Keju Bukan Penyebab Mimpi Buruk, Laktosa Jadi Faktor
Gambar atau konten salah?
Keju seringkali menjadi bahan perdebatan dalam dunia tidur. Sejak beberapa dekade lalu, banyak orang yang percaya bahwa mengonsumsi keju sebelum tidur dapat memicu mimpi buruk. Mitos ini masih beredar luas, meski sebagian besar dianggap sekadar cerita rakyat. Namun, penelitian terbaru menantang pandangan tersebut dengan menunjukkan bahwa penyebabnya mungkin bukan keju itu sendiri.
Studi pertama yang menjadi rujukan berasal dari Tore Nielsen dan rekan-rekannya di Université de Montréal. Pada 01 Januari 2015, mereka menerbitkan hasil penelitian di jurnal Frontiers in Psychology. Penelitian itu memeriksa hubungan antara pola makan, kualitas tidur, dan mimpi pada sejumlah responden. Hasilnya menunjukkan bahwa produk susu, termasuk keju, menjadi salah satu jenis makanan yang paling sering dikaitkan responden dengan mimpi yang mengganggu. Makanan pedas dan manis juga sering disebut memengaruhi pengalaman bermimpi.
Walaupun temuan tersebut menampilkan korelasi, para peneliti tidak dapat memastikan apakah keju benar-benar menjadi penyebab mimpi buruk. Mereka menegaskan bahwa data yang diperoleh bersifat subjektif, berdasarkan laporan pengalaman responden. “Nightmare severity is robustly associated with lactose intolerance and other food allergies,” tulis mereka dalam publikasi tersebut. Pernyataan ini menyoroti kemungkinan adanya faktor lain yang lebih relevan.
Sepuluh tahun setelah penelitian pertama, Nielsen dan timnya kembali meneliti topik yang sama. Pada 01 Januari 2025, mereka meluncurkan studi lanjutan yang melibatkan 1.082 mahasiswa. Tujuannya adalah mencari penjelasan yang lebih jelas mengenai mengapa produk susu sering dianggap memicu mimpi buruk. Hasilnya menunjukkan bahwa mimpi buruk lebih sering dilaporkan oleh peserta yang memiliki intoleransi laktosa dan mengalami gejala pencernaan, seperti kembung, gas berlebih, atau nyeri perut.
Para ahli menilai bahwa gangguan pencernaan yang muncul saat tidur dapat mengganggu kualitas istirahat, sehingga memengaruhi pengalaman bermimpi. Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa hubungan antara intoleransi laktosa dan mimpi buruk sebagian besar dapat dijelaskan oleh tingkat keparahan gejala pencernaan yang dialami peserta. Dengan kata lain, bukan keju atau produk susu itu sendiri yang diduga memicu mimpi buruk, melainkan rasa tidak nyaman pada saluran cerna yang muncul setelah mengonsumsinya.
“Nightmare severity is robustly associated with lactose intolerance and other food allergies,” lagi disebutkan dalam laporan. Temuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa produk susu selama ini sering dianggap sebagai pemicu mimpi buruk. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional, sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah mengurangi konsumsi produk susu pada orang dengan intoleransi laktosa benar-benar dapat menurunkan frekuensi mimpi buruk atau memperbaiki kualitas tidur mereka.
Dalam konteks ini, penting bagi individu yang mengalami masalah pencernaan pada malam hari untuk memperhatikan asupan makanan sebelum tidur. Meskipun keju tidak secara langsung memicu mimpi buruk, bagi sebagian orang dengan intoleransi laktosa, produk susu dapat menjadi penyebab ketidaknyamanan yang berdampak pada tidur. Mengurangi atau mengganti produk susu dengan alternatif yang lebih mudah dicerna bisa menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan kualitas tidur.
Selain itu, penelitian ini menegaskan bahwa faktor lain seperti makanan pedas dan manis juga dapat memengaruhi mimpi. Meskipun tidak secara langsung terkait dengan keju, pola makan yang seimbang dan perhatian terhadap reaksi tubuh dapat membantu mengurangi gangguan tidur. Bagi yang memiliki intoleransi laktosa, memilih produk bebas laktosa atau mengkonsumsi probiotik dapat menjadi alternatif yang lebih aman.
Secara keseluruhan, studi-studi ini menunjukkan bahwa keju tidak secara otomatis menyebabkan mimpi buruk. Faktor utama yang lebih berpengaruh adalah kondisi pencernaan yang dipicu oleh produk susu. Oleh karena itu, bagi yang mengalami mimpi buruk setelah mengonsumsi keju atau produk susu lainnya, mengevaluasi toleransi laktosa dan menyesuaikan pola makan dapat menjadi solusi yang lebih tepat.
Dengan pemahaman ini, mitos tentang keju dan mimpi buruk dapat dipertimbangkan kembali. Fokus pada kesehatan pencernaan dan kualitas tidur menjadi kunci untuk mengurangi pengalaman mimpi yang tidak menyenangkan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
