Peternak Ayam Broiler Terjepit Harga Pakan Naik
Gambar atau konten salah?
Para peternak ayam broiler, atau ayam pedaging, sedang berada dalam situasi yang sulit. Mereka mengeluhkan harga pakan yang terus merangkak naik. Di sisi lain, harga jual ayam hidup di kandang justru merosot. Saat ini, harga live bird (LB) hanya berkisar antara Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per kilogram.
Masalahnya, biaya pokok produksi (HPP) untuk ayam broiler sudah mencapai angka Rp 23.000 sampai Rp 23.500 per kilogram. Dengan kata lain, peternak menjual ayam di bawah harga modal. Kerugian sudah di depan mata.
Ketua Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo), Asep Saepudin, menjelaskan situasi ini sudah berlangsung sejak awal tahun 2026. "Kondisinya sekarang harga pakan rata-rata sudah di atas Rp 9.400/kg untuk starter umur 7-21 hari. Normalnya sekitar Rp 8.000-8.500/kg. Harga live bird sudah turun perhari ini Rp 21.000-22.000/kg di kandang ya. HPP kami sudah Rp 23.000/kg. Pusing kami," kata Asep kepada media pada Sabtu, 03 Oktober 2026.
Kenaikan harga pakan ini tidak bisa dilepaskan dari pasokan bahan baku, terutama jagung. Menurut informasi yang diterima para peternak, harga jagung saat ini sudah tembus di atas Rp 7.800 per kilogram. Bahkan, banyak yang sudah berada di level Rp 8.000 per kilogram.
Beban peternak tidak berhenti di pakan. Mereka juga harus menanggung biaya pembelian anak ayam umur sehari, atau yang dikenal dengan day old chick (DOC). Harga DOC kini melonjak ke kisaran Rp 7.500 hingga Rp 8.500 per ekor. Sebelumnya, harga DOC hanya sekitar Rp 6.000 per ekor.
Asep menambahkan, penyerapan ayam di pasaran sebenarnya masih relatif stabil. Namun, masalahnya ada pada stok. Di sejumlah wilayah, stok ayam sedang berlebih. Akibatnya, pembeli memiliki banyak pilihan dan bisa menekan harga seenaknya. "Penyerapan masih stabil, tetapi stok sedang berlebih sehingga hampir di semua wilayah banyak pilihan. Kondisi ini dimanfaatkan pembeli untuk menekan harga," ujarnya.
Menghadapi tekanan ini, Permindo menyampaikan beberapa permintaan kepada pemerintah. Pertama, mereka meminta pemerintah menekan harga bahan baku pakan. Tujuannya agar harga pakan jadi bisa kembali ke kisaran Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram, seperti yang terjadi pada tahun 2025.
Kedua, para peternak meminta harga DOC ditetapkan di kisaran Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per ekor. Ketiga, Permindo mendesak pemerintah untuk menaikkan Harga Acuan Penjualan (HAP) ayam hidup menjadi Rp 27.000 per kilogram. Kenaikan ini dinilai perlu untuk menutup tingginya biaya pakan dan DOC yang harus ditanggung peternak.
Kondisi ini menunjukkan betapa rapuhnya posisi peternak mandiri. Mereka terjepit di antara biaya produksi yang membengkak dan harga jual yang terus ditekan. Tanpa intervensi yang tepat dari pemerintah, bukan tidak mungkin banyak peternak kecil yang akan gulung tikar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
