Presiden Bolivia Potong Gaji 50% Diri, Protes Terus

Wahyu T. · 2 min baca · 9 hari lalu · 19 dibaca
Bisik.id
Presiden Bolivia Potong Gaji 50% Diri, Protes Terus

Gambar atau konten salah?

Presiden Bolivia, Rodrigo Paz, memutuskan untuk memangkas gaji dirinya sendiri dan para menteri kabinet sebesar 50%. Langkah ini diambil sebagai upaya menenangkan amukan warga yang semakin marak menuntut perubahan. Dalam pidatonya di Sucre, ia mengatakan, "Pemotongan gaji tersebut menunjukkan 'komitmen pemerintah terhadap negara'".

Keputusan ini datang ketika Bolivia berada di pekan keempat gejolak politik yang semakin memburuk. Aksi protes anti‑pemerintahan berkumpul di berbagai wilayah, mengganggu rantai pasok, terutama di kota La Paz dan El Alto. Demonstrasi yang berlangsung berujung pada gangguan pasokan bahan bakar, pangan, dan obat‑obatan.

Para demonstran menuntut agar pemerintah mencabut langkah penghematan anggaran, termasuk pemangkasan subsidi bahan bakar, serta menanggulangi kenaikan biaya hidup yang kini melanda negara. Mereka menuntut agar kebijakan tersebut segera dibatalkan.

Akibatnya, negara menghadapi krisis kelangkaan yang semakin parah. Pasar barang menjadi tidak stabil, layanan rumah sakit terganggu, dan operasional stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) terhambat. Dampak ini terasa di seluruh lapisan masyarakat, dari petani hingga pekerja pabrik.

Paz baru menjabat sekitar enam bulan, sejak dilantik pada 1 November 2025. Gaji bulanan presiden diperkirakan sebesar 24.000 bolivianos, setara dengan US$ 3.500 atau Rp 62.293.000 dengan asumsi kurs Rp 17.798 per dolar AS. Besaran ini menjadi salah satu yang terendah di antara pemimpin Amerika Latin, namun tetap setara sekitar delapan kali gaji rata‑rata warga Bolivia menurut statistik tahun 2024 dari Organisasi Buruh Internasional.

Meski gaji dipotong, aksi demonstrasi tidak henti. Pada 25 Mei 2026, ketika pengumuman pemotongan diumumkan, polisi kembali bentrok dengan para pengunjuk rasa. Ribuan penambang, petani, pekerja pabrik, dan kelompok lainnya ikut serta. Mereka menuruni gunung menuju pusat kota La Paz dari kota tetangga El Alto, mayoritas penduduknya masyarakat adat. Para demonstran berseru, "Apa yang kita inginkan? Agar dia mengundurkan diri! Kapan? Sekarang!"

Aksi demonstrasi kali ini setidaknya mencapai tiga kali pergerakan dalam seminggu terakhir. Ketika pengunjuk rasa mencoba menerobos barisan polisi di dekat gedung parlemen, pihak kepolisian merespons dengan gas air mata. Konflik ini menambah ketegangan di kota.

Situasi ini menunjukkan bahwa pemotongan gaji, meski simbolik, tidak cukup untuk menenangkan ketidakpuasan publik. Protes tetap berlangsung, menimbulkan gangguan ekonomi yang lebih luas. Pemerintah masih harus mencari solusi yang lebih komprehensif untuk mengatasi krisis ekonomi dan sosial yang melanda Bolivia.

Secara keseluruhan, langkah pemotongan gaji oleh Presiden Paz tidak berhasil meredakan ketegangan. Demonstrasi terus berlanjut, menambah ketidakpastian bagi negara yang sedang menghadapi krisis ekonomi dan sosial yang serius.

BoliviaPresiden Rodrigo Pazpemotongan gajiproteskrisis ekonomiLa PazEl Alto

Komentar

Memuat komentar...