Merjosari, Malang: Pusat Sejarah 8 Abad dan Arkeologi

Wulan M. · 3 min baca · 24 hari lalu · 57 dibaca
Bisik.id
Merjosari, Malang: Pusat Sejarah 8 Abad dan Arkeologi

Gambar atau konten salah?

Di balik gemerlap kota Malang, tersembunyi wilayah yang sudah berusia lebih dari delapan abad. Merjosari, sebuah kelurahan di Kecamatan Lowokwaru, pernah menjadi bagian penting dari tiga kerajaan besar: Singosari, Kediri, dan Mataram Islam.

Sejak tahun 1987, Merjosari tidak lagi disebut desa. Sebelumnya, wilayah ini berstatus Desa Merjosari di bawah Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Perubahan status administratif ini tidak menghapus jejak sejarahnya yang masih terasa di setiap batu bata, sungai, dan cerita rakyat.

Menurut para ahli purbakala, nama Merjosari berasal dari kata “amrtajayasri.” “Arti Merjosari terkait kata amrtajayasri. Dalam perkembangannya, kata amerta berubah menjadi merto, lalu merti hingga menjadi metro-yang merupakan nama sungai yang mengalir di Desa Merjosari hingga saat ini,” ungkap Suwardono. Kata tersebut menandakan kejayaan dan kemuliaan yang abadi, seolah sungai Metro menjadi nadi suci bagi wilayah ini.

Prasasti Kertajaya, atau Prasasti Merjosari II, ditemukan di dekat kediaman Djojoredjo. Prasasti itu menuliskan angka 1138 Saka, yang terjemah menjadi 3 Mei 1216. Tanggal ini dianggap hari sakral, tempat masyarakat melakukan ritual Wanaprasta atau beribadah di wihara. Merjosari diyakini menjadi lokasi wihara pertapaan Raja Kertajaya, yang dibangun oleh Rakryan Manguri dengan nama “Wihara Pertapaan Sang Apanji Durggati Rakryan Juru Baba Kaki Ganjar.”

Keberadaan wihara ini dibuktikan oleh lukisan Garudamukha sebagai segel resmi kerajaan dan penyebutan nama “Kr-t-ja-ya.” Suwardono memecahkan kode prasasti tersebut dengan referensi buku sistem penanggalan karya Louis Charles Damais.

Seiring berjalannya waktu, Merjosari tetap dipelihara sebagai tanah suci. Pemerintah dan warga setempat menjalankan tradisi Bersih Desa, yang culminates dalam doa bersama di makam Eyang Djojo Tirto Rodjo, seorang prajurit legendaris dari Kerajaan Mataram Islam. Tradisi ini menegaskan hubungan antara sejarah kuno dan penghormatan masa kini.

Arkeologi Merjosari juga menampakkan 12 titik lokasi benda cagar budaya. Berikut beberapa di antaranya:

  • 10 Batu Umpak dan fragmen bata di Dukuh Candri-Jl. Mertojoyo Barat (Barat Masjid Al Ikhlas).
  • Arca Vyala Singa dan fragmen pondasi bata di Dukuh Sempol-Jl. Mertojoyo Barat Dalam (Perum Dinoyo Residence).
  • 2 Batu Makara di Dukuh Gandul atau Pekarangan Pak Legimin-Jl. Joyo Pranoto Merjosari.
  • Tempat Yoni berbentuk kubus polos di perempatan jalan depan kantor kelurahan Merjosari.
  • Tempat Yoni di belakang pos kamling Jl. Joyo Utomo Gg. IX atau sawah Mbok Ratemo.
  • Arca Buddha perunggu di Kampus UNIGA-Jl. Mertojoyo Blok L.
  • Situs Pasidikan dengan fragmen pondasi bata dan arca belum jadi di Jl. Joyo Suko Gg. II.
  • Situs Urung-Urung (goa bawah tanah) di sisi timur Jl. Joyo Suko dan di Jl. Joyo Tamansari I.
  • Tempat Yoni di Sawah Kasin-Merjosari dan tempat Batu Lumpang di Sawah Kasin-Merjosari.

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa Merjosari adalah harta karun arkeologi yang nyata di tengah hiruk-pikuk kota Malang. Setiap batu, arca, dan prasasti membawa cerita tentang masa lalu yang belum terungkap sepenuhnya.

Untuk yang ingin melihat lebih jauh, ada video yang menampilkan jejak sejarah Persia yang mengganti nama menjadi Iran. Video Jejak Sejarah Persia Ganti Nama Jadi Iran.

Merjosari, dengan sejarahnya yang panjang, tetap menjadi saksi bisu kejayaan Nusantara. Dari nama yang bermula dari kata “amrtajayasri” hingga prasasti 1216, wilayah ini menyimpan kisah tentang kerajaan, wihara, dan arkeologi. Meskipun kini menjadi bagian kota, aura spiritualnya masih terasa, menjaga hubungan antara masa lalu dan masa kini.

MerjosariMalangSingosariMataram IslamPrasasti KertajayaWiharaArkeologi

Komentar

Memuat komentar...