Rasha Putra Permata Lolos UGM, Belajar Sendiri hingga Subuh

Maya K. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Rasha Putra Permata Lolos UGM, Belajar Sendiri hingga Subuh

Gambar atau konten salah?

Seorang pengguna kursi roda bernama Rasha Putra Permata berhasil diterima di Program Studi Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun ini. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, pemuda berusia 18 tahun ini tidak pernah patah semangat untuk mengejar mimpinya masuk perguruan tinggi negeri.

Rasha sudah lama mengidamkan bisa berkuliah di UGM. Ia sering mengunjungi kampus tersebut dan merasa nyaman dengan suasananya. "Saya memang sudah lama ingin kuliah di UGM. Saya sering ke UGM dan menurut saya suasana kampusnya nyaman. Dari dulu memang ingin bisa kuliah di sini," ujarnya pada Jumat, 10 Juli 2026.

Rasha merupakan penyandang disabilitas daksa spinal muscular atrophy (SMA) tipe 2. Kondisi ini membuatnya tidak bisa bergerak seperti orang pada umumnya. Namun, hal itu tidak menghalangi tekadnya untuk terus belajar dan berprestasi.

Perjuangan keras tanpa bimbingan belajar

Untuk bisa lolos ke UGM melalui jalur tes, Rasha harus bekerja ekstra keras dalam mempelajari materi UTBK. Ia tidak mengikuti bimbingan belajar karena tidak ada tempat les di sekitarnya yang memiliki akses bagi penyandang disabilitas.

"Rasha tidak bisa ikut bimbel karena banyak tempat les yang belum aksesibel. Akhirnya dia mengumpulkan soal-soal dari teman-temannya, lalu belajar sendiri sampai jam satu atau dua pagi," kata ibunda Rasha, Triani.

Setiap malam, Rasha berlatih mengerjakan soal-soal latihan. Baginya, materi Pengetahuan Kuantitatif (PK) dan Penalaran Matematika (PM) adalah yang paling menantang dan membutuhkan waktu lebih untuk dipahami. "Materi yang paling sulit buat saya itu Pengetahuan Kuantitatif dan Penalaran Matematika. Jadi saya harus banyak latihan supaya bisa memahami pola soalnya," jelasnya.

Aktif berorganisasi di sekolah

Selama masa sekolah, Rasha tidak hanya fokus pada pelajaran. Ia juga termasuk murid yang aktif dalam kegiatan organisasi. Ia pernah bergabung sebagai pengurus internal multimedia di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Bahkan, Rasha sering dipercaya menjadi koordinator acara seperti pentas seni atau kegiatan sosial. Ia merasa senang karena meskipun memiliki keterbatasan, ia tetap bisa berkontribusi. "Selama di SMA saya aktif di OSIS sebagai pengurus internal multimedia. Saya juga pernah menjadi koordinator kegiatan sosial dan pentas seni di sekolah, serta terlibat sebagai asisten koordinator di beberapa kegiatan lainnya," ungkapnya.

Ketertarikan pada dunia robotika

Sejak duduk di bangku SMA, Rasha sudah mempelajari dasar-dasar robotika dan pemrograman. Ia juga merupakan penggemar Webtoon dan bahkan pernah membuatnya sendiri. "Saya tertarik dengan robotika dan ingin belajar lebih dalam lagi di Teknik Fisika. Saya juga ingin mengembangkan kemampuan coding yang saya sukai sejak sekolah," katanya.

Sebelum memantapkan pilihan pada Teknik Fisika UGM, Rasha sempat mempertimbangkan jurusan Teknik Elektro hingga Teknik Industri. Namun, pada akhirnya ia tetap memilih Teknik Fisika.

Rasha mengakui bahwa keberhasilannya menembus UGM bukan semata-mata karena usahanya sendiri. Sang ayah dan ibu selalu menjadi pihak yang setia membantunya selama ini.

Triani, sang ibu, berharap anaknya bisa menjalani perkuliahan dengan baik. Ia juga berharap UGM dapat terus meningkatkan fasilitas yang ramah bagi mahasiswa disabilitas. "Harapan kami, UGM terus meningkatkan aksesibilitas agar mahasiswa disabilitas bisa belajar dengan nyaman dan mengembangkan potensinya. Kami percaya mereka memiliki kemampuan yang sama untuk berprestasi dan memberi manfaat bagi banyak orang," tutupnya.

Kisah Rasha menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Dengan kerja keras dan dukungan keluarga, ia berhasil membuktikan bahwa penyandang disabilitas juga mampu bersaing di perguruan tinggi negeri ternama. Tantangan aksesibilitas di tempat bimbingan belajar tidak menghentikannya untuk belajar mandiri hingga larut malam.

kursi rodadisabilitasUGMSNBTTeknik Fisikabelajar mandirirobotika

Komentar

Memuat komentar...