Menteri Pertanian Turun Tangan Atasi Harga Cabai dan Ayam yang Bermasalah
Gambar atau konten salah?
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman angkat bicara soal dua masalah pangan yang lagi ramai: harga cabai yang melonjak tinggi dan harga ayam hidup yang justru jatuh di tingkat peternak. Dua situasi ini terjadi bersamaan, dan menurut Amran, ini tidak boleh dibiarkan berlarut.
Harga cabai di beberapa daerah sudah menembus angka Rp 100.000 per kilogram. Sementara di sisi lain, harga ayam hidup di kandang justru anjlok. Ironisnya, harga daging ayam di pasar tetap tinggi. Amran bilang dia sudah memerintahkan dua anak buahnya untuk turun langsung ke lapangan. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, Hermawan, diminta mengecek harga cabai. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, juga dapat instruksi serupa untuk urusan ayam.
"Pasti saya minta nanti Deputi stabilisasi untuk turun cek. Saya minta turun Dirjen. Langsung saya telepon Dirjen," kata Amran di Kementerian Pertanian, Jakarta, pada Senin, 05 Oktober 2026.
Menurut Amran, yang tidak masuk akal adalah ketika harga di tingkat konsumen melonjak, tapi petani atau peternak justru merugi. "Nanti saya rapat dulu, saya tindaklanjuti. Cabai, ayam jangan sampai harga di tingkat konsumen tinggi, padahal tingkat produsen rendah," tegasnya.
Data dari Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) menunjukkan betapa beratnya situasi di lapangan. Harga ayam hidup di kandang saat ini cuma berkisar Rp 21.000 sampai Rp 22.000 per kilogram. Padahal, biaya produksi atau Harga Pokok Penjualan (HPP) ayam broiler sudah berada di angka Rp 23.000 hingga Rp 23.500 per kilogram. Artinya, setiap kilogram ayam yang dijual, peternak menanggung kerugian.
Asep Saepudin dari Permindo menggambarkan situasi ini makin menyulitkan peternak. Biaya produksi terus naik sejak awal 2026. "Kondisinya sekarang harga pakan rata-rata sudah di atas Rp 9.400/kg untuk starter umur 7-21 hari. Normalnya sekitar Rp 8.000-8.500/kg. Harga live bird sudah turun per hari ini Rp 21.000-22.000/kg di kandang ya. HPP kami sudah Rp 23.000/kg. Pusing kami," kata Asep pada Sabtu, 03 Oktober 2026.
Untuk cabai, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai rawit secara nasional pada minggu pertama Oktober 2026 mencapai Rp 86.846 per kilogram. Angka ini naik 10,21% dibandingkan bulan sebelumnya. Harga itu sudah jauh melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen yang ditetapkan sebesar Rp 57.000 per kilogram. Kenaikan harga cabai rawit terjadi di 71,94% kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Cabai merah juga tidak kalah parah. Harganya mencapai Rp 63.913 per kilogram pada periode yang sama, naik 11,38% dari September 2026. HAP konsumen untuk cabai merah adalah Rp 55.000 per kilogram. Kenaikan harga cabai merah tercatat di 81,11% kabupaten dan kota.
Bahkan di beberapa daerah, harga cabai benar-benar di luar nalar. Di Kabupaten Landak, harga tembus Rp 120.000 per kilogram. Kabupaten Biak Numfor juga tinggi, Rp 108.000 per kilogram. Kepulauan Yapen sama, Rp 120.000 per kilogram.
Dua masalah ini sebenarnya punya akar yang berbeda. Harga ayam anjlok karena biaya pakan naik sementara harga jual tidak bisa mengimbangi. Sementara cabai melonjak karena pasokan terganggu di banyak daerah. Pemerintah kini harus mencari solusi yang tepat untuk masing-masing, tanpa membuat salah satu pihak dirugikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Investor Pasar Modal Tembus 32,17 Juta di September 2026
Utang Pinjol Tembus Rp106 Triliun, OJK Pantau Risiko Macet
OJK Jatuhkan Denda Rp112,79 Miliar ke 136 Pihak Pasar Modal
OJK Perluas Izin Usaha Dua Perusahaan Gadai ke Nasional
Bank Mayapada Masuk Fortune Indonesia 100:2026
Aset Asuransi Indonesia Capai Rp1.200 Triliun per Agustus 2026
