Gunung Api Bawah Laut di Papua Nugini Berpotensi Lahirkan Pulau Baru

Maya K. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Gunung Api Bawah Laut di Papua Nugini Berpotensi Lahirkan Pulau Baru

Gambar atau konten salah?

Di kedalaman Laut Bismarck, wilayah perairan yang terletak di utara Papua Nugini dan berbatasan langsung dengan Papua, terjadi sesuatu yang menarik perhatian para peneliti. Sebuah gunung api bawah laut menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup intens sejak awal Mei 2026. Berdasarkan pantauan satelit, aktivitas ini berpotensi menciptakan daratan baru di permukaan bumi.

Fenomena ini tidak biasa. Para ilmuwan mengamatinya menggunakan citra dari dua satelit milik NASA, yaitu Aqua dan Terra. Dari orbitnya yang jauh di atas bumi, satelit-satelit ini menangkap berbagai tanda. Ada semburan uap yang naik ke atmosfer. Warna air laut di sekitar lokasi berubah drastis. Yang paling mencolok, hamparan batu apung vulkanik—disebut pumice rafts—mengapung di permukaan laut di area letusan.

Semuanya bermula pada 8 Mei 2026. Sensor seismik di dasar laut mendeteksi serangkaian gempa kecil. Tidak lama setelah itu, citra satelit mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitas vulkanik di bawah permukaan laut. Area ini sebelumnya belum pernah dipetakan secara detail oleh para peneliti.

Material vulkanik terus dimuntahkan dari dasar laut. Perlahan, tumpukan itu naik ke arah permukaan. Lava dan abu vulkanik mengendap, membentuk struktur yang semakin mendekati muka air. Jika proses ini berlanjut, endapan tersebut bisa muncul ke atas permukaan laut dan menjadi daratan baru. Tapi apakah daratan itu akan bertahan lama? Itu masih menjadi pertanyaan besar.

"Para ilmuwan kini mengamati dengan saksama apakah peristiwa yang berlangsung perlahan ini benar-benar akan menembus permukaan laut dan meninggalkan daratan baru yang permanen," demikian bunyi laporan yang dikutip dari The Daily Galaxy, pada Rabu, 8 Juli 2026.

Fenomena serupa pernah terjadi sebelumnya. Contoh paling terkenal adalah Surtsey di Islandia. Pulau itu muncul akibat letusan gunung api bawah laut pada tahun 1963. Hingga kini, Surtsey masih bertahan. Tapi tidak semua pulau vulkanik senasib. Banyak yang hanya bertahan beberapa bulan atau beberapa tahun. Ombak dan arus laut mengikis material vulkanik yang masih rapuh, dan pulau itu lenyap kembali.

Yang menarik dari letusan kali ini adalah cara pengamatannya. Hampir seluruhnya dilakukan dari luar angkasa. Citra satelit menunjukkan kolom uap yang menjulang hingga beberapa kilometer ke atmosfer. Air laut berubah warna karena tercampur abu dan mineral vulkanik. Batu apung hanyut mengikuti arus laut, menyebar ke berbagai arah.

Para ilmuwan menjelaskan bagaimana batu apung itu terbentuk. Ketika lava yang kaya gas mendingin dengan sangat cepat, hasilnya adalah batu berpori. Batu ini cukup ringan untuk mengapung di permukaan laut. Bisa bertahan berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sebelum akhirnya tenggelam atau terdampar di pantai.

Meskipun peluang lahirnya pulau baru cukup besar, para ahli mengingatkan satu hal. Ombak dan erosi laut bekerja cepat. Material vulkanik yang baru muncul masih sangat rapuh. Gelombang bisa menghancurkannya dalam waktu singkat. Itulah sebabnya banyak pulau hasil letusan bawah laut menghilang tidak lama setelah muncul ke permukaan.

"Para ahli meyakini letusan ini kemungkinan tidak akan berkembang menjadi letusan eksplosif. Namun, mereka masih belum dapat memastikan apakah material vulkanik yang terus menumpuk akan membentuk pulau yang stabil atau justru terkikis oleh gelombang laut," tulis laporan yang sama.

Letusan ini bukan hanya soal kemungkinan munculnya daratan baru. Ada nilai ilmiah yang lebih besar di baliknya. Para ilmuwan mendapatkan kesempatan langka untuk mempelajari proses pembentukan pulau vulkanik sejak awal. Selama ini, proses semacam itu jarang teramati secara langsung. Sebagian besar gunung api bawah laut berada di lokasi terpencil. Sulit dijangkau. Sulit dipantau.

Dengan bantuan satelit, semuanya berubah. Peneliti kini bisa mengikuti perkembangan letusan hampir secara real time. Mereka melihat gempa bawah laut saat terjadi. Mereka menyaksikan semburan material vulkanik. Mereka mengamati kemungkinan lahirnya pulau baru, sedikit demi sedikit, dari waktu ke waktu.

Hasil akhir dari fenomena di Laut Bismarck ini belum bisa dipastikan. Tapi satu hal sudah jelas: permukaan bumi terus berubah. Bahkan saat ini, jauh di bawah laut, alam masih bekerja. Membangun daratan baru. Perlahan. Diam-diam. Sedikit demi sedikit.

Fenomena gunung api bawah laut di Laut Bismarck ini mengingatkan kita bahwa bumi adalah planet yang dinamis. Proses geologis terus berlangsung, kadang tanpa kita sadari. Letusan yang dipantau dari luar angkasa ini memberi gambaran langsung tentang bagaimana daratan baru bisa terbentuk—dan bagaimana laut bisa mengambilnya kembali.

gunung api bawah lautLaut Bismarckaktivitas vulkanikdaratan barubatu apungpulau vulkanikcitra satelitNASA

Komentar

Memuat komentar...