Pupuk Indonesia: HET Subsidi Tetap Turun 20%, Tak Naik
Gambar atau konten salah?
Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan bahwa harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi tidak akan naik meski konflik di Timur Tengah berlanjut. Perusahaan menegaskan bahwa HET sudah turun 20% dan tidak ada rencana untuk meningkatkan lagi.
Konflik tersebut menyebabkan penutupan jalur distribusi internasional di Selat Hormuz, salah satu rute penting bagi perdagangan pupuk global. Menurut data, 30% perdagangan pupuk dunia melewati selat tersebut, setara dengan volume sekitar 4 juta ton per bulan.
Informasi ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi, dalam RDP bersama Komisi XI DPR RI pada 02 April 2026.
"Insyaallah pupuk akan aman, HET sudah turun 20%, tidak ada rencana untuk kembali meningkatkan, artinya HET akan tetap. Dan kebutuhan pupuk urea baik untuk subsidi pun non-subsidi di Indonesia, kami dapat yakinkan bisa terselenggara dengan baik," kata dia dikutip, Sabtu (04 April 2026).
Rahmad menjelaskan rincian volume perdagangan melalui Selat Hormuz: 1,5 juta ton urea, 1,5 juta ton sulfur, dan 1 juta ton pupuk lainnya termasuk metanol. Penutupan jalur ini menimbulkan kenaikan harga pupuk urea.
Menurutnya, harga pupuk urea naik dua kali lipat, dari US$ 400 per ton menjadi US$ 800 per ton. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa kenaikan ini tidak akan berdampak besar di Indonesia.
"Sehingga meskipun terjadi gejolak harga urea yang meningkat sebelum perang itu US$ 400 dan sekarang sudah mencapai US$ 800 atau dua kali lipat, tapi kami bisa meyakinkan di depan Bapak-Bapak Pimpinan dan Anggota Komisi XI, insyaallah untuk Indonesia aman, karena ureanya diproduksi dalam negeri," ujarnya. Produksi domestik mencapai 8,8 juta ton, cukup untuk menutupi kebutuhan nasional.
Rahmad menambahkan bahwa Indonesia dapat berperan sebagai penyelamat ekosistem pangan dunia, khususnya dalam pasokan pupuk. Ia menegaskan bahwa produksi pupuk di Indonesia tidak terganggu.
"Bahkan hari ini Indonesia bisa menjadi stabilizer atau bahkan penyelamat ekosistem pangan dunia. Kalau intuitif, biasanya Indonesia situasinya rentan jika terjadi kejolak dunia, khusus mengenai pupuk, kembali lagi saya menegaskan, khusus mengenai pupuk kita tidak terjadi gangguan khususnya kecukupan pupuk urea yang memang terganggu Hormuz," terangnya.
Untuk jenis pupuk lain seperti fosfat dan potas, Rahmad menyatakan bahwa dampak yang dirasakan lebih kepada potensi kenaikan biaya logistik akibat kondisi geopolitik, bukan gangguan produksi global.
Dengan kapasitas produksi dalam negeri yang kuat, Pupuk Indonesia (Persero) berkomitmen menjaga stabilitas pasokan pupuk di tengah ketidakpastian global. Perusahaan menegaskan bahwa kebijakan HET tetap terjaga, sehingga petani di Indonesia tidak perlu khawatir kenaikan biaya input.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SKK Migas Catat 1,500 BOPD Saat Ini, Target 20,000 BOPD
Produksi Minyak Nasional 576k BOPD, Masih Di Bawah Target
BBM Subsidi Tetap Stabil, Harga Tidak Naik Meski Minyak Naik
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Perpanjang ke Bekasi, Tangerang: 48 Stasiun, 600k Penumpang
Berita Terbaru
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Gejala Kulit Leukemia: Memar, Benjolan, Infeksi, dan Lainnya
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
