Renungan Harian 6 Juli: Iman Teguh di Tengah Ujian

Teguh A. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Renungan Harian 6 Juli: Iman Teguh di Tengah Ujian

Gambar atau konten salah?

Setiap hari, umat Katolik diajak merenungkan Sabda Tuhan. Bukan sekadar membaca, tapi menghidupinya. Renungan harian menjadi salah satu cara untuk mendalami pesan iman, terutama saat menghadapi masalah, mengambil keputusan, atau bertumbuh dalam kasih kepada Allah dan sesama.

Untuk Senin, 6 Juli 2026, ada tiga bagian Kitab Suci yang jadi bahan permenungan. Pertama, Bacaan I dari Kitab Hosea. Kedua, Mazmur Tanggapan. Ketiga, Bacaan Injil dari Matius. Ketiganya saling terkait dan berbicara tentang satu hal: iman.

Bacaan I: Hos. 2:13,14b-15,18-19

Tuhan berfirman, "Dan Aku akan menghukum dia karena hari-hari ketika dia membakar korban untuk para Baal, berhias dengan anting-antingnya dan kalungnya, dan mengikuti para kekasihnya dan melupakan Aku."

"Sebab itu, sesungguhnya, Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya. Aku akan memberikan kepadanya kebun anggurnya dari sana, dan membuat lembah Akhor menjadi pintu pengharapan. Maka dia akan merelakan diri di sana seperti pada masa mudanya, seperti pada waktu dia berangkat keluar dari tanah Mesir."

"Aku akan mengikat perjanjian bagimu pada waktu itu dengan binatang-binatang di padang dan dengan burung-burung di udara, dan binatang-binatang melata di muka bumi; Aku akan meniadakan busur panah, pedang dan alat perang dari negeri, dan akan membuat engkau berbaring dengan tenteram. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang."

Mazmur Tanggapan: Mzm. 145:2-3,4-5,6-7,8-9

"Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan kebesaran-Nya tidak terduga."

"Angkatan demi angkatan akan memegahkan pekerjaan-pekerjaan-Mu dan akan memberitakan keperkasaan-Mu. Semarak kemuliaan-Mu yang agung dan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib akan kunyanyikan."

"Kekuatan perbuatan-perbuatan-Mu yang dahsyat akan diumumkan mereka, dan kebesaran-Mu hendak kuceritakan. Peringatan kepada besarnya kebajikan-Mu akan dimasyhurkan mereka, dan tentang keadilan-Mu mereka akan bersorak-sorai."

"TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya."

Bacaan Injil: Mat. 9:18-26

Injil hari ini memuat dua kisah. Dua kisah yang berbeda, tapi satu benang merah: iman yang tak goyah.

Kisah pertama. Seorang kepala rumah ibadat, Yairus, datang kepada Yesus. Anak perempuannya baru saja meninggal. Tapi Yairus tetap percaya. Ia menyembah Yesus dan berkata, "Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup."

Yesus pun bangun dan mengikutinya, bersama murid-murid-Nya.

Kisah kedua. Di tengah perjalanan, ada seorang perempuan. Sudah dua belas tahun ia menderita pendarahan. Ia mendekati Yesus dari belakang, menjamah jumbai jubah-Nya. Dalam hatinya ia berkata, "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh."

Yesus berpaling. Ia memandang perempuan itu. "Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." Dan sejak saat itu, perempuan itu sembuh.

Yesus melanjutkan perjalanan. Sampai di rumah Yairus, Ia melihat peniup-peniup seruling dan orang banyak yang ribut. "Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur," kata Yesus. Mereka menertawakan Dia.

Setelah orang banyak diusir, Yesus masuk. Ia memegang tangan anak itu. Anak itu bangkit. Kabar tentang peristiwa ini menyebar ke seluruh daerah.

Perikop Injil hari ini menghadirkan dua kisah iman yang luar biasa. Yairus, seorang pemuka terpandang, datang kepada Yesus. Meskipun anaknya telah meninggal, ia tetap percaya bahwa Yesus sanggup menghidupkannya kembali. Secara manusiawi, harapan itu mustahil. Lebih dari itu, sebagai kepala rumah ibadat, ia harus menghadapi risiko penilaian dan cibiran dari orang-orang di sekitarnya yang memandang Yesus dengan curiga.

Demikian juga dengan wanita yang sakit pendarahan. Setelah berbagai usaha yang dilakukannya tidak membuahkan hasil, ia tetap menyimpan harapan. Ia percaya bahwa cukup dengan menjamah jubah Yesus, ia akan sembuh. Iman yang sederhana itu membuka jalan bagi karya Allah yang menyembuhkan dirinya. Kedua tokoh ini menunjukkan bahwa mereka memiliki iman yang teguh.

Namun, pengalaman hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Ketika adik saya meninggal secara mendadak. Anak dan istrinya sulit menerima kenyataan tersebut. Mereka terus berharap bahwa adik saya tidak meninggal, melainkan hanya pingsan atau tertidur. Dengan berpegang pada kisah kebangkitan anak Yairus, mereka menantikan mukjizat yang sama terjadi.

Akan tetapi, kehendak Tuhan ternyata berbeda. Adik saya tidak dibangkitkan seperti yang mereka harapkan. Ia tetap meninggal dan dimakamkan. Dalam pergumulan itu, keluarga perlahan menemukan penghiburan bukan pada mukjizat yang mereka nantikan saat itu, melainkan pada iman akan kebangkitan yang dijanjikan Kristus pada akhir zaman. Harapan akan kehidupan kekal menjadi kekuatan yang meneguhkan hati mereka.

Pengalaman ini mengingatkan kita, bahwa iman yang teguh bukanlah keyakinan kalau Tuhan selalu akan melakukan apa yang kita inginkan. Iman yang sejati adalah tetap percaya kepada-Nya, baik ketika mukjizat terjadi, maupun ketika jalan-Nya berbeda dari harapan kita. Percaya bahwa Tuhan selalu bekerja demi kebaikan anak-anak-Nya, meskipun sering kali melampaui pemahaman kita. Ketika kita menghadapi persoalan yang berat, penyakit yang tak kunjung sembuh, atau kehilangan orang yang kita kasihi, mampukah kita tetap percaya bahwa Tuhan hadir dan berkarya dalam hidup kita?

Sumber: Buku Renungan Tiga Titik. Oleh: Leo Hans Adrianus.

Doa Penutup

Allah Bapa Yang Maha Kasih, kami bersyukur atas anugerah iman yang telah Engkau tanamkan dalam diri kami. Bantulah kami untuk memperteguh iman kami, sehingga dengan rendah hati mampu menerima mukjizat yang Engkau izinkan terjadi pada diri kami. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.

Iman yang teguh bukan berarti Tuhan selalu mengabulkan permintaan kita. Iman yang teguh adalah tetap percaya, entah mukjizat terjadi atau tidak. Dua kisah dalam Injil hari ini—Yairus dan perempuan yang sakit pendarahan—mengajarkan hal itu. Mereka percaya sebelum melihat hasilnya. Dan ketika hasilnya berbeda dari yang diharapkan, seperti yang dialami keluarga penulis renungan, iman tetap menjadi pegangan. Bukan pada mukjizat sesaat, tapi pada janji kehidupan kekal.

imanrenungan harianYairusperempuan sakit pendarahanmukjizatpercayakehidupan kekal

Komentar

Memuat komentar...