Pertamina Kirim Perdana B50, Campuran Solar 50% Sawit

Ayu W. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Pertamina Kirim Perdana B50, Campuran Solar 50% Sawit

Gambar atau konten salah?

PT Pertamina Patra Niaga telah memulai pengiriman perdana bahan bakar minyak (BBM) yang dikenal dengan nama Biosolar 50 atau B50. Bahan bakar ini merupakan campuran dari 50% solar dan 50% minyak kelapa sawit yang sudah diolah menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menyampaikan bahwa pengiriman pertama ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran resmi program B50 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 09 Juli 2026. "Menindaklanjuti peluncuran tersebut, baru-baru ini, Pertamina Patra Niaga mencatatkan dua kali lifting/pengiriman perdana B50 oleh kilang Pertamina Patra Niaga," ujar Kitty dalam keterangan resminya pada Kamis, 23 Juli 2026.

Dua pengiriman perdana itu dilakukan dari lokasi yang berbeda. Pertama, dari Kilang Kasim pada 18 Juli 2026. Kemudian disusul oleh Kilang Plaju pada 22 Juli 2026. Kitty menambahkan, "Lifting perdana B50 oleh Kilang Kasim dan Kilang Plaju merupakan salah satu milestone penting yang menandai langkah nyata Pertamina Patra Niaga dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional khususnya melalui implementasi B50 yang dicanangkan pemerintah."

Dalam pengiriman perdananya, Kilang Kasim menyalurkan sebanyak 4.600 kiloliter (KL) B50 ke kapal MT Krasak. Sementara itu, Kilang Plaju mengirimkan 8.230 KL B50 ke Integrated Terminal (IT) Palembang. "Hasil lifting B50 tersebut kemudian siap didistribusikan ke SPBU yang tersebar di sekitar wilayah Indonesia Barat dan wilayah Indonesia Timur agar BBM ramah lingkungan ini dapat dirasakan manfaatnya secara luas," jelas Kitty.

Sebelum pengiriman dilakukan, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan berbagai hal. Mulai dari kesiapan fasilitas dan infrastruktur, pengendalian mutu produk, hingga aspek keselamatan. Semua itu dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan energi bagi masyarakat. Proses pencampuran atau blending antara solar dan FAME dilakukan secara bertahap. Tujuannya agar komposisi yang dihasilkan tepat dan sesuai spesifikasi yang ditetapkan.

Setelah proses blending selesai, B50 akan diuji di laboratorium. Pengujian ini untuk menganalisis kesesuaian spesifikasi dan kualitasnya, sesuai dengan Peraturan Kementerian ESDM. Baru setelah itu, B50 bisa disalurkan ke Fuel Terminal dan kemudian didistribusikan ke SPBU.

Kitty menilai kehadiran B50 akan memberikan efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian nasional. Selain itu, program ini juga diharapkan bisa menghemat devisa negara karena mengurangi impor solar. "Program ini juga diharapkan mampu berkontribusi untuk pengurangan emisi gas rumah kaca, serta menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak," tutup Kitty.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan energi terbarukan di dalam negeri. Dengan memanfaatkan kelapa sawit sebagai bahan baku, Indonesia berusaha mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor sekaligus mendukung industri sawit dalam negeri.

B50PertaminaBiosolarFAMEpengiriman perdanaenergi terbarukanketahanan energi

Komentar

Memuat komentar...