ICP September 2026 Melonjak ke US$112,81 per Barel
Gambar atau konten salah?
Jakarta — Harga minyak mentah Indonesia melonjak tajam pada September 2026. Pemerintah menetapkan rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) sebesar US$112,81 per barel, naik signifikan US$23,38 dari posisi Agustus 2026 yang tercatat US$89,43 per barel. Angka ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, menjelaskan lonjakan ini bukan kejadian yang berdiri sendiri. "Rata-rata ICP bulan September 2026 yang melonjak naik menjadi US$112,81 per barel merupakan cerminan dari dinamika pasar minyak global yang dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian geopolitik dan meningkatnya risiko gangguan pasokan (supply disruption risk). Kenaikan ini terjadi secara menyeluruh pada seluruh benchmark internasional," ujarnya di Kantor Ditjen Migas, Gedung Ibnu Sutowo, Jakarta, Senin (12 Oktober).
Akar masalahnya ada di Timur Tengah. Eskalasi konflik militer dan kebuntuan diplomasi, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, membuat rute pelayaran di Selat Hormuz tidak aman. Padahal, selat ini merupakan jalur vital bagi ekspor minyak dunia. Laode memaparkan, "Ekspor minyak mentah melalui rute vital tersebut sempat mengalami penurunan hingga 28 persen dibandingkan bulan Juli."
Kondisi makin rumit dengan adanya serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut. Pipa East-West Arab Saudi yang berkapasitas 7 juta barel per hari terpaksa ditutup sementara akibat serangan drone. Langkah ini diambil sebagai bentuk pencegahan. Belum lagi, OPEC+ menunda kuota produksinya. Serangan lanjutan terhadap kilang dan terminal ekspor minyak di Rusia serta kawasan Laut Merah ikut memperketat pasokan global.
Kenaikan harga terjadi merata di semua benchmark utama dunia. Perbandingan September versus Agustus 2026 menunjukkan:
- Brent (ICE) naik US$13,94 menjadi US$102,02 per barel
- WTI (Nymex) naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel
- Dated Brent naik US$25,93 menjadi US$116,77 per barel
- Basket OPEC naik US$24,29 menjadi US$110,73 per barel
Untuk Oktober 2026, proyeksi ICP masih berada di level tinggi. Namun, ada sedikit kabar baik — harga diperkirakan mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Meski begitu, angka ini tetap jauh di atas rata-rata historis.
Pemerintah tidak tinggal diam. Laode menegaskan komitmen untuk terus memantau pergerakan harga minyak dunia. "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," katanya.
ICP memegang peranan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu migas. Angka ini juga menjadi asumsi makro dalam APBN. Dengan pemantauan yang ketat, pemerintah berharap bisa menjaga stabilitas sektor energi di tengah pasar global yang tidak menentu.
Proyeksi untuk Oktober 2026 menunjukkan harga masih akan bertahan di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Artinya, tekanan terhadap anggaran negara dan biaya energi domestik kemungkinan masih akan terasa dalam waktu dekat.
Kenaikan harga ini terjadi merata di semua acuan internasional. Brent (ICE) naik US$13,94 menjadi US$102,02 per barel. WTI (Nymex) naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel. Dated Brent melonjak US$25,93 menjadi US$116,77 per barel. Basket OPEC juga naik US$24,29 menjadi US$110,73 per barel.
Pemerintah tidak tinggal diam. Laode menegaskan komitmen untuk terus memantau pergerakan harga. "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," katanya.
Untuk Oktober 2026, ICP diproyeksikan masih bertahan di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Pemerintah bersama pihak terkait akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia untuk mengambil langkah strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional.
