Menkeu: Indonesia Disorot Soal Defisit di Bawah 3%, Padahal Negara Lain Lebih Besar

Dedi S. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Menkeu: Indonesia Disorot Soal Defisit di Bawah 3%, Padahal Negara Lain Lebih Besar

Gambar atau konten salah?

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa Indonesia akan tetap berpegang pada aturan fiskal yang ketat. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan dijaga agar tidak melebihi 3 persen. Selain itu, rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) juga akan dikendalikan di bawah 60 persen.

Pernyataan ini disampaikan Purbaya dalam rapat kerja dengan Komite IV DPD RI pada Senin, 22 Juni 2026. Menurutnya, disiplin fiskal ini penting karena banyak lembaga pemeringkat dunia yang terus memantau kondisi keuangan Indonesia.

"Kita mengambil tindakan itu bukan untuk menyusahkan ekonomi, tetapi kita mengambil tindakan yang optimal sambil menjaga batasan-batasan ini karena kan kita dilihat oleh lembaga pemeringkat dunia, bisa nggak Indonesia menjaga defisitnya di bawah 3%," jelas Purbaya.

Dalam kesempatan yang sama, Purbaya mengungkapkan rasa herannya. Ia merasa aneh karena Indonesia sering kali menjadi sorotan terkait defisit APBN. Padahal, banyak negara lain yang sudah memiliki defisit di atas 3 persen. Beberapa contohnya adalah Malaysia, Vietnam, India, dan Amerika Serikat (AS).

"Padahal yang lain sudah di atas 3%. Hanya kita yang disorot, saya juga agak bingung sebetulnya kenapa, tetapi nggak apa, kita stick ke disiplin yang mereka terapkan. Nanti kita tunjukan ke mereka bahwa yang terbaik adalah kita, negara lain harus contoh kita," ucap Purbaya.

Ia juga menambahkan bahwa banyak negara Eropa yang defisitnya sudah di atas 3 persen. Rasio utang terhadap PDB mereka juga besar. Sebagai contoh, Jerman memiliki rasio utang di atas 60 persen. Amerika Serikat mencapai 100 persen, dan Jepang bahkan mencapai 275 persen.

"Tetapi kita yang diincar, saya nggak tahu kenapa, mungkin kita masih kurang doa," tambah Purbaya.

Meskipun ada kekhawatiran, Purbaya memastikan bahwa defisit APBN tahun 2026 masih bisa dijaga. Hal ini terjadi di tengah kenaikan beban pembayaran subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik. Defisit dipastikan tetap berada di bawah 3 persen.

"Kita desain sekarang mendekati 2,9% atau lebih rendah lagi. Saya yakin kalau harga minyak dunia turun ke bawah ke level yang sebelumnya, di kuartal II-2026 defisit kita akan bisa turun ke bawah 2,9%," imbuh Purbaya.

Pernyataan Menteri Keuangan ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi. Meskipun banyak negara lain memiliki defisit yang lebih besar, Indonesia memilih untuk tetap berhati-hati. Hal ini dilakukan agar kepercayaan dari lembaga pemeringkat dunia tetap terjaga.

defisitAPBNrasio utangPDBdisiplin fiskallembaga pemeringkatPurbaya Yudhi Sadewa

Komentar

Memuat komentar...