Rupiah Lemah, ADM Harga Stabil, Fokus Lokalisasi Komponen

Fitri A. · 3 min baca · 21 hari lalu · 56 dibaca
Bisik.id
Rupiah Lemah, ADM Harga Stabil, Fokus Lokalisasi Komponen

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat menambah beban bagi industri otomotif. Meski tekanan tersebut, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) belum menyesuaikan harga jual mobilnya.

Marketing Director dan Corporate Communication Director ADM, Sri Agung Handayani, menjelaskan bahwa masih ada komponen impor yang dinyatakan dalam dolar AS. “Pergerakan fluktuasi ini pastinya harus ada penyesuaian ya. Penyesuaian dalam artian kita lokalisasi di Daihatsu, di ADM (Astra Daihatsu Motor) itu sudah lebih dari 80% tapi tetap ada beberapa komponen yang memang import ya. Pastinya butuh penyesuaian,” kata Sri Agung Handayani dalam Konferensi Pers Daihatsu Campaign 2026 di AI DSO Astra Biz Centre, BSD Tangerang, 20 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa keberlanjutan industri harus tetap berjalan. “Tapi keberlanjutan industri ini mesti jalan. Jadi kita restructure biaya dan melakukan efisiensi di manufacturing kita,” ujarnya.

Untuk menekan ketergantungan pada komponen impor, ADM berkolaborasi dengan pemasok lokal. “Kita ada pembahasan juga dengan total supply chain kita untuk mencari solusi dalam pengembangan lokalisasi dari beberapa komponen,” tambah Sri Agung.

Menurutnya, depresiasi rupiah bukan hanya memengaruhi pabrik Daihatsu, melainkan seluruh industri manufaktur di Indonesia. “Saya rasa depresiasi ini berdampak bukan hanya pada pabrik Daihatsu. Ini akan terjadi pada seluruh industri yang ada di Indonesia. Maka saya yakin akan ada penyesuaian,” tuturnya.

Untuk konsumen yang berencana membeli mobil baru, ADM memberi kabar baik. Sri Agung memastikan bahwa harga jual mobil Daihatsu masih stabil dan belum mengalami kenaikan sejak awal tahun. “Saat ini tidak ada kenaikan harga Daihatsu. Selama empat bulan sejauh ini lima bulan tidak ada kenaikan harga,” katanya.

ADM kini fokus menyiapkan strategi pengembangan komponen lokal dalam beberapa tahap waktu. “Ya ada yang short term, ada yang mid-term. Dalam jangka enam bulan (untuk jangka pendek), sedangkan yang mid-term ada yang satu tahun sampai satu setengah tahun,” ujar Sri Agung.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, meyakini nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat terhadap dolar AS setelah mengerek suku bunga acuan (BI Rate). Ia memperkirakan penguatan rupiah mulai terlihat pada Juli hingga Agustus 2026.

BI memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Suku bunga Deposit Facility naik 50 basis poin menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility naik 50 basis poin menjadi 6%.

Perry menjelaskan bahwa secara fundamental nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai wajarnya atau undervalue. “Dengan harga minyak yang tinggi, pertumbuhan yang global yang menurun, inflasi global yang naik, arah suku bunga moneter di berbagai negara yang cenderung ketat termasuk Fed Fund Rate, suku bunga Yield, US Treasury yang meningkat tinggi dan dolar yang menguat. Itu faktor yang memberikan tekanan kepada pelemahan nilai tukar di hampir seluruh dunia termasuk rupiah,” jelasnya dalam konferensi pers virtual, 20 Mei 2026.

Menurutnya, kondisi ekonomi domestik saat ini seharusnya mampu menopang penguatan rupiah. Makroekonomi Indonesia masih positif dengan defisit transaksi berjalan yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan inflasi yang rendah. BI juga telah melakukan intervensi pasar valas secara intensif untuk menaikkan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). “Kenapa kami meyakini ini akan stabil di bulan Juni dan akan cenderung menguat pada bulan Juli dan Agustus? Kalau kita melihat histori itu memang rupiah itu mendapat tekanan April, Mei, Juni. Tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus. Kami meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan,” pungkasnya.

Dengan langkah-langkah strategis dari ADM dan kebijakan moneter yang lebih ketat, industri otomotif dan ekonomi Indonesia berusaha menyesuaikan diri terhadap dinamika nilai tukar. Perubahan ini menuntut perusahaan untuk terus memperkuat lokalisasi komponen, efisiensi produksi, dan strategi harga yang responsif terhadap fluktuasi pasar. Sementara itu, ekspektasi penguatan rupiah diharapkan dapat mengurangi beban biaya impor dan menstabilkan harga konsumen di masa mendatang.

nilai tukar rupiahindustri otomotifkomponen imporlokalisasiharga jual mobilBI Rateinflasi

Komentar

Memuat komentar...