ICP memegang peranan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu migas dan menjadi asumsi makro dalam APBN. Dengan pemantauan ketat dan penetapan harga yang transparan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas sektor energi di tengah ketidakpastian pasar global. Kenaikan harga ini juga terjadi merata pada semua benchmark internasional utama—Brent (ICE) naik US$13,94 menjadi US$102,02 per barel, WTI (Nymex) naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel, Dated Brent naik US$25,93 menjadi US$116,77 per barel, dan Basket OPEC naik US$24,29 menjadi US$110,73 per barel.
Untuk Oktober 2026, proyeksi menunjukkan ICP masih bertahan di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Pemerintah bersama pihak terkait akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia. "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," kata Laode.
ICP bukan sekadar angka di atas kertas. Ia menjadi acuan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu migas dan asumsi makro APBN. Dengan pemantauan ketat dan penetapan harga yang transparan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas sektor energi di tengah ketidakpastian pasar global.
Proyeksi untuk Oktober 2026 menunjukkan harga masih akan bertahan di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Pemerintah bersama pihak terkait akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia untuk mengambil langkah strategis. Laode menegaskan, "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas."
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada penerimaan negara dari sektor hulu migas dan asumsi makro APBN. Semua harga acuan internasional ikut naik: Brent (ICE) naik US$13,94 menjadi US$102,02 per barel, WTI (Nymex) naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel, Dated Brent naik US$25,93 menjadi US$116,77 per barel, dan Basket OPEC naik US$24,29 menjadi US$110,73 per barel.
Untuk Oktober 2026, proyeksi ICP masih berada di level tinggi, tapi mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Pemerintah berjanji terus memantau pergerakan harga. "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," kata Laode.
ICP bukan sekadar angka di atas kertas. Ia menjadi acuan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu migas dan asumsi makro APBN. Dengan pemantauan ketat dan penetapan harga yang transparan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas sektor energi di tengah ketidakpastian pasar global.
Kenaikan harga ini terjadi di semua benchmark utama dunia. Brent (ICE) naik US$13,94 menjadi US$102,02 per barel. WTI (Nymex) naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel. Dated Brent melonjak US$25,93 ke US$116,77 per barel. Basket OPEC juga naik US$24,29 menjadi US$110,73 per barel. Untuk Oktober 2026, ICP diproyeksikan masih bertahan di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel.
Pemerintah tidak tinggal diam. Laode menegaskan, "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas." Pihaknya bersama instansi terkait akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia untuk mengambil langkah strategis.
ICP memegang peranan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu migas dan menjadi asumsi makro dalam APBN. Kenaikan harga ini berdampak langsung pada pendapatan negara, namun juga bisa memicu tekanan pada anggaran subsidi energi. Pemerintah berupaya menjaga stabilitas sektor energi di tengah ketidakpastian pasar global melalui pemantauan ketat dan penetapan harga yang transparan.
Untuk Oktober 2026, proyeksi ICP masih berada di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Artinya, tekanan terhadap harga minyak belum sepenuhnya reda. Pemerintah bersama pihak terkait akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia untuk mengambil langkah strategis. "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," kata Laode.
Perbandingan harga minyak mentah utama dunia pada September 2026 versus Agustus 2026 menunjukkan pola kenaikan yang merata:
- Brent (ICE) naik US$13,94 menjadi US$102,02 per barel
- WTI (Nymex) naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel
- Dated Brent naik US$25,93 menjadi US$116,77 per barel
- Basket OPEC naik US$24,29 menjadi US$110,73 per barel
Untuk Oktober 2026, ICP diproyeksikan masih bertahan di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Pemerintah bersama pihak terkait akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia untuk mengambil langkah strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional. "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," kata Laode.
ICP memegang peranan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu migas dan menjadi asumsi makro dalam APBN. Kenaikan harga ini otomatis berdampak pada pendapatan negara dari sektor tersebut. Pemerintah berkomitmen memantau pergerakan harga secara ketat dan menetapkan harga secara transparan untuk menjaga stabilitas sektor energi di tengah ketidakpastian pasar global.
