SMA CT ARSA Sukoharjo Puncaki Penerimaan SNBT 2026
Gambar atau konten salah?
Dinas Pendidikan Jawa Tengah baru saja mengumumkan daftar sekolah menengah atas dengan jumlah siswa paling banyak yang diterima di Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Posisi puncak ditempati oleh SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Tengah, Sadimin, menyampaikan data tersebut pada Selasa, 9 Juni 2026. "SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo menjadi yang terbanyak, dengan 122 siswa diterima dari total 168 siswa. Posisi kedua adalah SMAN 1 Purworejo, sebanyak 110 siswa diterima dari 350 siswa," jelasnya.
Berikut adalah sepuluh besar sekolah dengan penerimaan SNBT terbanyak di Jawa Tengah, baik negeri maupun swasta:
- SMA Unggulan CT Arsa Foundation Sukoharjo — 122 dari 168 siswa
- SMA Negeri 1 Purworejo — 110 dari 350 siswa
- SMA Negeri 1 Magelang — 108 dari 250 siswa
- SMA Negeri 1 Muntilan — 100 dari 275 siswa
- SMA Negeri 1 Wonogiri — 99 dari 300 siswa
- SMA Negeri 2 Purwokerto — 92 dari 174 siswa
- SMA Negeri 1 Salatiga — 85 dari 239 siswa
- SMA Negeri 1 Baturetno — 85 dari 143 siswa
- SMA Negeri 1 Kota Mungkid — 84 dari 150 siswa
- SMA Negeri 1 Boyolali — 82 dari 262 siswa
Sadimin menambahkan, sekolah-sekolah dalam daftar tersebut menerima piagam penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian mereka.
Kepala SMAU CT ARSA Sukoharjo, Usdiyanto, membenarkan kabar ini. Menurutnya, prestasi tahun ini merupakan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. "Tahun lalu kami peringkat 4, sekarang peringkat 1. Dari 168 siswa, 122 diterima lewat jalur tulis SNBT. Dinas merilis data ini karena SNBT merupakan ajang pertarungan akademis yang adil — semua diuji dengan tes yang sama," jelas Usdiyanto.
Dia menambahkan, Kepala Dinas sengaja mengumumkan peringkat ini untuk memotivasi semua sekolah.
"Sekolah hanya menerjemahkan arahan dari Pak CT dan Bu Anita. Kami memberdayakan semua sumber daya yang ada. Banyak puncak gunung, tapi tidak semuanya bisa didaki. Kami memilih puncak mana yang menjadi target kami," ujarnya dengan nada filosofis.
Usdiyanto juga mengungkapkan, sebagian besar siswa mereka diterima di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo. Ini karena faktor lokasi — kedekatan dengan rumah. "UGM, ITB, UNS, Undip, ITS, IPB Bogor, Unair — semuanya tersebar. Tapi yang paling banyak memang UNS karena paling dekat. ITB, UGM, IPB, ITS juga banyak sebarannya. Anak-anak mempertimbangkan sekolah dekat rumah. Kalau tidak punya uang, bisa pulang," imbuhnya.
Lalu apa rahasia di balik keberhasilan ini?
Usdiyanto menjelaskan, keberhasilan ini bukan hasil kerja instan. Semuanya dimulai sejak proses seleksi penerimaan murid baru (SPMB).
"Upaya pembedanya bukan spontan tahun ini atau tahun kemarin. SMAU CT Arsa punya strategi bertahap untuk mempertahankan kualitas akademik. Sejak awal, data siswa baru dianalisis — dicari tahu kekurangan dan kelebihan mereka," katanya.
Setiap kali penerimaan rapor di tengah semester, para guru mengadakan sidang pleno. Mereka membahas kekuatan dan kelemahan setiap siswa secara detail. Dari situ, guru-guru mengambil langkah-langkah pedagogis agar nilai rapor semester berikutnya bisa naik. Proses ini diulang terus setiap semester.
"Kami melakukan analisis SWOT setiap 6 bulan untuk masing-masing murid. Mulai dari mid-semester 1, kita lihat progresnya. Mid-semester 2, dan seterusnya sampai menjelang kelulusan. Semester 5 adalah puncak persiapan terakhir. Semester 6, mereka menempuh SNBT. Analisis dan pemetaan ini penting — kelemahan kita atasi atau kita terobos. Termasuk peminatan mereka, bagaimana treatment-nya di depan kelas," jelas Usdiyanto.
