Pedagang Daging Sapi Lamongan Mogok Jualan Tiga Hari

Guntur P. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pedagang Daging Sapi Lamongan Mogok Jualan Tiga Hari

Gambar atau konten salah?

Para pedagang daging sapi di Lamongan memutuskan untuk berhenti berjualan sementara waktu. Keputusan ini diambil karena harga daging sapi kembali naik dan semakin memberatkan pedagang serta pembeli.

Bagus Budi Raharjo, Ketua Paguyuban Pedagang Daging Sapi Lamongan, mengatakan para pedagang mengadakan pertemuan setelah mendapat kabar kenaikan harga dari pengepul sapi hidup pada Minggu, 12 Juli 2026. Hasilnya, mereka sepakat libur jualan selama tiga hari. Tujuannya, meredam gejolak harga di pasaran.

"Senin kemarin para pedagang berkumpul atas nama paguyuban untuk berdiskusi mencari jalan keluar. Di tengah kekhawatiran karena banyak pelanggan belum siap dan komplain, kami sepakat libur tiga hari supaya ada ketenangan secara psikologis," kata Bagus kepada wartawan, Kamis, 16 Juli 2026.

Menurut Bagus, keputusan ini bukan karena pasokan daging berkurang. Lebih kepada upaya menenangkan situasi di pasar. Selama ini, setiap kali harga daging naik mengikuti harga dari jagal, banyak pelanggan mengeluh dan bahkan membatalkan pembelian.

"Kenaikan sampai lima kali dalam setengah tahun ini baru pertama kali kami alami dalam sekitar 10 tahun terakhir," ujarnya.

Harga daging sapi terus naik sejak awal tahun. Pada awal 2026, harga karkas di tingkat jagal masih sekitar Rp 110 ribu per kilogram. Sekarang sudah mencapai Rp 130 ribu per kilogram. Akibatnya, harga daging di tingkat eceran tembus Rp 140 ribu hingga Rp 150 ribu per kilogram.

Aksi libur jualan ini diikuti sekitar 18 hingga 19 pedagang. Mereka berasal dari tiga pasar di Kecamatan Lamongan: Pasar Sidoharjo, Pasar Ikan Lamongan, dan Pasar Made.

Bagus menyebut lonjakan harga daging langsung berdampak pada daya beli masyarakat. Pada musim hajatan, pernikahan, hingga Iduladha — yang biasanya jadi periode penjualan tinggi — banyak konsumen justru mengurangi pembelian daging sapi.

"Masyarakat akhirnya memilih menu alternatif yang lebih terjangkau seperti daging ayam, karena selisih harganya sekarang sudah terlalu jauh," ungkapnya.

Permintaan yang menurun membuat omzet pedagang ikut tergerus. Paguyuban mencatat pendapatan pedagang turun 30 hingga 40 persen dibandingkan saat harga daging masih stabil.

Para pedagang berharap pemerintah daerah segera turun tangan. Mereka ingin pasokan sapi tetap tersedia dan harga di pasaran stabil. Stabilitas harga, menurut mereka, penting agar pedagang bisa terus berjualan tanpa khawatir kehilangan pelanggan karena harga naik terus.

Kenaikan harga daging sapi yang terjadi lima kali dalam enam bulan terakhir menjadi catatan tersendiri bagi para pedagang di Lamongan. Mereka belum pernah mengalami hal seperti ini dalam satu dekade terakhir. Dengan selisih harga yang semakin lebar antara daging sapi dan ayam, konsumen pun mulai beralih ke protein yang lebih murah. Kondisi ini memukul pendapatan pedagang hingga nyaris setengahnya.

pedagang daging sapiLamonganharga daging sapilibur jualankenaikan hargadaya belialternatif murah

Komentar

Memuat komentar...