Sumur Puter di Kudus: Mitos Kembalikan Barang Hilang

Cahyo S. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Sumur Puter di Kudus: Mitos Kembalikan Barang Hilang

Gambar atau konten salah?

Sumur Puter di Desa Langgardalem, Kecamatan Kudus, menjadi pusat cerita rakyat yang menakjubkan. Menurut penduduk setempat, sumur ini memiliki kekuatan untuk mengembalikan barang atau anggota keluarga yang hilang. Mitos ini telah menjadi topik hangat, bahkan sampai muncul di media sosial.

Seorang penggemar sejarah menulis di akun TikTok @jeda.baca bahwa sumur ini “konon peninggalan dari Sunan Kudus saat menyebarkan dakwah Islam di tanah Jawa.” Ia menambahkan, “Mitosnya, siapapun yang kehilangan barang atau anggota keluarga cukup berputar mengelilingi sumur ini sambil memanjatkan doa. Banyak cerita mistis tentang airnya yang dipercaya bisa jadi perantara untuk memutar atau memulangkan apa yang telah pergi,”. Tulisan tersebut menarik perhatian banyak orang yang penasaran akan keajaiban sumur tersebut.

Sumur Puter tersembunyi di balik gang sempit di permukiman Desa Langgardalem. Lokasinya berada sekitar 500 meter dari Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus. Sumur ini berada di dalam bangunan bekas gudang pabrik rokok yang tidak terawat. Tanaman liar dan semak belukar menutupi sebagian area, sehingga pengunjung harus membawa sabit atau parang untuk membuat jalan setapak. Dari pipa paralon yang menyembul, pengunjung biasanya mengambil air dengan mesin sedot.

Menurut Mohammad Romza, pemangku sumur, sumur ini merupakan hadiah dari Sunan Kudus atau Jafar Shodiq, penyiar Islam di wilayah Kudus. Ia menjelaskan bahwa salah satu Wali Songo ini membiarkan sumur tersebut untuk warga, terutama untuk bekal warga yang ikut perang waktu itu. “Sumur puter ini, menurut yang saya terima dari pemangku dulu, sumur hadiah dari Sunan Kudus untuk masyarakat waktu membutuhkan kehidupan, air untuk bekal masyarakat sebagai bekal pulang berperang,” kata dia saat ditemui di lokasi, Rabu (10/6).

Romza juga mengungkap bahwa sumur ini awalnya merupakan tongkat Sunan Kudus yang ditancapkan ke tanah. “Sumur ini awalnya dulu tongkat yang ditanamkan di sini, keluar mata air untuk kebutuhan masyarakat untuk bisa dikonsumsi,” imbuhnya. Ia menambahkan, “Kebetulan tunggangan Sunan Kudus itu kan kuda. Tempat pemeliharaan kuda milik Sunan Kudus di sebelah sini. Jadi sumur ini digunakan untuk merawat kendaraan Sunan Kudus yang ada di lokasi ini,”.

Ketika ditanya tentang mitos sumur dapat mengembalikan barang atau orang yang hilang, Romza mengaku belum pernah dimintai tolong terkait hal itu. Ia mengatakan, “Kalau masalah yang hilang itu mungkin arah dari orang tua, coba diputar yang hilang bisa kembali lagi. Saya yakin tidak cuman itu saja. Saya sebagai pemangku, untuk diminta seperti barang hilang itu tidak pernah,”. Menurutnya, biasanya warga datang ke sumur ini untuk keperluan hajat, seperti bancakan atau doa.

Romza menjelaskan, “Di sini biasanya untuk kebutuhan hajat. Misalnya anaknya mau kuliah, bancakan di sini, jadi seperti itu. Istilahnya meminta tolong kepada kita untuk bertawasul untuk kepunyaan Sunan Kudus, untuk ditawasulkan,” sambungnya. Ia menekankan bahwa sumur ini lebih sering dipakai untuk memohon keberkahan daripada memohon kembalinya barang hilang.

Dengan sejarah yang kaya dan cerita rakyat yang beragam, Sumur Puter tetap menjadi tempat yang menarik bagi penduduk dan pengunjung. Mitos tentang kemampuan sumur ini mungkin lebih bersifat simbolik, mencerminkan harapan dan doa masyarakat terhadap warisan leluhur. Seiring waktu, cerita ini terus hidup, mengingatkan kita tentang pentingnya nilai budaya dan spiritual yang diwariskan oleh tokoh-tokoh seperti Sunan Kudus.

Sumur PuterSunan Kudusmitoshajatdakwah Islamwarisan budaya

Komentar

Memuat komentar...