Rombongan belajar kecil — 20-25 siswa per kelas
SMAU CT ARSA menerapkan sistem kelas yang cukup kecil. Satu angkatan bisa mencapai 200 orang. 200 orang ini dibagi menjadi 8 kelas. Masing-masing kelas maksimal hanya menampung 25 siswa.
"Tahun ini, sesuai petunjuk Pak CT, 20-25 siswa per kelas. Kelas kecil ini membuat intensitas dan komunikasi dengan siswa jauh lebih bagus. Kalau satu angkatan 200, bisa 8 kelas. Perbandingan guru dan murid, rasionya 1:10 atau 1:12," urai Usdiyanto.
Tidak ada remedial test, yang ada remedial teaching
Di sekolah ini, tidak ada istilah her atau ulangan ulang. Sebagai gantinya, ada remedial teaching — pembelajaran ulang.
"Tidak ada her. Kalau nilai jelek, biasanya ada her. Di sini tidak. Yang ada adalah remedial teaching. Her biasanya punya dua standar — soal diturunkan atau nilainya dipermak. Kalau remedial teaching, dari 5 tes utama, kita cari tahu di mana kelemahannya. Bagian yang tidak bisa diajari lagi, khusus untuk materi yang menjadi kelemahan mereka. Setiap anak berbeda — ada yang lemah di ABC, ada yang di DEF. Tidak bisa disamaratakan," ungkap Usdiyanto.
Mencontek itu haram
SMAU CT ARSA sangat melarang keras praktik mencontek. Jika ada siswa yang ketahuan mencontek, mereka akan mendapat surat peringatan 1 hingga 3. Jika masih mengulangi, siswa bisa dikembalikan kepada orang tuanya.
"Pernah ada kasus mencontek. Kami beri surat peringatan 1. Siswa harus mengakui kesalahannya di depan teman-teman. Sampai SP 2, diulang lagi. SP 3, orang tua dipanggil. Kami bilang, 'Kamu berarti tidak cocok sekolah di sini.' Ini harus dilakukan supaya anak belajar jujur, tidak menipu orang tua. Di perguruan tinggi, di SNBT, dia akan hancur kalau bisanya hanya mencontek. Kelihatannya sederhana, tapi tidak sederhana," tuturnya.
Usdiyanto juga menyebut, meskipun belum resmi dirilis, ada informasi dari media sosial yang menunjukkan peringkat SMAU CT ARSA Sukoharjo naik dari posisi 68 ke peringkat 22 dari sekitar 23.000 SMA/MA di seluruh Indonesia.
"Tapi ini belum dirilis resmi ya. Baru yang kami dengar dari media sosial," katanya.
Secara keseluruhan, keberhasilan SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo bukan sekadar keberuntungan. Ini hasil dari sistem yang dibangun sejak awal — analisis individu siswa, kelas kecil, pengajaran ulang tanpa kompromi, dan penanaman nilai kejujuran yang ketat. Semua elemen ini bekerja bersama, bukan terpisah-pisah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pilih Sekolah Tujuan, Pastikan Akun Sudah Terverifikasi
Yatim Piatu Raih IPK 3,90, Wisudawan Terbaik Unair
Webinar Educativa Bantu Mahasiswa Kuasai Analisis Mediasi dan Moderasi
Warga Indonesia raih penghargaan Türkiye Alumni Awards 2026
Mantan Menkeu Chatib Basri Jadi Visiting Professor di LSE
Hasil SPMB Jateng 2026 Diumumkan Hari Ini
Berita Terbaru
Condet: Dari Parfum Olesan Kini Jadi Pusat Wangi Dunia
Penjualan Rocky Hybrid Daihatsu Capai 700 Unit dalam Setahun
Eloy Room Catat Rekor 15 Penyelamatan, Jadi Kiper Terbaik Piala Dunia 2026
Jalanan Putih di Bandung Barat Bukan Salju, Tapi Debu Kapur
5 Restoran Bersejarah di Jakarta, Sajikan Hidangan dalam Bangunan Kolonial
Veda Ega Start P20, Finis P5 di Moto3 Brno
Survei: Kepercayaan pada AI Anjlok Meski Pemakaian ChatGPT Melonjak
ProGIB Jember Desak MBG Lanjut, Usut Praktik Curang
