Porter Gubeng, 49, Bekerja Tanpa Gaji Selama Lebaran

Rudi H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 34 dibaca
Bisik.id
Porter Gubeng, 49, Bekerja Tanpa Gaji Selama Lebaran

Gambar atau konten salah?

Mustain Susilo, seorang porter berusia 49 tahun dari Mojokerto, telah menempuh karirnya di Stasiun Gubeng Baru Surabaya sejak Juni 1992. Lebih dari tiga dekade, ia menyumbangkan tenaga tanpa gaji tetap, membantu ribuan pemudik yang melintasi stasiun setiap Lebaran.

Di tengah keramaian Lebaran tahun ini, Mustain hanya mengambil satu hari libur, yaitu 23 Maret 2026. Ia tetap bertugas selama sisa hari, menunggu arus penumpang yang tak pernah berhenti.

“Lebaran tahun ini saya hanya libur pada 23 Maret. Setiap tahun, saya tidak pernah libur saat hari-H Lebaran. Kebetulan orang tua saya di Mojokerto sudah tidak ada sehingga pagi harinya tetap melaksanakan salat Id bersama anak-istri di sini karena rumah saya juga berada di kawasan Gubeng,” ujar Porter Nomor 13 itu ketika ditemui pada 04 Maret 2026.

Keputusan tersebut dipilih karena Lebaran merupakan waktu paling padat. Lebih banyak penumpang membutuhkan jasa porter, sehingga peluang mendapatkan penghasilan meningkat. “Teman-teman itu kan juga banyak yang puasa sedangkan anak istri mereka termasuk saya juga nunggu untuk hari raya. Mau ga mau, ya gitu lah. Ada Bank Mekar yang nunggu di rumah,” tutur Mustain.

Selama periode mudik hingga balik, jumlah penumpang yang memerlukan jasa porter naik drastis. Sistem kerja 24 jam dibagi menjadi shift, di mana Mustain bersama 26 porter lainnya menyalurkan layanan secara merata. Dengan sistem ini, setiap porter memperoleh penghasilan yang adil.

Dalam satu hari, Mustain mengaku dapat sekitar Rp 200.000 atau lebih, tergantung jumlah penumpang dan seberapa besar upah sukarela yang diberikan. Ia menekankan bahwa pendapatan sepenuhnya berasal dari jasa penumpang.

“Kalau sudah dapat penumpang di area drop-off, setelahnya menunggu di area ruang tengah tempat check-in penumpang. Tapi ya bisa dibilang sisaan karena penumpang kalau sudah masuk ke dalam biasanya menolak porter. Yang terpenting semua porter harus dapat jadi semuanya bisa bawa rezeki pulang ke rumah,” jelas Mustain.

Proses penawaran jasa berbeda antara kedatangan dan keberangkatan. “Kalau kedatangan, kita dipersilakan masuk terlebih dahulu untuk menawarkan jasa porter. Penumpang kan barangkali sudah capek di perjalanan ya, jadi butuh tenaga yang bisa bantu menurunkan koper atau barang bawaan dari rak atas,” kata Mustain.

Pendapatan diperoleh baik secara langsung maupun melalui aplikasi e-porter. Meski sudah ada aplikasi resmi, Mustain mengaku bahwa porter tidak memaksa penumpang. Sistem sukarela masih berjalan, dan rekan-rekannya sepakat untuk tidak memaksakan layanan meski rezeki yang didapat kecil. “Rezeki kita itu tergantung penumpang. Jika kualitas kita ngasih pelayanan bagus, biasanya penumpang memberi lebih,” kata Mustain.

Pengorbanan waktu menjadi bagian penting dalam pekerjaannya. Meskipun harus melewatkan waktu berkumpul dengan keluarga, Mustain tetap menjaga silaturahmi melalui panggilan telepon. Ia menekankan bahwa pengorbanan ini merupakan tanggung jawab, terutama karena istri dan anaknya tinggal di Surabaya, memungkinkan ia tetap berkumpul meski hanya satu hari mudik ke kampung halamannya.

Selama puluhan tahun, Mustain lebih banyak merasakan suka daripada duka. Ia merasa senang ketika penumpang terbantu dan memberikan apresiasi, tak peduli besaran. “Dari awal saya sudah di Gubeng, tidak pernah pindah ke tempat lain. Sudah cocok dengan teman-teman, kemungkinan semua sudah care sama saya. Sudah nyaman lah, walaupun kita tidak mendapatkan gaji, saya dan teman-teman tetap bersyukur,” kata Mustain.

Sebagai ketua porter, Mustain juga menghadapi situasi di lapangan, termasuk potensi kesalahpahaman dengan penumpang. Salah satu masalah adalah koordinasi barang bawaan yang kurang atau risiko koper tertukar. Kondisi ini sering terjadi karena penumpang terburu-buru mengejar waktu, sementara arus pergerakan di stasiun harus terus berjalan. Meski begitu, ia memilih tetap sabar dan ikhlas. Baginya, pelayanan yang baik menjadi kunci agar penumpang merasa terbantu dan kembali menggunakan jasa porter.

Di balik hiruk pikuk Stasiun Gubeng saat Lebaran, para porter seperti Mustain menjadi penopang kelancaran perjalanan pemudik. Mereka tidak hanya mengangkut barang, tetapi juga memastikan perjalanan penumpang menjadi lebih nyaman di tengah padatnya aktivitas stasiun. “Untuk teman-teman porter semua tetap semangat, di rumah ada keluarga yang menunggu nafkah kita. Untuk penumpang, harapannya supaya tetap memakai jasa porter supaya kita juga banyak rezeki,” pungkas Mustain.

Keberadaan porter di stasiun Lebaran menegaskan pentingnya peran tenaga kerja informal dalam menjaga kelancaran mobilitas masyarakat. Meskipun tidak mendapatkan gaji tetap, mereka tetap memelihara semangat kerja, mengandalkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan sebagai sumber motivasi. Peran mereka menjadi contoh dedikasi dan kerja keras yang tak terlihat namun sangat berarti bagi ribuan penumpang yang membutuhkan bantuan setiap hari raya.

porterStasiun GubengLebaranpenghasilan sukarelapenumpangmobilitastenaga kerja informal

Komentar

Memuat komentar...