Panduan Cerdas Memilih Hewan Kurban Idul Adha Raya

Kartika D. · 2 min baca · 22 hari lalu · 59 dibaca
Bisik.id
Panduan Cerdas Memilih Hewan Kurban Idul Adha Raya

Gambar atau konten salah?

Hari Raya Idul Adha sudah di depan mata. Masyarakat kini mulai memadati pasar‑pasar hewan, mencari sapi atau kambing terbaik untuk kurban. Namun, jangan sampai detikers hanya terpaku pada ukuran tubuh yang besar atau harga yang selangit. Ada kriteria kesehatan dan syariat yang wajib dipenuhi agar ibadah kurban menjadi sah.

Dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian‑Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. drh. Lili Zalizar, mengingatkan masyarakat untuk menjadi pembeli yang cerdas. Ia membagikan panduan praktis mendeteksi kesehatan hewan melalui pengamatan fisik sederhana sebelum melakukan transaksi.

Langkah paling awal yang harus dilakukan adalah memantau postur dan cara berdiri hewan secara menyeluruh. Pembeli disarankan melihat ternak dari berbagai sisi, baik depan, samping, maupun belakang. Hal ini penting untuk memastikan hewan dalam kondisi fisik yang sempurna tanpa cacat.

“Pertama kita lihat dulu ternaknya dari depan, samping, dan belakang. Pastikan hewan bisa berdiri tegak dan tidak pincang,” ujar Prof. Lili kepada wartawan, Selasa (12 Mei 2026). Ia juga menegaskan, dalam syariat Islam, hewan dengan cacat fisik seperti pincang tidak diperbolehkan untuk dijadikan kurban.

Selain postur, kejernihan mata menjadi indikator vital. Hewan kurban tidak boleh buta atau memiliki gangguan penglihatan yang biasanya ditandai dengan munculnya selaput putih atau mata yang tampak keruh. Kebersihan kulit juga tidak boleh luput dari perhatian. Prof. Lili menyarankan masyarakat untuk memilih hewan dengan kulit yang mulus dan bebas dari penyakit kulit seperti kudis atau scabies.

Menurutnya, memberikan yang terbaik adalah inti dari ibadah kurban itu sendiri. Masyarakat juga diminta ekstra waspada terhadap ancaman penyakit menular berbahaya seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta Antraks.

Gejala PMK yang mudah dikenali adalah keluarnya lendir berlebih dari mulut, adanya luka pada gusi dan lidah, serta peradangan kemerahan di sela kuku kaki. Sementara itu, gejala Antraks jauh lebih mengerikan dan fatal jika dagingnya dikonsumsi manusia. Hewan yang terinfeksi biasanya mengalami kejang‑kejang dan pendarahan dari lubang tubuh seperti hidung atau anus.

“Kalau ada tanda‑tanda seperti itu, sebaiknya jangan dipilih untuk kurban,” tegas Prof. Lili.

Selain faktor kesehatan fisik, faktor usia juga menjadi syarat mutlak keabsahan kurban. Pastikan sapi sudah berumur minimal dua tahun, sedangkan untuk kambing atau domba minimal sudah menginjak usia satu tahun. Hewan yang sehat juga bisa dilihat dari nafsu makannya yang tinggi dan terlihat bugar.

Satu hal penting yang sering kali dilupakan oleh panitia kurban maupun pembeli adalah masa istirahat hewan sebelum disembelih. Prof. Lili mengingatkan agar hewan yang baru saja menempuh perjalanan jauh tidak langsung dipotong demi menghindari stres. Kelelahan ekstrem pada hewan dapat memicu sindrom DFD (Dark, Firm, Dry).

“Kondisi itu, bisa menyebabkan kualitas daging menurun drastis menjadi berwarna gelap, bertekstur keras, dan terasa kering,” pungkasnya.

Dengan mengikuti panduan ini, pembeli dapat memastikan bahwa hewan yang dipilih memenuhi semua kriteria kesehatan dan syariat. Hal tersebut tidak hanya menjaga keabsahan ibadah kurban, tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat dari potensi penyakit menular. Menjadi pembeli yang cerdas berarti memeriksa postur, mata, kulit, serta menilai usia dan kondisi fisik hewan sebelum memutuskan transaksi. Dengan cara ini, ibadah kurban dapat dilaksanakan dengan penuh kepastian dan keamanan.

kurbaankriteria kesehatansyariat IslamPMKAntraksusia minimalpostur hewan

Komentar

Memuat komentar...