MSCI Peringkatkan RI, Rupiah Melemah dan Modal Asing Keluar

Ani R. · 2 min baca · 1 jam lalu · 19 dibaca
Bisik.id
MSCI Peringkatkan RI, Rupiah Melemah dan Modal Asing Keluar

Gambar atau konten salah?

Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya peningkatan arus keluar modal asing, atau yang biasa disebut outflow, setelah MSCI mengumumkan kemungkinan penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pengumuman ini juga sempat membuat nilai tukar rupiah melemah selama dua hari berturut-turut.

Gubernur BI, Destry Damayanti, mengakui bahwa isu MSCI ini menjadi perhatian serius bagi pihaknya. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan BI, memang tercatat ada outflow, namun jumlahnya relatif kecil dan terbatas. Hal ini tidak lepas dari kondisi pasar regional dan global yang juga sedang tidak terlalu baik.

"Kami masih melihat bahwa tekanannya masih relatif dalam batas yang cukup normal. Karena pada saat yang bersamaan juga regional kondisinya lagi gak terlalu baik ya. Tapi kami terus mewaspadai apa yang terjadi juga di capital market kita. Dan tentunya kami memonitor outflow yang terjadi sepanjang pergerakan yang terjadi setelah MSCI," jelas Destry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) di kantor BI, Jakarta, Rabu 21 Oktober 2026.

Saat ini, BI tengah berupaya mendorong agar aliran modal asing kembali masuk, atau inflow, melalui kebijakan yang lebih terarah. Destry menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi prioritas utama.

"Jadi kita tahu outflow memang terjadi. Artinya apa? Kalau outflow terjadi kan kita harus berusaha untuk menge-track lagi inflownya. Outflow itu masuk menjadi inflow gitu. Nah jadi kami kemarin juga melihat beberapa concern yang pertama tentu stabilitas itu tetap menjadi prioritas kami," tegasnya.

Destry menambahkan, pelemahan rupiah yang terjadi dipengaruhi oleh sentimen global. Beberapa faktor yang disebutnya adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin ketat, serta sentimen negatif investor asing di pasar saham Indonesia.

Berdasarkan catatan BI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah dalam beberapa waktu terakhir. Pada 20 Oktober 2026, mata uang Garuda berada di level Rp 17.985 per dolar AS. Angka ini melemah 0,61% jika dibandingkan dengan posisi akhir September 2026.

"Nilai tukar rupiah pada 20 Oktober 2026 tercatat berada di level Rp 17.985 per dolar AS atau melemah 0,61% point-to-point, 0,61% point-to-point dibandingkan dengan akhir September 2026. Perkembangan ini dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kebijakan moneter di Amerika Serikat yang mengetat, serta sentimen investor asing di pasar saham," jelasnya.

Pelemahan rupiah dan outflow modal asing ini menunjukkan bagaimana pasar keuangan Indonesia masih rentan terhadap gejolak global. Meski BI mengklaim tekanannya masih dalam batas normal, pengumuman MSCI menjadi pengingat bahwa persepsi investor internasional bisa berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional.

outflow MSCIrupiah melemahmodal asingstabilitas nilai tukarsentimen global

Komentar

Memuat komentar...