Pasar Pondok Labu Sepi, Pedagang Rindu Masa Pandemi

Putri N. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pasar Pondok Labu Sepi, Pedagang Rindu Masa Pandemi

Gambar atau konten salah?

Pasar Pondok Labu di Jakarta Selatan kini nyaris tak bernyawa. Di dalam bangunan tiga lantai itu, deretan kios bergembok rapat. Lapak yang masih bertahan pun sepi pembeli. Hingga siang hari, aktivitas jual-beli hampir tidak terasa.

Padahal, lokasi pasar ini strategis. Berada di persimpangan Jalan Margasatwa Raya dan Jalan PD. Labu Raya. Di luar pagar pasar, lalu lintas masih ramai. Angkutan umum, truk, dan kendaraan pribadi melintas silih berganti. Tapi hampir tidak ada yang memutuskan masuk ke area pasar.

Sejak pagi hingga pukul 12.00 WIB, hanya segelintir mobil dan motor yang berkunjung. Mayoritas kendaraan hanya lewat. Begitu seterusnya.

Masuk ke koridor pasar, pengunjung disambut deretan toko. Ada yang menjual emas dan perhiasan. Ada juga pakaian dan produk kecantikan. Tapi di area basement, pemandangan berbeda. Banyak rolling door tertutup rapat. Terkunci. Pakaian, tas, dan perabotan hanya menggantung di sudut-sudut lorong sempit. Tak tersentuh siapa pun.

Di lantai dasar, jumlah toko yang buka memang lebih banyak. Tapi suasananya tetap sunyi. Pembeli yang lalu lalang sangat jarang terlihat. Hingga siang hari.

Naik satu lantai ke area paling atas, ada lapak makanan dan kios produk segar. Buah, sayur, daging. Tapi di sekelilingnya, pintu-pintu kios tetangga sudah banyak yang gulung tikar. Terkunci. Jumlah pengunjung di lantai ini pun bisa dihitung dengan jari. Suasana Pasar Pondok Labu secara keseluruhan sangat sepi. Meski masih banyak pedagang yang bertahan.

"Kondisi pasar ya sudah lumayan parah. Parahnya dari sebelum pandemi sudah terasa. Malah kalau dari waktu pandemi, kita kan disuruh tutup ya, jadi kita kucing-kucingan buka toko, itu masih dapat malah," ujar Farid, seorang pedagang produk kecantikan.

"Sekarang sudah terbuka kayak gini, malah nggak ada yang datang sama sekali. Lihat saja ini dari tadi nggak ada yang lewat, paling cuma pedagang-pedagang lain yang lewat untuk ke belakang," jelas Farid lagi. Ia membuka kios di bagian dalam lantai dasar pasar.

Farid menggambarkan ironi. Saat pandemi, mereka harus sembunyi-sembunyi buka toko. Tapi pembeli masih ada. Kini, setelah semua boleh buka normal, tak seorang pun datang. Pasar Pondok Labu seperti kota hantu di tengah keramaian Jakarta Selatan.

Pasar Pondok LabusepipedagangpembelipandemiJakarta Selatan

Komentar

Memuat komentar...