Muharram: Hari Taubat Nabi Adam Mendorong Kesempurnaan
Gambar atau konten salah?
Muharram merupakan bulan yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Bulan ini dianggap sebagai awal tahun Hijriah dan menyimpan banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi.
Salah satu peristiwa yang sering dikaitkan dengan Muharram adalah kisah taubat Nabi Adam AS yang diterima Allah setelah melakukan kesalahan karena tipu daya Iblis.
Hadis yang diriwayatkan oleh Imam At‑Tirmidzi menyebutkan bahwa pada bulan Muharram terdapat hari di mana Allah menerima taubat bagi suatu kaum dan bagi kaum lainnya.
إِنْ كُنْتَ صَـائِمًا شَهْرًا بَعْدَ رَمَضَانَ فَصُمْ الْمُحَرَّمَ، فَإنَّ فِيْهِ يَوْمًا تَابَ اللهُ فِيْهِ عَلَى قَوْمٍ، وَيَتُوْبُ فِيْهِ عَلَى آخَرِيْن
Artinya: Bila seseorang puasa sebulan setelah bulan Ramadhan, maka puasalah di bulan Muharram. Karena di bulan itu, hari‑hari ketika Allah Swt menerima taubat suatu kaum, dan menerima taubat kaum‑kaum yang lain. (HR At‑Tirmidzi)
Ibnu Rajab al‑Hambali mengutip riwayat dari Ubaid bin Umair yang mengaitkan hari Asyura dengan diterimanya taubat Nabi Adam AS.
صحَّ مِنْ حَدِيث أبي إسحاق عن الأسْوَد بن يَزيد أَنَّهُ قال: "سَألْتُ عُبَيد بن عُمَير عَنْ صِيَام يَوْمَ عَاشُورَاء؟ فقال: الْمُحَرَّم شَهْرُ الله الْأصَمّ فِيْهِ تيب عَلَى آدم عليه السلام فَإنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ لَا يَمُرَّ بِك إلّا صُمْته فَافْعَلْ"
Artinya: Ibnu Rajab telah mensahihkan sebuah hadis dari Abu Ishaq dari al‑Aswad bin Yazid bahwasanya ia berkata: Aku bertanya kepada ubaid bin Umair perihal puasa di hari 'Asyura, ia menjawab: Muharram adalah bulan Allah yang penting (al‑ashamm). Di dalamnya Nabi Adam diterima taubatnya. Bila kamu mampu untuk tidak melewatinya tanpa puasa, maka puasalah. (Ibnu Rajab al‑Hambali, Lathaiful Ma'arif, tanpa tahun: 54)
Kisah Adam dimulai ketika Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Karena kesombongannya, Iblis diusir dari surga dan berjanji akan menggoda Adam dan keturunannya.
Iblis mencari cara agar Adam dan Hawa melanggar perintah Allah. Ia menjanjikan bahwa buah dari pohon yang dilarang dapat membuat mereka menjadi malaikat atau hidup kekal di surga.
Adam dan Hawa tergoda dan memakan buah tersebut. Allah mengabadikan peristiwa itu dalam firman‑Nya.
دَلّٰىهُمَا بِغُرُورٍۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْاٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَنَّةِۗ وَنَادٰىهُمَا رَبُّهُمَآ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَاَقُلْ لَّكُمَآ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya: Ia (setan) menjerumuskan keduanya dengan tipu daya. Maka, ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah pada keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun‑daun (di) surga. Tuhan mereka menyeru mereka, "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?".
Setelah menyadari kesalahannya, Adam dan Hawa tidak mencari pembenaran. Mereka mengakui kesalahan dan memohon ampun kepada Allah.
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Artinya: Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang‑orang yang rugi".
Abdul Karim Zaidan menulis dalam al‑Mustafâd min Qasâshil Qur'ânî (1998, Juz I, h. 24) bahwa taubat Nabi Adam AS dan Hawa diterima Allah, namun mereka tetap diturunkan ke bumi sebagai konsekuensi pelanggaran.
Setelah turun ke bumi, Nabi Adam AS dan Hawa melakukan tawaf di sekitar Ka'bah selama tujuh hari dan melaksanakan salat dua rakaat.
اللّهُمّ إِنّكَ تَعْلَمُ سِرِّيْ وَعَلَانِيَتِيْ فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِيْ وَتَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَأَعْطِنِيْ سُؤَلِيْ وَتَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذَنْبِيْ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِيْ وَيَقِيْنًا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيْبُنِيْ إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي وَأَرْضِنِيْ بِمَا قَسَّمْتَ لِي
Artinya: Ya Allah, sungguh Engkau tahu apa yang tersembunyi dan tampak dariku, karena itu terimalah penyesalanku. Engkau tahu kebutuhanku, maka kabulkanlah permintaanku. Engkau tahu apa yang ada dalam diriku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu iman yang menyentuh kalbuku dan keyakinan yang benar sehingga aku tahu bahwa tidak akan menimpaku kecuali telah Engkau tetapkan atasku. Ya Allah berikanlah rasa rela terhadap apa yang Engkau bagi untuk diriku.
Kisah ini mengajarkan bahwa setiap manusia dapat melakukan kesalahan, bahkan nabi sekalipun. Yang penting adalah bagaimana mereka menyikapi kesalahan tersebut.
Dengan Adam yang kembali kepada Allah setelah berbuat salah, Muharram menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbaiki diri dan membuka lembaran baru. Setiap Muslim memiliki kesempatan yang sama untuk bertaubat dan berharap pada ampunan Allah.
Kesaksian taubat Nabi Adam AS pada bulan Muharram menegaskan bahwa Allah menerima taubat setiap orang yang sungguh‑sungguh menyesali kesalahannya, dan memberi kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperbaiki diri.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Shio Tikus, Kerbau, Kelinci, Kuda: Benturan Energi 15 Juni
Alissa Wahid Diusulkan Jadi Wakil Ketua PBNU 2026‑2031
Lampu Lalu Lintas Padam, Surabaya Gelar Kemacetan Hari
NU Lahir Bersama Tongkat dan Tasbih, Sejarah 1926 Indonesia
Matchday Kedua Piala Dunia 2026: Jadwal dan Persaingan Panas
Sembilan Lampu Lalu Lintas Surabaya Mati, Kemacetan 10 Menit
Berita Terbaru
Argentina Bawa Asado dan Yerba Mate ke Piala Dunia 2026
Melbourne Jadi Pusat Kopi Sederhana dan Seni Latte
Jerman Kalahkan Curacao 7-1, Pimpin Grup E Piala Dunia 2026
Marquez Tetap Tenang, Menunggu MotoGP Ceko 2026 Sabar
SKKL Rising 8 Selesai, Triasmitra Target Rp 1,01 Triliun 2026
BGN Sesuaikan Insentif Dapur MBG Berdasarkan Penerima