Omzet Pedagang Pasar Pondok Labu Anjlok 80%

Ani R. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Omzet Pedagang Pasar Pondok Labu Anjlok 80%

Gambar atau konten salah?

Jakarta — Pemandangan sepi di sejumlah pasar tradisional Jakarta kini bukan lagi sekadar cerita. Salah satu yang paling terasa adalah di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan. Jumlah pengunjung di sana bisa dihitung dengan jari. Akibatnya, omzet para pedagang merosot tajam.

Farid, seorang pedagang kosmetik dan produk kecantikan di pasar tersebut, mengatakan penurunan jumlah pembeli sebenarnya sudah mulai terasa sejak 2019. Tapi kondisi paling parah baru terjadi dalam beberapa tahun belakangan.

"Kondisi pasar ya sudah lumayan parah. Parahnya dari sebelum pandemi sudah terasa. Malah kalau dari waktu pandemi, kita kan disuruh tutup ya, jadi kita kucing-kucingan buka toko, itu masih dapat malah," ujar Farid pada Senin, 21 September 2026.

"Sekarang sudah terbuka kayak gini, malah nggak ada yang datang sama sekali. Lihat saja ini dari tadi nggak ada yang lewat, paling cuma pedagang-pedagang lain yang lewat untuk ke belakang," jelasnya lagi. Kios Farid berada di bagian dalam lantai dasar pasar.

Dulu, saat pasar masih ramai, ia bisa membawa pulang omzet setidaknya Rp 5 juta per hari. Kini, dalam sehari ia belum tentu bisa mengumpulkan omzet hingga Rp 1 juta. Artinya, secara keseluruhan omzet dagangan Farid telah anjlok hingga 80% atau lebih jika total pendapatannya hari itu di bawah Rp 1 juta.

"Saya kalau mau ngomong dulu kalau bilang persenan ya ada lah 80% hilang. Dulu saya sehari Rp 5 juta ke atas. Sekarang nyari Rp 1 juta itu susah," ujarnya.

Kondisi ini menjadi beban tersendiri. Untuk bertahan dari sepinya pelanggan, Farid harus beberapa kali pindah lokasi toko di pasar demi mengurangi biaya sewa.

"Ya kita ambil contohnya posisi hook 2x2 ya, saya Rp 25 juta sanggup saya bayar setahun. Sekarang Rp 10 juta saya nggak sanggup bayar. Saya udah sering-sering pindah. Paling dari rute saya yang tadi ambil posisi harga turun, turun, turun, ini yang paling terendah," jelas Farid.

Bukan hanya soal jumlah pembeli yang menurun. Farid juga memangkas besaran keuntungan dari setiap produk yang dijual. Ia menekan harga agar tetap murah demi menarik pelanggan.

"Jadi persennya juga kita ambil untung, kita ngambil persenan juga turun. Dulu saya ini lumayan kan persennya, kita bisa ambil misalnya 30% atau 40%. Bahkan ada produk yang untung 100%, dan itu laku. Sekarang 15% ke bawah lah, kadang masih di tawar ya kasih lah," ucapnya.

"Sekarang harga modal Rp 10.000, kadang ditawar Rp 11.000 kita kasih saja daripada nggak dibeli. Jadi untung cuma Rp 1.000, berarti 10% kan. Kalau dulu bisa kita taruh harga Rp 13.000," sambung Farid.

Kondisi serupa juga dialami pedagang plastik dan tikar yang telah berjualan di kawasan Pasar Pondok Labu sejak 1993. Ia enggan disebutkan namanya. Ia mengakui jumlah pengunjung pasar saat ini tidak menentu dan cenderung sepi.

Kondisi ini sudah terjadi sejak sebelum pandemi. Namun penurunan paling parah baru terjadi dalam dua tahun terakhir. Pasar sekarang jauh lebih sepi dibandingkan saat pandemi Covid-19.

"Ya gini, kadang sepi kadang ramai. Jadi nggak tentu. Nah tahun ini sama tahun kemarin lah, agak-agak sepi. Omzetnya menurun lah, menurun drastis gitu," terangnya.

"habis-habis Corona 2020-2021 masih mending, 2021-2022 masih mending, 2023 masih mending, paling ini yang 2024, 2025 sama sekarang ini 2026. 2024 ya sudah turun juga tapi ya nggak parah kayak sekarang, masih mending. 2026 ini yang paling parah," katanya lagi.

Saat ditanya soal besaran penurunan pendapatan harian, ia membenarkan bahwa omzet tokonya juga sudah turun 70 hingga 80%.

"Penurunannya sih kalau dipikir-pikir ya ini memang jatuh, parah juga penurunannya ya. Misalnya dari biasanya omsetnya misal ya sekitar Rp 1,5 - 2 juta, nah sekarang mah ya payah banget sih memang," tambahnya.

Lesunya aktivitas perdagangan ini berujung pada banyaknya kios dan toko di Pasar Pondok Labu yang terpaksa tutup permanen. Banyak pemilik toko gulung tikar karena tidak sanggup menutup biaya sewa tempat dan beban operasional di tengah pasar yang sepi.

"Sudah banyak toko tutup di sini, ya baru-baru ini sajalah, gara-gara enggak kuat, nggak kuat bayar uang sewanya, sama nggak kuat dia jualannya. Pasar juga sepi-sepi kayak gini kagak kuat juga. Apalagi kalau pakai karyawan gaji orang," jelas pedagang plastik tersebut.

Kondisi Pasar Pondok Labu mencerminkan tantangan yang dihadapi banyak pasar tradisional di Jakarta. Sepinya pengunjung bukan fenomena baru, tapi intensitasnya semakin parah dalam beberapa tahun terakhir. Para pedagang harus beradaptasi dengan menekan harga dan memangkas biaya sewa, namun banyak yang akhirnya menyerah dan menutup tokonya. Tanpa perubahan signifikan, pasar-pasar seperti ini berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai pusat perdagangan rakyat.

pasar tradisionalpedagangomzet menurunsepi pengunjungJakartaPondok Labugulung tikar

Komentar

Memuat komentar...