Skor Membaca dan Matematika Siswa AS Turun 0,6 dan 0,4 Kelas per Tahun
Gambar atau konten salah?
Di Amerika Serikat, kemampuan membaca dan matematika siswa telah menurun secara konsisten selama lebih dari satu dekade. Peneliti dari Stanford University menyoroti media sosial sebagai salah satu penyebab utama krisis pendidikan ini.
Menurut laporan terbaru yang dikutip oleh sebuah publikasi, skor membaca siswa pada tahun 2025 turun sekitar 0,6 tingkat kelas dibandingkan dengan tahun 2015. Sementara skor matematika menurun sekitar 0,4 tingkat kelas. Artinya, kemampuan membaca siswa kini tertinggal sekitar 60% satu tahun ajaran penuh dibandingkan satu dekade lalu, sedangkan matematika tertinggal sekitar 40%. Laporan tersebut menuliskan, “Skor tes lebih rendah daripada satu dekade lalu di distrik sekolah di seluruh AS.”
Para peneliti menegaskan bahwa penurunan prestasi akademik sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum pandemi COVID‑19. Tren ini mulai terlihat sejak 2013, mengakhiri dua dekade peningkatan kemampuan siswa di negara tersebut. Sean Reardon, Profesor Kemiskinan dan Ketimpangan di Stanford Graduate School of Education, menjadi salah satu peneliti utama dalam studi ini. Menurut laporan, pandemi hanya memperparah masalah yang sudah ada sebelumnya.
“Pandemi adalah longsoran lumpur yang menyusul tujuh tahun erosi prestasi siswa,” kata Profesor Tom Kane dari Harvard University, yang ikut menulis laporan tersebut. Kane dan rekan-rekannya menyebut periode tersebut sebagai “learning recession” atau resesi belajar, yakni kondisi ketika kemampuan akademik siswa terus menurun secara konsisten dalam jangka panjang.
Media sosial menjadi sorotan utama dalam penelitian ini. Kane menilai korelasi waktunya terlalu mencolok untuk diabaikan. Ia mengatakan penggunaan media sosial yang semakin intens terjadi hampir bersamaan dengan merosotnya kemampuan membaca siswa. “Media sosial berada di inti penurunan prestasi membaca,” ujar Kane. Menurutnya, penggunaan media sosial paling berat justru terjadi pada kelompok siswa dengan prestasi akademik terendah.
Data asesmen nasional AS menunjukkan skor membaca siswa kelas 8 kini berada di titik terendah sejak 1990. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan pendidikan. Selain media sosial, peneliti juga menyinggung perubahan sistem pendidikan di AS yang mulai mengurangi pendekatan evaluasi berbasis tes standar. Kebijakan era No Child Left Behind yang sebelumnya menekankan akuntabilitas sekolah lewat tes perlahan dibongkar dalam dekade terakhir. Sebagian peneliti menduga perubahan tersebut ikut melemahkan fokus sekolah terhadap capaian akademik dasar seperti membaca dan matematika. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa faktor penyebab penurunan ini sangat kompleks dan tidak bisa disederhanakan hanya pada satu aspek.
Absensi kronik menjadi masalah lain yang memperburuk kondisi pendidikan AS. Pada tahun ajaran 2024‑2025, sekitar 23% siswa dikategorikan mengalami absensi kronik. Angka ini memang turun dibanding masa pandemi, tetapi masih jauh lebih tinggi daripada kondisi pra-pandemi yang berada di kisaran 15%. Absensi kronik biasanya merujuk pada siswa yang terlalu sering tidak masuk sekolah sehingga memengaruhi proses belajar mereka secara signifikan.
Di tengah situasi yang suram, beberapa negara bagian dan distrik sekolah mulai menunjukkan tanda perbaikan. Beberapa sekolah mulai menerapkan metode pengajaran berbasis fonik atau phonics‑based instruction untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa. Metode ini menekankan hubungan antara huruf dan bunyi dalam proses belajar membaca. Selain itu, sekolah juga mulai memberikan dukungan tambahan bagi siswa dengan kemampuan membaca rendah.
Untuk matematika, hampir seluruh negara bagian dalam analisis Stanford mencatat peningkatan skor sejak 2022 hingga 2025, meski belum cukup untuk mengembalikan capaian ke level sebelum penurunan besar terjadi. Fenomena ini juga menjadi peringatan penting bagi banyak negara lain, termasuk Indonesia, yang menghadapi tantangan serupa dalam literasi, numerasi, dan penggunaan media sosial di kalangan pelajar. Penetrasi media sosial yang semakin tinggi pada anak dan remaja dinilai perlu diimbangi dengan penguatan fondasi pendidikan dasar serta pengawasan penggunaan teknologi digital.
Peneliti berharap data Stanford ini dapat mendorong evaluasi ulang terhadap kebijakan pendidikan, regulasi media sosial untuk anak-anak, hingga strategi pemulihan pembelajaran pasca‑pandemi. Dengan memahami bahwa penurunan prestasi tidak hanya disebabkan oleh satu faktor, para pembuat kebijakan dapat merancang intervensi yang lebih holistik. Perubahan ini penting untuk memastikan bahwa generasi mendatang memiliki dasar pendidikan yang kuat, meski di tengah perubahan teknologi dan dinamika sosial yang cepat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ridwan Kamil Hadiri Sidang Pengangkatan Anak Arkana
Letusan Gunung Bawah Laut di Papua Nugini Ancam Bentuk Pulau Baru
Muscab Pramuka Karawang Pilih Asep Aang sebagai Ketua
Kaleng Biskuit Menyangkut di Kepala Balita, Damkar Ciamis Turun Tangan
AS Cabut Izin Ekspor Minyak Iran, Buntut Serangan Kapal di Selat Hormuz
Warga Gendong Jenazah di Jalan Rusak, Sukabumi Berduka
