PKE LPEI Tembus 90 Negara, Bantu 30 Komoditas Ekspor

Yuli S. · 4 min baca · 1 jam lalu · 27 dibaca
Bisik.id
PKE LPEI Tembus 90 Negara, Bantu 30 Komoditas Ekspor

Gambar atau konten salah?

Program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) yang dikelola oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank kini sudah mencakup lebih dari 30 jenis komoditas. Jangkauannya pun tembus ke lebih dari 90 negara tujuan ekspor. Angka ini menunjukkan bagaimana PKE berperan dalam membuka akses pembiayaan, mendorong diversifikasi pasar, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah global.

Di tengah gejolak perdagangan internasional, para pelaku usaha nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari keterbatasan pembiayaan, risiko pasar, hingga kebutuhan untuk berekspansi ke negara tujuan ekspor yang baru. Lewat PKE, pemerintah hadir memberikan dukungan berupa fasilitas pembiayaan, penjaminan, dan asuransi. Semua ini ditujukan untuk transaksi maupun proyek ekspor yang punya nilai strategis bagi kepentingan nasional, termasuk saat menghadapi masalah kelayakan komersial.

Sutarso, Analis Keuangan Negara DJPPR Kementerian Keuangan RI, menyampaikan bahwa para eksportir punya kontribusi besar bagi perekonomian nasional. Mereka tidak hanya menjadi sumber devisa, tapi juga penggerak aktivitas usaha di berbagai sektor. Karena itu, pemerintah terus memperkuat dukungan lewat berbagai cara. Mulai dari fasilitasi promosi, business matching, kemudahan administrasi ekspor, hingga penyediaan fasilitas pembiayaan ekspor nasional.

"Pemerintah memandang bahwa kinerja ekspor perlu terus dijaga agar perekonomian nasional tetap tumbuh dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat. Untuk itu, melalui Program Penugasan Khusus Ekspor, pemerintah menugaskan LPEI menyediakan fasilitas pembiayaan, penjaminan, dan asuransi bagi kegiatan ekspor yang dinilai penting bagi kepentingan nasional, sehingga produk Indonesia semakin berdaya saing dan pasar ekspor semakin beragam. Kebijakan program ini dirumuskan secara lintas kementerian dan terus dievaluasi agar tetap selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan kepentingan nasional," ujar Sutarso dalam keterangan tertulis, Kamis 29 Oktober 2026.

Pernyataan itu disampaikannya dalam sosialisasi PKE yang berlangsung dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 beberapa waktu lalu.

Agnes Rahadian, Department Head of National Interest Account (NIA), Business Ecosystem & Partnership LPEI, juga menjelaskan bahwa dukungan PKE telah membantu berbagai produk unggulan Indonesia. Mulai dari rempah-rempah, furnitur, hingga produk industri strategis nasional. Semua produk itu berhasil menjangkau pasar ekspor nontradisional, termasuk kawasan Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Selatan.

Untuk menjawab kebutuhan pelaku usaha, ada tiga program PKE yang bisa dimanfaatkan secara langsung:

  • PKE UKM
  • PKE Kawasan
  • PKE Trade Finance

Ketiga program ini diarahkan untuk memperluas akses pembiayaan, mendukung peningkatan kapasitas produksi, membantu pemenuhan permintaan pembeli (buyer), serta membuka peluang penetrasi ke pasar internasional.

Menurut Agnes, penguatan ekosistem ekspor tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Sinergi antara pemerintah, lembaga pembiayaan, dan dunia usaha menjadi faktor penting. Dengan begitu, fasilitas yang tersedia bisa dimanfaatkan secara optimal dan memberikan dampak berkelanjutan bagi eksportir nasional.

Upaya memperluas pemahaman mengenai fasilitas tersebut juga dilakukan LPEI bersama DJPPR Kementerian Keuangan. Caranya lewat sosialisasi kepada pelaku usaha dalam rangkaian Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Forum ini menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan dukungan PKE sekaligus mendorong pemanfaatannya oleh eksportir maupun calon eksportir.

Dukungan PKE tidak hanya membuka akses terhadap sumber pembiayaan. Lebih dari itu, program ini membantu pelaku usaha menjaga arus kas dan keberlangsungan operasional di tengah ketidakpastian perdagangan global.

Hal itu dirasakan langsung oleh Erry Kurnia Mahardika, Pendiri dan Direktur CV Home Fashions Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa fasilitas pembiayaan dari LPEI membantu perusahaannya menghadapi tekanan arus kas akibat dinamika geopolitik dan kondisi pasar internasional.

"Awalnya saya mengenal LPEI melalui kegiatan coaching. Pada saat itu, saya belum memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari LPEI. Namun, pada 2025, ketika situasi geopolitik global tidak menentu, kami menghadapi kendala cash flow dan membutuhkan alternatif pembiayaan dengan biaya yang kompetitif. Melalui LPEI, kami mendapatkan pembiayaan dengan tingkat bunga yang kompetitif sehingga sangat membantu menjaga cash flow dan keberlanjutan usaha kami," ujar Erry.

Pengalaman serupa disampaikan oleh Tien Trisna Mardiana, CEO PT Agrofarm Nusa Raya. Menurutnya, fasilitas PKE memberikan dukungan bagi keberlanjutan kegiatan ekspor pupuk yang dijalankan perusahaannya.

"Awalnya saya memanfaatkan Program Penugasan Khusus Ekspor setelah dipertemukan oleh Kementerian Perdagangan dengan LPEI. Sejak saat itu hingga hari ini, saya merasa sangat terbantu dengan adanya program PKE, terutama dalam mendukung keberlanjutan usaha kami di bidang ekspor pupuk," pungkas Tien.

Pengalaman kedua eksportir itu menunjukkan betapa pentingnya ketersediaan fasilitas pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Terutama dalam menjaga likuiditas, memenuhi permintaan pasar, dan mempertahankan aktivitas ekspor di tengah berbagai tantangan global.

Sebagai Eximbank dan Export Credit Agency (ECA) Indonesia, LPEI terus menjalankan mandatnya dalam mendukung kebijakan ekspor nasional. Caranya lewat penyediaan solusi pembiayaan, penjaminan, dan asuransi. Melalui penguatan Program PKE dan kolaborasi dengan berbagai pihak, LPEI berupaya memperluas kesempatan bagi pelaku usaha Indonesia. Tujuannya jelas: meningkatkan kapasitas, menjangkau pasar baru, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekspor nasional.

Program PKE pada dasarnya adalah instrumen pemerintah untuk menjaga denyut ekspor nasional tetap berdetak. Dengan cakupan yang sudah mencapai 90 negara dan 30 komoditas, program ini menjadi salah satu tulang punggung bagi eksportir, terutama saat menghadapi tekanan global. Dua kisah dari Erry dan Tien memperkuat gambaran bahwa akses pembiayaan yang kompetitif bisa menjadi penyelamat saat arus kas tersendat. Tanpa program seperti PKE, banyak pelaku usaha mungkin akan kesulitan bertahan di tengah ketidakpastian perdagangan dunia.

PKELPEIpembiayaan ekspordaya saingkomoditaspasar global

Komentar

Memuat komentar...