Pantai Lakban: Wisata dan Sejarah Tambang Belanda

Agus P. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Pantai Lakban: Wisata dan Sejarah Tambang Belanda

Gambar atau konten salah?

Di Sulawesi Utara, ada sebuah pantai yang tenang dan punya cerita sejarah panjang. Namanya Pantai Lakban, berlokasi di Desa Ratatotok Timur, Kecamatan Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara. Tempat ini sering disebut sebagai destinasi wisata yang sangat instagramable.

Berbeda dari pantai kebanyakan, Pantai Lakban punya permukaan yang cukup landai dan datar. Area landainya lebar. Cocok untuk bermain voli atau olahraga pantai lainnya. Sepanjang garis pantai, terbentang pasir putih. Air lautnya jernih dan tenang. Ombaknya hampir tidak ada. Arusnya pun sangat kalem. Banyak yang menyebutnya sebagai lokasi wisata laut paling aman.

Namun yang menarik, pantai ini tidak cuma soal pemandangan. Ada peninggalan sejarah di sana: sebuah mesin penghancur bijih bekas peninggalan Belanda. Mesin itu dipindahkan dari lokasi tambang ke tepi Pantai Lakban oleh PT Newmont Minahasa Raya (NMR).

Ceritanya begini. Pada tahun 1900, Belanda mendatangkan 20 mesin penumbuk bijih buatan Inggris. Dari pantai, mesin-mesin itu diangkut ke lokasi tambang menggunakan lori, semacam alat angkut rel. Sepuluh tahun kemudian, tahun 1910, jumlah mesin penumbuk bijih ditambah menjadi 60 unit.

Tambang emas ini sering disebut sebagai Maskapai Belanda. Catatannya, antara tahun 1900 dan 1921, total ada 5.060 kilogram emas yang berhasil ditambang.

Sebelum perusahaan itu datang, banyak warga setempat yang menambang di sekitar gunung dan pinggiran sungai secara tradisional. Kehadiran Maskapai Belanda mengubah segalanya. Sistem berubah. Para pemilik tambang kecil berubah menjadi pekerja. Ketika aktivitas pertambangan berakhir, banyak dari mereka pindah. Mereka turun dari kawasan pegunungan sekitar tambang menuju daerah pantai yang lebih rendah.

Dari perpindahan itu, muncullah sebuah desa. Namanya Ratatotok. Rata berarti datar atau landai. Totok artinya daerah tempat mereka biasa melakukan pertambangan. Jadi Ratatotok secara harfiah berarti daerah datar tempat pertambangan.

Untuk mencapai Pantai Lakban dari Kota Manado, pengunjung perlu menempuh perjalanan mobil sekitar 4 hingga 5 jam. Di lokasi, sudah tersedia beberapa fasilitas: tempat parkir, warung makan, toilet, dan gazebo. Tiket masuknya terbilang murah. Rp 3.000 per orang atau per sepeda motor. Untuk mobil, tarifnya Rp 5.000.

Pantai Lakban bukan sekadar tempat berfoto. Ia menyimpan lapisan sejarah pertambangan dan perpindahan penduduk yang membentuk desa di sekitarnya. Dari mesin penghancur bijih peninggalan Belanda hingga asal-usul nama Ratatotok, semuanya bisa ditemukan di satu tempat yang tenang dan berpasir putih ini.

Pantai LakbanRatatotokMinahasa Tenggaramesin penghancur bijihpeninggalan Belandatambang emaswisata sejarah

Komentar

Memuat komentar...