Mercedes-Benz Ancam Tutup Dua Pabrik di Jerman

Bayu K. · 2 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Mercedes-Benz Ancam Tutup Dua Pabrik di Jerman

Gambar atau konten salah?

Pabrikan mobil mewah asal Jerman, Mercedes-Benz, tengah menghadapi dilema besar. Biaya produksi di negara asalnya sendiri dinilai sudah tidak kompetitif lagi jika dibandingkan dengan standar global. Kondisi ini membuat perusahaan membuka kemungkinan untuk menutup dua fasilitas produksinya di Jerman.

Akar permasalahannya terletak pada tingginya upah tenaga kerja. Meskipun demikian, perusahaan sebenarnya ingin tetap mempertahankan seluruh lini produksi mereka di Jerman sebagai bentuk loyalitas terhadap negara asal. Namun, keinginan ini terbentur oleh kenyataan pahit soal daya saing.

Dalam pernyataan resmi yang dikirimkan melalui email kepada Reuters pada Jumat, 25 September 2026, Mercedes-Benz menuliskan bahwa mereka ingin mempertahankan pabrik dan lapangan kerja di Jerman. Akan tetapi, untuk mewujudkannya, mereka membutuhkan kondisi kerangka kerja yang bisa meningkatkan produktivitas di negara tersebut. Tanpa itu, semuanya menjadi sulit.

Kepala produksi Mercedes, Michael Schiebe, sudah angkat bicara di depan para pekerja. Pada Senin, 21 September lalu, di pabrik Sindelfingen yang sudah berusia 111 tahun, ia menyampaikan pesan yang tegas. Penutupan pabrik benar-benar akan terjadi jika ongkos produksi tidak segera ditekan.

"Tujuan utama kami adalah mempertahankan semua lokasi kami di Jerman. Hal ini membutuhkan komitmen bersama terhadap langkah-langkah penghematan biaya," ujar Schiebe. Ia kemudian menambahkan, "Jika kita tidak mampu melakukan ini, kita harus menutup satu pabrik perakitan Jerman dan satu pabrik komponen mesin Jerman."

Pernyataan ini jelas bukan sekadar gertakan. Namun, hingga saat ini, Mercedes-Benz belum menyebutkan pabrik mana yang terancam tutup. Ketidakjelasan ini justru memicu reaksi keras dari serikat buruh. Mereka menilai pernyataan perusahaan sebagai sebuah 'ancaman' belaka.

Seorang juru bicara dewan pekerja umum Mercedes, yang merupakan badan perwakilan karyawan pusat perusahaan, angkat bicara. "Mengancam penutupan pabrik bukanlah cara untuk membentuk masa depan. Siapa pun yang menggunakan ancaman seperti itu harus siap menghadapi perlawanan tegas kami," katanya dengan nada keras. Ia juga menambahkan, "Jika dewan manajemen yakin dapat menekan karyawan dengan ultimatum 'konsesi atau penutupan pabrik,' jawaban kami adalah 'tidak akan terjadi selama kami masih menjabat'."

Jadi, situasinya kini memanas. Di satu sisi, perusahaan merasa terdesak oleh biaya produksi yang tinggi. Di sisi lain, serikat buruh siap bertempur melawan apa yang mereka anggap sebagai ancaman. Pertarungan antara efisiensi bisnis dan perlindungan tenaga kerja ini masih jauh dari kata selesai. Intinya, Mercedes-Benz ingin tetap memproduksi di Jerman, tetapi dengan syarat biaya produksi harus bisa bersaing. Sementara para pekerja menolak tawaran yang mereka nilai sebagai pemerasan.

Mercedes-Benzbiaya produksiJermanpenutupan pabriktenaga kerjaserikat buruhdaya saing

Komentar

Memuat komentar...