Pancake Jerman di Kemayoran Menjadi Sorotan Kuliner Kota
Gambar atau konten salah?
Jakarta, kota yang selalu berubah, masih menampung berbagai rasa. Di tengah hiruk‑huruk Kemayoran, seorang ekspatriat Jerman menarik perhatian dengan penjualannya yang sederhana namun unik. Ia menjual pancake, makanan khas Jerman, di pinggir jalan. Penjualannya menjadi sorotan karena resep dan harga yang bersahabat.
Pancake yang ia tawarkan dikenal dengan nama Eierkuchen, berbeda dari pancake Amerika. Adonannya terbuat dari telur, tepung, susu, mentega, baking powder, gula, dan garam. Setelah dimasak tipis menyerupai crepes, pelanggan bisa memilih topping seperti cokelat, keju, atau buah. Harga mulai Rp10 ribuan per porsi. Dengan rasa yang menarik, ia sudah berhasil menjual lebih dari 100 porsi setiap hari, bahkan sejak subuh. Ia membawa resep tersebut dari Jerman dan menyesuaikannya dengan bahan serta selera pasar Indonesia.
Di sisi lain, kawasan Cempaka Putih di Jakarta Pusat menawarkan kuliner lain yang juga populer. Sate Maranggi Hj Yetty, yang awalnya berdiri di Purwakarta, kini hadir di sini. Menu andalan adalah potongan daging sapi empuk yang dibumbui dengan rempah khas, kemudian dibakar hingga menghasilkan aroma smokey. Selain daging sapi, tersedia sate ayam dan kambing dengan harga berbeda. Pengunjung juga dapat menikmati gulai sapi dan soto daging sapi santan. Penjual menyiapkan sate di panggangan terbuka dan pelanggan dapat memilih tingkat kematangan sesuai selera.
Tak hanya makanan modern, Jakarta masih menyimpan warisan kuliner dari masa kolonial. Warung Tinggi Tek Sun Ho, yang didirikan pada 1878, masih beroperasi di kawasan Batavia. Tempat ini terkenal dengan kopi tradisional yang diwariskan turun‑turun. Toko Oen, yang mulai beroperasi pada 1910, tetap menyajikan es krim klasik dengan resep keluarga Oen. Braga Permai, restoran berusia 106 tahun, juga masih berfungsi sebagai tempat bersantap dengan suasana klasik. Warung Tinggi Tek Sun Ho masih menggunakan mesin kopi tradisional, sementara Toko Oen menawarkan es krim vanila, cokelat, dan stroberi. Braga Permai memiliki interior kayu tua yang menambah keaslian.
Keberhasilan tempat-tempat ini bertahan dapat dilihat dari konsistensi resep asli, pelayanan yang khas, dan suasana yang mengekalkan nuansa masa lalu. Mereka menarik pelanggan lama maupun generasi baru yang mencari pengalaman kuliner berbeda. Pelanggan sering datang untuk nostalgia, sementara kafe modern tidak dapat menandingi suasana klasik. Warung Tinggi Tek Sun Ho menjadi contoh bagaimana kopi tradisional tetap relevan di era modern.
Sementara itu, penjual pancake Jerman menunjukkan bahwa kuliner kaki lima juga dapat menarik minat publik dengan inovasi sederhana. Satu waktu, restoran kolonial tetap mempertahankan warisan budaya. Keduanya memperlihatkan bahwa Jakarta tetap menjadi kota yang menghargai sejarah sekaligus membuka ruang bagi kreativitas baru. Dengan keberagaman kuliner yang terus berkembang, kota ini tetap menjadi tempat di mana masa lalu dan masa kini bersatu di atas piring.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Warung Pojok Mbak Yuni: Nasi Rames & Telur Kriwil Populer
Udang Saus Padang: Warung Seafood Tenda Sajikan Pedas Asam
Dr Priya Bakal Kue Seri Muka, Gak Jelas Pandan Jadi Rumput
Turis Singapura Terkejut Tagihan 902 Ringgit Ikan Patin
Promo Makanan Nobar Piala Dunia 2026, Harga Hemat
Indomilk Gelar Roadshow Pastry Mini & Coffee Pairing
Berita Terbaru
Yamal Pulih Cepat, Siap Main di Piala Dunia 2026
Polsek Berastagi Tangkap Dua Pria Pungli Air Panas Doulu
Le Minerale Kembali Jadi Official Mineral Water JAKIM 2026
Swedia Kalahkan Tunisia 2-1 di Estadio BBVA Piala Dunia 2026
Jepang Imbang Belanda 2-2, Moriyasu Butuh Perbaikan
Doa 01 Muharram: Menyambut Tahun Baru Islam dengan Ibadah
SPMB SMP Denpasar 2026: Kuota dan Jadwal Pendaftaran
70 Ucapan Jawa Menenangkan Menyambut Tahun Baru Islam 1448
16 Juni 2026: Libur Nasional Menandai Tahun Baru Islam