Untuk Oktober 2026, proyeksi ICP masih berada di level tinggi, namun mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Artinya, tekanan harga diperkirakan berangsur mereda, meski belum kembali ke level normal. Pergerakan ini akan terus dipantau pemerintah untuk mengambil langkah strategis menjaga ketahanan energi nasional.
Kenaikan ICP bulan September tidak hanya terjadi pada satu jenis patokan. Semua harga minyak mentah utama dunia ikut naik dibandingkan Agustus 2026: Brent (ICE) naik US$13,94 menjadi US$102,02 per barel, WTI (Nymex) naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel, Dated Brent naik US$25,93 menjadi US$116,77 per barel, dan Basket OPEC naik US$24,29 menjadi US$110,73 per barel.
Proyeksi untuk Oktober 2026 menunjukkan harga masih akan bertahan di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Pemerintah bersama pihak terkait akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia. "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," kata Laode.
ICP memegang peranan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu migas dan menjadi asumsi makro dalam APBN. Kenaikan harga ini berdampak langsung pada pendapatan negara, meski di sisi lain juga menekan anggaran subsidi energi. Pemerintah memastikan pergerakan harga terus dipantau secara cermat untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Untuk Oktober 2026, ICP diproyeksikan masih berada di level tinggi, namun mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Proyeksi ini memberi sedikit ruang napas, meski pasar tetap dibayangi ketidakpastian geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kenaikan ICP bulan lalu sejalan dengan pergerakan seluruh harga minyak mentah utama dunia. Brent (ICE) naik US$13,94 menjadi US$102,02 per barel. WTI (Nymex) naik US$13,24 menjadi US$95,69 per barel. Dated Brent melonjak US$25,93 menjadi US$116,77 per barel. Basket OPEC juga naik US$24,29 menjadi US$110,73 per barel.
Untuk Oktober 2026, ICP diproyeksikan masih bertahan di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Pemerintah bersama pihak terkait akan terus mencermati pergerakan harga minyak dunia. "Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas," kata Laode.
ICP memegang peranan penting dalam perhitungan penerimaan negara dari sektor hulu migas dan menjadi asumsi makro dalam APBN. Dengan pemantauan ketat dan penetapan harga yang transparan, pemerintah berupaya menjaga stabilitas sektor energi di tengah ketidakpastian pasar global. Proyeksi untuk Oktober 2026 menunjukkan harga masih akan bertahan di level tinggi, meski mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Artinya, tekanan terhadap anggaran negara dan biaya energi domestik kemungkinan masih akan terasa dalam beberapa pekan ke depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bahlil Pusing Pikirkan Pasokan Minyak Akibat Konflik Timur Tengah
Bahlil Ungkap Alasan Harga BBM Tak Langsung Turun Meski Minyak Dunia Melemah
Medco Beli 10% Saham Empat Blok Migas Eni
Bahlil: Orang Kaya Jangan Pakai BBM Subsidi
Bahlil: Impor Solar Henti, Tapi KPC Masih Minta
Indonesia Kencangkan Ekspor Batu Bara Demi Kuasai Harga Global
Berita Terbaru
Bahlil Pusing Pikirkan Pasokan Minyak Akibat Konflik Timur Tengah
Bahlil Ungkap Alasan Harga BBM Tak Langsung Turun Meski Minyak Dunia Melemah
Medco Beli 10% Saham Empat Blok Migas Eni
Bahlil: Orang Kaya Jangan Pakai BBM Subsidi
Bahlil: Impor Solar Henti, Tapi KPC Masih Minta
Indonesia Kencangkan Ekspor Batu Bara Demi Kuasai Harga Global
Harga Minyak Dunia Turun Usai Gencatan Senjata Energi
Diskon Minyak Saudi Terbesar, Indonesia Tunggu Kepastian
PHE Resmi Akuisisi 10% PI Eni di Tiga Wilayah Migas Kaltim
ICP September 2026 Melonjak ke US$112,81 per Barel
