Omzet Pedagang Pasar Pondok Labu Anjlok 80%, Tabungan Habis

Dani L. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Omzet Pedagang Pasar Pondok Labu Anjlok 80%, Tabungan Habis

Gambar atau konten salah?

Pasar Pondok Labu di Jakarta Selatan, yang dulu ramai dan menjadi tumpuan hidup banyak pedagang, kini mulai sepi. Pelanggan perlahan meninggalkan pasar ini. Akibatnya, omzet para pedagang merosot tajam.

Penurunan omzet yang mencapai lebih dari 80 persen memaksa para pedagang menggunakan sisa tabungan hasil kerja keras di masa lalu. Mereka bahkan harus menumpuk utang hanya untuk bertahan hidup dan menjaga usaha tetap berjalan.

Salah satu pedagang yang merasakan dampaknya adalah Farid, penjual kosmetik dan produk kecantikan. Menurutnya, pasar ini pernah mengalami masa kejayaan pada awal tahun 2000-an hingga menjelang tahun 2019.

Pada masa itu, Farid mengaku bisa membawa pulang sekitar Rp5 juta per hari dari hasil jualannya. Bahkan, di masa jayanya itu, ia mampu membeli rumah dan menyisihkan uang dari hasil dagangannya untuk ditabung.

"Dulu sekitar 2014 atau 2015 saya bisa beli rumah, cash ya. Jadi kita nabung terus beli rumah cash. Untung kita nggak nyicil kan, pinjam uang ke bank buat rumah. Kalau nggak mungkin sudah nggak sanggup bayar saya," kata Farid saat ditemui di lokasi pada Senin, 21 September 2026.

Kondisi sekarang sangat berbeda. Farid mengatakan hasil dagangannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar. Uang yang dimilikinya saat ini bahkan tidak cukup untuk memperbaiki rumah jika ada kerusakan.

"Sekarang rumah sudah bocor, atap bocor gitu kan, nggak bisa kita perbaiki. Karena kan uangnya sudah habis buat kita makan, yang penting kan bisa makan dulu," jelasnya.

Untungnya, saat tokonya masih ramai, Farid tidak banyak menghabiskan uang. Selain untuk membeli rumah dan dua motor yang masih dimilikinya, dulu ia lebih banyak menabung karena sadar bahwa 'roda pasti berputar'.

"Ke pangkas tabungan, ya pasti sudah kemakan. Saya justru bisa bertahan karena masih ada itu. Tapi ya saya juga ada ambil KUR buat putaran modal dagang di sini," tutur Farid.

"Jadi sekarang gimana kita imbangin pakai tabungan sama KUR buat perputaran modal sama bertahan hidup. Kalau nanti memang di sisi sudah nggak kuat, ya mau nggak mau selesaikan KUR-nya dulu baru tutup. Soalnya itu jatuhnya utang kan," paparnya.

Jika kondisi ini terus berlanjut, Farid sudah berpikir untuk menjual sejumlah aset guna menutup kredit usaha ke bank. Langkah ini ia pertimbangkan agar tidak terus terlilit utang jika usahanya benar-benar sudah tidak bisa dipertahankan.

"Sekarang ada rumah saja mau dijual. Kendaraan saya sih motor kalau boleh jual ada dua motor jadul, Supra saya 125, sama Beat yang tahun 2013 atau 2014 itu sampai sekarang belum ganti," pungkas Farid.

Kondisi yang dialami Farid menggambarkan bagaimana perubahan ekonomi dapat memukul pedagang kecil. Tabungan yang dikumpulkan selama bertahun-tahun perlahan habis, dan utang menjadi satu-satunya cara untuk bertahan. Pasar Pondok Labu, yang dulu menjadi sumber penghidupan, kini berubah menjadi medan pertaruhan bagi para pedagang yang berusaha menjaga usaha mereka tetap hidup.

Pasar Pondok LabupedagangomzetpenurunanutangtabunganFarid

Komentar

Memuat komentar...