Midang Morge Siwe: Tradisi Kayu Agung Jadi Warisan Budaya

Sigit W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 69 dibaca
Bisik.id
Midang Morge Siwe: Tradisi Kayu Agung Jadi Warisan Budaya

Gambar atau konten salah?

Midang Morge Siwe kembali digelar di Ogan Komering Ilir (OKI) pada 23 Maret 2026, menandai bagian dari perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah. Acara ini menampilkan perantau yang pulang kampung dan warga setempat berkumpul di pelataran Pantai Love, Sungai Sungai Komering di Kayu Agung. Tradisi ini menjadi momen kebersamaan, sekaligus memperlihatkan warisan budaya yang masih hidup di tengah modernitas.

Tradisi Midang Morge Siwe merupakan arak-arakan khas masyarakat Kayu Agung. Kata “Midang” berarti berjalan kaki atau berarak-arakan memakai pakaian adat, sedangkan “Morge Siwe” merujuk pada sembilan marga atau dusun asli pembentuk wilayah Kayu Agung: Kayu Agung Asli, Perigi, Kutaraya, Kedaton, Jua‑Jua, Sidakersa, Mangunjaya, Paku, dan Sukadana. Pada pelaksanaannya, pemuda‑pemudi mengenakan busana adat perkawinan Mabang Handak dan menuruti iringan musik tradisional tanjidor sambil mengelilingi kota, khususnya sepanjang Sungai Komering.

Tradisi ini biasanya digelar pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri, yang dikenal sebagai Midang Bebuke. Pada kesempatan ini, Sekda Sumsel Edward Candra hadir dan menyatakan: “Midang Morge Siwe merupakan warisan budaya tak benda Indonesia. Budaya leluhur ini terus dilestarikan hingga kini.” Ia menambahkan, “Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia. Ini berkat kesungguhan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten OKI,” katanya.

Edward juga menegaskan bahwa Provinsi Sumatera Selatan memberikan apresiasi kepada Pemkab OKI dan masyarakat yang terus mempertahankan tradisi ini. “Di dalamnya ada nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur,” tambahnya. Ia mendorong pemerintah kabupaten untuk mengembangkan pelaksanaan Midang Morge Siwe dengan tampilan yang lebih menarik, kreatif, dan inovatif guna menarik wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara. “Kami mendorong agar kegiatan ini dikemas lebih menarik dan inovatif sehingga mampu menarik wisatawan luar kota maupun mancanegara. Ke depan, ini bisa menjadi agenda nasional bahkan internasional,” katanya.

Edward menilai tradisi tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong sektor pariwisata, khususnya ekonomi kreatif di daerah. “Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan di bidang pariwisata, terutama ekonomi kreatif,” ujarnya. Ia menutup sambutan dengan pesan keamanan: “Selamat menggelar Midang Morge Siwe. Pesan kami, tetap jaga ketertiban dan keselamatan dalam merayakan,” sambungnya.

Di sisi lain, Bupati OKI Muchendi Mahzareki menyatakan bahwa Midang Morge Siwe merupakan warisan budaya tak benda yang menjadi kebanggaan masyarakat Kayu Agung dan telah diakui pemerintah. “Kita sambut adat ini dengan kebanggaan karena sudah diakui pemerintah sebagai warisan budaya tak benda masyarakat Kayuagung. Dalam acara ini tidak hanya pejabat yang hadir, tetapi juga banyak warga OKI yang pulang kampung untuk menyaksikan tradisi ini sehingga menimbulkan nostalgia,” ujarnya. Ia mengajak masyarakat untuk menikmati kemeriahan tradisi tersebut dengan tertib. “Mudah‑mudahan semarak Lebaran 2026 ini menjadi lebih berkesan dan tetap tertib. Kita jaga bersama. Selamat Lebaran dan selamat menyaksikan Midang Morge Siwe,” tukasnya.

Perayaan ini menegaskan kembali nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur yang terus dijaga. Tradisi Midang Morge Siwe tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga potensi pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Ogan Komering Ilir. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, harapannya tradisi ini dapat tumbuh menjadi agenda nasional dan bahkan internasional, sekaligus memperkaya identitas budaya daerah.

Midang Morge SiweOgan Komering IlirKayu AgungIdul Fitri 1447 Hijriahwarisan budaya tak bendapariwisataekonomi kreatif

Komentar

Memuat komentar...