Saham Samsung Naik 4,8% Setelah Proyeksi Laba Rekor
Gambar atau konten salah?
Saham Samsung Electronics naik 4,8 % pada perdagangan hari Selasa. Kenaikan ini muncul setelah perusahaan teknologi asal Korea Selatan mengumumkan proyeksi keuntungan kuartal yang menakjubkan, berkat tingginya permintaan chip AI.
Dalam panduan pendapatan awal, Samsung memproyeksikan laba operasional periode Januari hingga Maret mencapai 57,2 triliun won, setara dengan USD 37,8 miliar atau Rp 604,8 triliun. Angka tersebut lebih dari delapan kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu 6,69 triliun won. Jika tercapai, angka ini akan menjadi rekor kuartal baru bagi perusahaan.
Estimasi laba ini bahkan melampaui perkiraan para analis yang sebelumnya mematok angka 42,3 triliun won. Sementara itu, pendapatan konsolidasi diproyeksikan melonjak hampir 70 % menjadi 133 triliun won.
Peneliti Counterpoint Research, MS Hwang, menyebut pendapatan dan laba operasional kuartal pertama Samsung kini sejajar dengan perusahaan teknologi global raksasa lainnya. Panduan positif ini kemungkinan besar didorong oleh bisnis memori mereka.
Permintaan chip memori bandwidth tinggi (HBM) yang digunakan dalam komputasi AI memang sangat meledak selama setahun terakhir. Kondisi ini memicu kelangkaan pasokan sekaligus mendorong lonjakan harga bagi pembuat memori seperti Samsung.
Hwang memproyeksikan harga komoditas memori akan terus melonjak lebih dari 50 % pada kuartal kedua. Pasokan yang ketat di pasar tampaknya tidak akan mereda dalam waktu dekat.
Hasil ini juga mencerminkan keberhasilan Samsung dalam memperkuat posisinya di pasar chip memori bandwidth tinggi. Mereka perlahan mulai merebut kembali kepemimpinan dari pesaing senegaranya, SK Hynix.
Divisi Device Solutions yang menangani hardware memori menyumbang 39 % dari pendapatan Samsung dan 57 % dari laba operasional mereka pada tahun 2025 lalu. Perusahaan rencananya akan melaporkan pendapatan penuh pada akhir bulan ini.
Meskipun proyeksinya sangat bagus, perusahaan tetap menghadapi sejumlah tantangan tahun ini akibat konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah mengganggu pengiriman material penting untuk pembuatan semikonduktor.
Salah satu material yang terhambat adalah helium, sehingga meningkatkan risiko gangguan produksi bagi perusahaan seperti Samsung dan SK Hynix. Jika konflik ini berlangsung selama beberapa bulan atau lebih, dampaknya akan sangat parah bagi keuntungan perusahaan.
Melihat tingginya ketergantungan industri teknologi pada rantai pasokan global, sepertinya pabrikan hardware memang harus segera mencari pemasok alternatif agar produksi tidak terancam mandek.
Dengan prospek keuntungan yang tinggi namun risiko pasokan yang nyata, Samsung berada di posisi menarik. Keberhasilan mereka di pasar memori tinggi memberi keunggulan kompetitif, tetapi ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor penting yang harus dipantau.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Jack Ma di Moskow: Tantang Mahasiswa Hadapi Ketakutan
Satria-1 Tambah 154 Titik Akses Sangihe-Sitaro, 50‑150 Mbps
Kaspersky: Phishing QR Teks ASCII Menambah Serangan 5x
Nanik Deyang Jadi Kepala BGN, Fokus Gizi Anak Nasional
Jack Ma Kenang Pencapaian Besar: Nikah dengan Zhang Ying
Pancingan Australia Dorong Konsumsi Ikan Mas Bagi Populasi
Berita Terbaru
Almond vs. Kacang Tanah: Pilihan Nutrisi Jantung Kesehatan
Trans Luxury Hotel Surabaya Buka, Soft Opening Rp999.000
Florentino Perez Kampanye Presiden Real Madrid dengan Mourinho
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Italia 1-0 Luksemburg, Baldini Raih Kemenangan Muda
Belanda Kalah 0-1 dari Aljazair, Persiapan Piala Dunia 2026
Zodiak Cancer 4 Juni 2026: Hari Ramai Air dan Keberuntungan
Zodiak Virgo 4 Juni 2026: Hari Bintang, Peluang Romantis & Karier
Zodiak Aries 4 Juni 2026: Energi Baru dan Peluang Cinta
