Ruang Tambah Anggaran Belanja Makin Sempit
Gambar atau konten salah?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa ruang untuk menambah anggaran belanja bagi kementerian, lembaga, dan daerah kini semakin sempit. Pernyataan ini disampaikan saat harga minyak mentah dunia kembali melonjak hingga menyentuh angka US$ 100 per barel.
Sebelumnya, ketika harga minyak sempat turun, Purbaya melihat adanya peluang untuk menambah alokasi belanja. Namun, situasi berubah. Harga minyak kembali tidak stabil. Akibatnya, ruang gerak untuk menambah belanja menjadi terbatas.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, harga minyak mentah Brent melonjak 7%. Ini adalah pertama kalinya sejak Mei harga minyak ditutup di atas level US$ 100 per barel.
"Tadinya kan gini, ketika harga minyak turun, saya pikir saya ada ruang untuk menambah belanja, daerah dan lain-lain ya, termasuk kementerian/lembaga. Artinya sekarang, kalau balik lagi (harga minyak) ke sedia, ruangnya semakin terbatas aja," kata Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat, pada Jumat, 22 Juli 2026.
Meski harga minyak kembali bergejolak, Purbaya memastikan hal ini tidak berdampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, skenario harga minyak di level US$ 100 per barel sudah pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah tidak kaget.
"Berarti kan balik seperti sebelumnya, kan kita asumsikan kan US$ 100. Berarti keadaan ini belum, bukan berarti hal yang baru untuk kita, jadi bisa kita adjust lagi nanti anggarannya seperti sebelumnya, jadi enggak kaget lah," jelas Purbaya.
Pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026, harga minyak mentah Brent turun 72 sen atau 0,72% menjadi US$ 99,97 per barel. Meski turun, Brent masih berada di jalur kenaikan mingguan sebesar 13,5%.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 70 sen atau 0,76% menjadi US$ 91,49 per barel. WTI juga masih berpotensi mencatat kenaikan mingguan 10,9%.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh kekhawatiran akan penutupan jalur pelayaran Bab el-Mandeb. Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia dan merupakan jalur pengiriman minyak terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji akan meminta Iran bertanggung jawab atas setiap serangan lanjutan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga minyak global masih menjadi faktor utama yang membatasi kemampuan pemerintah untuk menambah belanja. Pemerintah mengaku sudah memiliki pengalaman dalam menyesuaikan anggaran saat harga minyak berada di level tinggi. Namun, ketidakpastian tetap ada, terutama karena faktor geopolitik yang mempengaruhi pasokan minyak dunia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
25 Ribu Kopdes Merah Putih Mulai Beroperasi September 2026
BCA Syariah Mulai Bangun Masjid Pertama dari 99 Masjid
Menkeu Izinkan Petugas Karantina Pantau Langsung Mesin Pemindai Bea Cukai
Ekspor Perdana Kopi SRG Tembus Pasar China-Maroko
Pemerintah Luncurkan Gerakan Nasional Pelayanan Publik
BCA, KAI, dan GoTo Puncaki Perusahaan Terbaik 2026 Versi Statista
