Orang tua diminta pahami kecemasan anak jelang sekolah
Gambar atau konten salah?
Menjelang tahun ajaran baru, orang tua perlu lebih peka terhadap kondisi psikologis anak. Sebagian anak bisa mengalami kecemasan, rasa takut menghadapi lingkungan baru, bahkan menolak berangkat ke sekolah.
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Marini, mengatakan kondisi ini sebenarnya wajar. "Secara psikologis kondisi ini sebenarnya wajar karena anak sedang menghadapi perubahan situasi dan harus kembali menyesuaikan diri dengan rutinitas, lingkungan, teman, guru, maupun tuntutan akademik," ujar Marini pada Selasa, 07 Juli 2026.
Langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah menerima dan memahami perasaan anak. Saat anak mengaku takut atau cemas, orang tua sebaiknya tidak langsung mengatakan 'tidak usah takut' atau membandingkannya dengan anak lain. Sebaliknya, Marini mengimbau agar orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan apa yang membuatnya khawatir. Dengan merasa didengarkan dan dipahami, anak akan lebih mudah mengelola kecemasannya.
Marini juga menyarankan orang tua membangun rasa percaya diri anak dengan mengingatkan pengalaman positif yang pernah berhasil dilaluinya. Misalnya saat berhasil beradaptasi dengan guru baru, memiliki teman baru, atau menyelesaikan tugas yang awalnya dianggap sulit. "Hal ini membantu anak memahami bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi baru," tuturnya.
Kecemasan menjelang masuk sekolah bisa muncul dalam berbagai bentuk. "Anak bisa menjadi lebih mudah marah, menangis, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, lebih sering mengeluh sakit perut atau sakit kepala, menjadi lebih manja, hingga berulang kali mengatakan tidak ingin pergi ke sekolah," ungkap Marini. Pada anak yang lebih besar, kecemasan dapat terlihat dari sikap yang lebih pendiam, menarik diri, sulit berkonsentrasi, atau menunjukkan kekhawatiran berlebihan terhadap pelajaran dan prestasi akademik.
Penyebab kecemasan setiap anak pun berbeda-beda. Ada yang khawatir harus beradaptasi dengan lingkungan baru, belum memiliki teman, takut menghadapi guru tertentu, pernah mengalami pengalaman sosial yang tidak menyenangkan, atau takut tidak mampu mengikuti pelajaran. "Oleh karena itu, orang tua perlu mencari tahu terlebih dahulu sumber kecemasan anak dan tidak langsung menyimpulkan bahwa anak malas atau tidak menyukai sekolah," kata Marini.
Beberapa hari sebelum sekolah dimulai, orang tua dapat membantu anak mempersiapkan diri secara bertahap. Mulai dari mengembalikan jadwal tidur dan bangun pagi, menyiapkan perlengkapan sekolah bersama, membicarakan hal-hal menyenangkan yang akan ditemui di sekolah, hingga mengenalkan kembali lingkungan sekolah agar terasa lebih akrab. Orang tua juga disarankan tidak memberikan tekanan berlebihan. Pertanyaan seperti target peringkat di kelas atau tuntutan selalu memperoleh nilai tinggi justru dapat menambah beban psikologis anak. "Fokus awal orang tua sebaiknya adalah membantu anak merasa aman, nyaman, dan siap beradaptasi," beber Marini.
Rasa percaya diri anak tidak tumbuh hanya dari kalimat penyemangat. Anak akan lebih percaya diri ketika merasa didengarkan, dipercaya, diberi kesempatan mencoba, dan didampingi saat menghadapi kesulitan. "Orang tua tidak harus menghilangkan semua rasa takut anak. Yang lebih penting adalah membantu anak memahami bahwa merasa cemas itu boleh dan bahwa ia memiliki kemampuan serta dukungan untuk menghadapinya," imbuhnya.
Marini juga mengingatkan orang tua perlu waspada apabila kecemasan anak berlangsung cukup lama, semakin berat, menimbulkan keluhan fisik berulang, mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari, atau membuat anak terus-menerus menolak pergi ke sekolah. "Orang tua perlu berkomunikasi dengan pihak sekolah dan mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional," pungkasnya.
Intinya, kecemasan anak saat memasuki tahun ajaran baru adalah respons normal terhadap perubahan. Orang tua tidak perlu panik, tetapi perlu mendampingi dengan kesabaran dan komunikasi yang terbuka. Jika kecemasan berlarut-larut dan mengganggu keseharian, mencari bantuan profesional adalah langkah yang bijak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
