang seperti) 2019 lagi,” tambahnya.

Singkatnya, Bandara Internasional Minangkabau sedang berjuang melawan tiga masalah besar sekaligus: armada pesawat yang menipis, harga tiket yang naik karena konflik global, dan penumpang yang hanya ramai di momen tertentu. Target tahun ini sudah direvisi lebih rendah, tapi mereka berharap bisa bangkit kembali dalam beberapa tahun ke depan.

penurunan penumpangarmada pesawatharga tiketkonflik Timur TengahCOVID-19perantautarget penumpang

Komentar

Memuat komentar...