Rupiah Terus Terpuruk, Target Tembus Rp 18.300

Dewi M. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Rupiah Terus Terpuruk, Target Tembus Rp 18.300

Gambar atau konten salah?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menyentuh angka 18.100. Mata uang Garuda ini diprediksi akan terus melemah, bahkan berpotensi menembus level di atas Rp 18.200 per dolar AS pada pekan ini.

"Rupiah melemah di atas Rp 18.200 kemungkinan besar akan terjadi. Saya sendiri memberikan target di minggu ini kemungkinan Rp 18.300-an," kata analis Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, pada Selasa, 14 Juli 2026.

Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah banyak dipicu oleh faktor eksternal. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin memanas menjadi penyebab utamanya. Ketika terjadi ketegangan di kawasan Timur Tengah, harga minyak diperkirakan akan kembali naik. Hal ini membuat kebutuhan terhadap dolar ikut meningkat.

"Perang di Timur Tengah ini kan semakin menjadi-jadi. Kemudian Israel menyerang Lebanon, kemudian Iran dan Amerika pun saling serang, bahkan menutup Selat Hormuz. Hal itu membuat harga minyak sudah kembali di atas US$ 80 per barel," jelas Ibrahim.

"Walaupun pemerintah sudah mematok harga minyak mentah di US$ 83 per barel di semester kedua. Tetapi kalau nanti seandainya di atas US$ 83 per barel, apa yang terjadi? Berarti kebutuhan dolar itu juga akan tinggi," sambungnya.

Kenaikan harga minyak ini akan berdampak pada persoalan struktural di perekonomian nasional. Ibrahim menyoroti defisit neraca transaksi berjalan yang masih bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah untuk subsidi.

"Sebenarnya masalahnya kan masalah subsidi. Bank Dunia, IMF, itu kan menginginkan agar subsidi dikurangi. Tetapi pemerintah masih mempertahankan subsidi sampai akhir tahun. Ini awalnya nih, dasarnya nih," ujarnya.

"Negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam tidak ada subsidi, cabut semua. Nah Indonesia orang yang paling ngotot. Jadi pada saat Indonesia mempertahankan BBM subsidi, ya berarti harus siap rupiah melemah," tutur Ibrahim lagi.

Dari sisi pasar modal, banyak perusahaan asing di Indonesia yang perlu membagikan dividen atau bagi hasil keuntungan kepada pemilik saham. Permintaan dolar dalam negeri ikut naik, yang kemudian mendorong pelemahan rupiah lebih jauh.

Belakangan ini, kepercayaan investor terhadap pasar dalam negeri Indonesia juga semakin melemah. Hal ini dinilai akan mendorong investor untuk memindahkan aset atau modal mereka dari Indonesia ke negara lain.

"Investor bingung dengan kondisi Indonesia saat ini yang carut-marut. Penegak hukum yang dianggap malaikat ada tertangkap korupsi, apalagi yang di bawahnya. Polisi yang dianggap penegak hukum itu juga korupsi, Jaksa itu juga sama. Sekarang investor mau lihat ke mana? Sehingga ini yang membuat modal keluar. Jadi wajar kalau seandainya rupiah kembali melemah," tegasnya.

Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad sependapat dengan Ibrahim. Ia menilai nilai tukar rupiah akan terus mengalami pelemahan. Besar kemungkinan dolar akan semakin 'ngamuk' hingga tembus ke level Rp 18.200.

"Ada potensi ini melemah. Ini kan dengan situasi faktor global Timur Tengah. Karena Timur Tengah ini kan orang akhirnya lari ke safe haven, termasuk lari ke Amerika. Dengan situasi Timur Tengah, kalau Timur Tengah lagi konflik, biasanya US dollar-nya justru menguat," ujar Tauhid.

Selain faktor eksternal, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini juga mengalami perlambatan. Kondisi ini ikut mendorong pelemahan nilai tukar rupiah.

"Kalau kita lihat di 2 bulan terakhir Mei dan Juni ini, ekonomi domestik agak relatif menurun. Kalau kita lihat di indeks keyakinan konsumen maupun PMI dan sebagainya, itu merefleksikan penurunan ekonomi dan itu juga cukup membuat rupiah melemah," kata Tauhid.

Pelemahan rupiah kali ini didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak menjadi pemicu utama dari luar negeri. Sementara dari dalam negeri, kebijakan subsidi BBM yang masih dipertahankan dan menurunnya kepercayaan investor turut memperburuk situasi. Kedua analis sepakat bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

rupiahdolar ASpelemahanharga minyakkonflik Timur Tengahsubsidi BBMinvestor

Komentar

Memuat komentar...