Pendapatan Garuda Naik 13,2%, Bisnis Non-Penerbangan Melonjak 31,3%

Fandi R. · 3 min baca · 2 jam lalu · 14 dibaca
Bisik.id
Pendapatan Garuda Naik 13,2%, Bisnis Non-Penerbangan Melonjak 31,3%

Gambar atau konten salah?

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 2,71 miliar atau sekitar Rp 49,24 triliun (dengan kurs Rp 18.172 per dolar AS) pada kuartal III-2026. Angka ini naik 13,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini terjadi meskipun industri penerbangan tengah menghadapi tekanan dari kenaikan biaya bahan bakar.

Pendapatan dari bisnis penerbangan berjadwal menjadi salah satu kontributor utama, mencapai sekitar US$ 233,2 juta atau Rp 4,23 triliun. Angka ini tumbuh 12,6%. Sementara itu, pendapatan dari penerbangan non-berjadwal juga meningkat, meski lebih kecil, yaitu 2,1% atau setara US$ 6,3 juta (sekitar Rp 114,48 miliar).

Di luar sektor penerbangan, pendapatan dari lini bisnis non-penerbangan mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi. Angkanya melonjak 31,3% menjadi US$ 322,8 juta atau sekitar Rp 5,86 triliun. Pertumbuhan ini cukup signifikan di tengah kondisi industri yang menantang.

Hingga kuartal III-2026, beban bahan bakar Garuda Indonesia tercatat meningkat drastis. Kenaikannya mencapai 42,9% secara tahunan, atau setara dengan US$ 309,8 juta (sekitar Rp 5,63 triliun). Lonjakan ini mendorong total beban operasional perusahaan naik 15,7%. Namun, di luar bahan bakar, pertumbuhan beban operasional berhasil ditekan hanya di kisaran 3,1%. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pendapatan yang mencapai 13,2%.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro, dalam keterangan tertulis pada Kamis, 29 Oktober 2026, mengatakan bahwa peningkatan pendapatan dari bisnis non-penerbangan menunjukkan potensi pengembangan kapabilitas dan sinergi antar entitas usaha. Hal ini terus dioptimalkan sebagai bagian dari transformasi perusahaan. Tujuannya, memperkuat ketahanan bisnis dan mendukung pemulihan kinerja keuangan secara berkelanjutan.

Thomas menjelaskan lebih lanjut, pendapatan non-penerbangan yang tumbuh 31,3% itu ditopang oleh dua sektor utama. Pertama, pendapatan dari pemeliharaan pesawat untuk pelanggan eksternal oleh GMF AeroAsia yang naik 42,4%. Kedua, pendapatan dari layanan agen perjalanan yang melonjak hingga 76,1%.

"Keberlanjutan pertumbuhan Garuda Indonesia memerlukan fondasi bisnis penerbangan yang semakin kuat, sekaligus kontribusi yang lebih besar dari seluruh ekosistem usaha Grup," ujar Thomas.

Hingga September 2026, Grup Garuda Indonesia mengoperasikan 106 pesawat yang siap terbang. Rinciannya, 64 pesawat milik Garuda Indonesia dan 42 pesawat milik Citilink. Jumlah ini bertambah 24 unit dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 82 pesawat.

Penambahan armada ini berdampak langsung pada jumlah penumpang. Selama sembilan bulan pertama tahun 2026, total penumpang Grup mencapai 16,7 juta orang. Angka ini naik dari 15,6 juta penumpang pada periode yang sama tahun sebelumnya. Garuda Indonesia sendiri melayani sekitar 7,7 juta penumpang, sementara Citilink mengangkut sekitar 8,9 juta penumpang.

Frekuensi penerbangan Grup juga meningkat. Tercatat ada 117.868 penerbangan, naik 7,9% secara tahunan dibandingkan 109.259 penerbangan pada periode yang sama tahun lalu. Di sisi lain, tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance (OTP) Grup mencapai 92,01%. Angka ini naik 5,86 poin persentase dari 86,15% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Thomas menegaskan bahwa pemulihan ketersediaan armada adalah bagian penting dari transformasi. Namun, penambahan kapasitas saja tidak cukup. Setiap pesawat harus dioperasikan secara lebih produktif. Setiap rute harus berkontribusi terhadap jaringan penerbangan yang semakin efisien. Pelanggan juga perlu merasakan perbaikan nyata dalam keandalan dan kualitas layanan. "Inilah yang terus kami dorong agar kemajuan operasional dapat memberikan nilai tambah yang lebih optimal bagi bisnis maupun pelanggan," jelasnya.

Secara keseluruhan, laporan keuangan Garuda Indonesia di kuartal III-2026 menunjukkan adanya pertumbuhan pendapatan yang cukup solid, terutama dari sektor non-penerbangan. Meskipun beban bahan bakar melonjak tajam, perusahaan berhasil mengendalikan biaya operasional lainnya. Penambahan armada dan peningkatan jumlah penumpang juga menjadi indikator positif. Namun, tantangan dari sisi biaya bahan bakar masih menjadi faktor yang perlu terus diwaspadai.

pendapatan Garudapertumbuhan non-penerbangankenaikan beban bahan bakarpenambahan armadajumlah penumpang

Komentar

Memuat komentar...