Orang tua diminta pahami kecemasan anak jelang sekolah

Dian P. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Orang tua diminta pahami kecemasan anak jelang sekolah

Gambar atau konten salah?

Menjelang tahun ajaran baru, orang tua perlu lebih peka terhadap kondisi psikologis anak. Sebagian anak bisa mengalami kecemasan, rasa takut menghadapi lingkungan baru, bahkan menolak berangkat ke sekolah.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Marini, mengatakan kondisi ini sebenarnya wajar. "Secara psikologis kondisi ini sebenarnya wajar karena anak sedang menghadapi perubahan situasi dan harus kembali menyesuaikan diri dengan rutinitas, lingkungan, teman, guru, maupun tuntutan akademik," ujar Marini pada Selasa, 07 Juli 2026.

Langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah menerima dan memahami perasaan anak. Saat anak mengaku takut atau cemas, orang tua sebaiknya tidak langsung mengatakan 'tidak usah takut' atau membandingkannya dengan anak lain. Sebaliknya, Marini mengimbau agar orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan apa yang membuatnya khawatir. Dengan merasa didengarkan dan dipahami, anak akan lebih mudah mengelola kecemasannya.

Marini juga menyarankan orang tua membangun rasa percaya diri anak dengan mengingatkan pengalaman positif yang pernah berhasil dilaluinya. Misalnya saat berhasil beradaptasi dengan guru baru, memiliki teman baru, atau menyelesaikan tugas yang awalnya dianggap sulit. "Hal ini membantu anak memahami bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi baru," tuturnya.

Kecemasan menjelang masuk sekolah bisa muncul dalam berbagai bentuk. "Anak bisa menjadi lebih mudah marah, menangis, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, lebih sering mengeluh sakit perut atau sakit kepala, menjadi lebih manja, hingga berulang kali mengatakan tidak ingin pergi ke sekolah," ungkap Marini. Pada anak yang lebih besar, kecemasan dapat terlihat dari sikap yang lebih pendiam, menarik diri, sulit berkonsentrasi, atau menunjukkan kekhawatiran berlebihan terhadap pelajaran dan prestasi akademik.

Penyebab kecemasan setiap anak pun berbeda-beda. Ada yang khawatir harus beradaptasi dengan lingkungan baru, belum memiliki teman, takut menghadapi guru tertentu, pernah mengalami pengalaman sosial yang tidak menyenangkan, atau takut tidak mampu mengikuti pelajaran. "Oleh karena itu, orang tua perlu mencari tahu terlebih dahulu sumber kecemasan anak dan tidak langsung menyimpulkan bahwa anak malas atau tidak menyukai sekolah," kata Marini.

Beberapa hari sebelum sekolah dimulai, orang tua dapat membantu anak mempersiapkan diri secara bertahap. Mulai dari mengembalikan jadwal tidur dan bangun pagi, menyiapkan perlengkapan sekolah bersama, membicarakan hal-hal menyenangkan yang akan ditemui di sekolah, hingga mengenalkan kembali lingkungan sekolah agar terasa lebih akrab. Orang tua juga disarankan tidak memberikan tekanan berlebihan. Pertanyaan seperti target peringkat di kelas atau tuntutan selalu memperoleh nilai tinggi justru dapat menambah beban psikologis anak. "Fokus awal orang tua sebaiknya adalah membantu anak merasa aman, nyaman, dan siap beradaptasi," beber Marini.

Rasa percaya diri anak tidak tumbuh hanya dari kalimat penyemangat. Anak akan lebih percaya diri ketika merasa didengarkan, dipercaya, diberi kesempatan mencoba, dan didampingi saat menghadapi kesulitan. "Orang tua tidak harus menghilangkan semua rasa takut anak. Yang lebih penting adalah membantu anak memahami bahwa merasa cemas itu boleh dan bahwa ia memiliki kemampuan serta dukungan untuk menghadapinya," imbuhnya.

Marini juga mengingatkan orang tua perlu waspada apabila kecemasan anak berlangsung cukup lama, semakin berat, menimbulkan keluhan fisik berulang, mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari, atau membuat anak terus-menerus menolak pergi ke sekolah. "Orang tua perlu berkomunikasi dengan pihak sekolah dan mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional," pungkasnya.

Intinya, kecemasan anak saat memasuki tahun ajaran baru adalah respons normal terhadap perubahan. Orang tua tidak perlu panik, tetapi perlu mendampingi dengan kesabaran dan komunikasi yang terbuka. Jika kecemasan berlarut-larut dan mengganggu keseharian, mencari bantuan profesional adalah langkah yang bijak.

kecemasan anaktahun ajaran barupsikologi anakdukungan orang tuaadaptasi sekolah

Komentar

Memuat komentar...