PHK Massal di Pabrik Baja Cilegon, KOS Tutup Operasi
Gambar atau konten salah?
Penutupan operasional pabrik PT Krakatau Osaka Steel (KOS) di Cilegon telah menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di antara buruhnya. Ratusan pekerja dilaporkan terkena PHK, dan jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah.
KOS merupakan anak perusahaan patungan antara produsen baja asal Jepang, Osaka Steel Co., Ltd., dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Sejak awal 2026, kabar penghentian operasional sudah mencuat dan dikonfirmasi oleh Kementerian Perindustrian.
Presiden Partai Buruh dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima laporan PHK massal dari jaringan serikat pekerja di lapangan. Ia menyatakan, “sejauh ini tercatat sudah ada 161 buruh terkena PHK. Namun jumlah itu terus bertambah dan kini sudah mendekati angka 200 pekerja.”
“PHK di Krakatau Osaka Steel, Partai Buruh bersama KSPI sudah membentuk Posko Orange. Ada 161 orang yang di-PHK, tapi sudah bertambah, sudah mendekati angka 200 orang,” kata Said di depan Kantor Kemnaker, Kamis (07 Mei 2026).
Said menjelaskan bahwa penutupan operasional KOS didorong oleh pelemahan permintaan baja nasional. Sebelumnya, hasil produksi masih diserap oleh proyek-proyek infrastruktur seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan jalan tol. Namun ketika proyek tersebut melambat, permintaan baja ikut menurun sehingga berdampak pada kinerja perusahaan.
“KOS itu kan yang membeli, konsumennya, adalah IKN. Proyek IKN dan proyek jalan tol. Karena dia sudah melambat dan kecenderungan berhenti, maka permintaan bajanya menurun. Sehingga mau nggak mau terjadi rasionalisasi, bahkan mungkin ditutup. Sedang dalam proses perundingan,” jelas Said.
Ia juga menyoroti persaingan yang semakin ketat akibat banjir impor produk baja murah dari China. “Karena produk-produk PT KOS tidak bisa bersaing harganya dengan barang-barang baja impor dari China, mereka yang banci, kita sebutnya kan banci. Jadi lebih murah nilainya, ukurannya banci. Sehingga mereka tidak bisa juga bersaing, itu betul,” terang Said.
Meski begitu, Said menegaskan bahwa bagi buruh yang terkena PHK, manajemen Krakatau Osaka Steel telah menjanjikan pesangon dua kali lebih besar dari aturan yang berlaku. “Memang manajemen akan memberikan sekitar dua kali aturan untuk memberikan pesangon kepada buruh yang di-PHK,” ujarnya.
Menurut informasi yang disampaikan perusahaan, keputusan penghentian produksi telah ditetapkan melalui rapat Dewan Direksi pada 23 Januari 2026. KOS juga mengungkapkan bahwa perusahaan telah mengalami kerugian sejak 2022, seiring penurunan kinerja bisnis yang terus berlanjut.
“Kami turut prihatin atas kondisi yang dihadapi para pekerja PT Krakatau Osaka Steel. Pemerintah memahami bahwa keputusan ini memberikan dampak sosial dan ekonomi yang tidak ringan. Oleh sebab itu, kami mengimbau kepada perusahaan untuk memenuhi hak-hak pekerja yang terdampak sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, dalam keterangan resminya, Selasa (05 Mei 2026).
Jadwal penghentian operasional KOS direncanakan pada akhir April 2026, dengan penutupan seluruh kegiatan usaha pada Juni 2026. Penurunan permintaan baja konstruksi di pasar domestik serta meningkatnya persaingan dengan produk baja impor berharga lebih murah menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut. Produsen baja global, khususnya dari Tiongkok, memiliki keunggulan dari sisi skala produksi dan efisiensi biaya sehingga mampu menawarkan harga yang lebih kompetitif di pasar internasional, termasuk Indonesia.
Peristiwa ini menyoroti ketergantungan industri baja Indonesia pada proyek infrastruktur besar dan dampak signifikan yang ditimbulkan ketika permintaan menurun. Selain itu, persaingan impor menambah tekanan pada perusahaan lokal, yang pada akhirnya memaksa mereka untuk melakukan restrukturisasi atau penutupan. Bagi para pekerja, PHK massal menimbulkan ketidakpastian ekonomi, meski perusahaan berjanji pesangon lebih tinggi. Situasi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi sektor industri di tengah perubahan permintaan dan persaingan global.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
