Target 8 Persen: Ekonom Senior Yakin Indonesia Bisa

Maya K. · 2 min baca · 2 jam lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Target 8 Persen: Ekonom Senior Yakin Indonesia Bisa

Gambar atau konten salah?

Target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto bukanlah sesuatu yang mustahil. Demikian disampaikan oleh ekonom senior Burhanuddin Abdullah. Menurutnya, Indonesia harus berani mengambil langkah-langkah baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Burhanuddin pernah melakukan perhitungan bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengenai target pertumbuhan ekonomi. Hasilnya, angka itu bisa membantu Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.

Ia menjelaskan, jika ekonomi nasional tumbuh 6 persen per tahun, Indonesia diproyeksikan bisa keluar dari middle income trap pada tahun 2041. Namun, jika pertumbuhan mencapai 7 persen per tahun, target itu bisa tercapai lebih cepat, yaitu pada 2038. Target tersebut kemudian dinaikkan lagi menjadi 8 persen.

Menurut Burhanuddin, target 8 persen tetap bisa dicapai. Syaratnya, ada perubahan mendasar dalam cara pembangunan ekonomi dilakukan. "Sangat mungkin bisa mencapai 8 persen. Kita pernah tumbuh 8 persen, bukan hanya sekali, tapi lima kali di zaman Orde Baru dulu. Kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak bisa?" ujarnya dalam diskusi publik bertajuk Industrialisasi, Bursa Komoditas Strategis & Prabowonomics yang digelar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Kantor DPP PKB, Sabtu 03 Oktober 2026.

Ada dua kunci utama untuk mencapai angka pertumbuhan tersebut. Pertama, peningkatan produktivitas. Kedua, efisiensi. Burhanuddin menekankan, Indonesia tidak bisa lagi menggunakan pendekatan pembangunan yang sama seperti masa lalu. Jika ingin hasil yang berbeda, caranya juga harus berbeda.

Sebab, jika pemerintah masih memakai pendekatan lama, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan terus tertahan di kisaran 5 persen. "Cara kita memang harus berbeda. Kalau caranya sama seperti yang lalu, pertumbuhan kita tetap 5 persen. Kunci paling pokok mewujudkan itu cuma dua, yaitu meningkatkan produktivitas dan efisiensi," tegasnya.

Ia bahkan mengutip ungkapan populer yang sering dikaitkan dengan Albert Einstein. "Kegilaan itu adalah ketika kita melakukan hal yang sama terus-menerus tetapi kita ingin hasil yang berbeda," lanjutnya.

Burhanuddin menilai, sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo saat ini sudah mulai menunjukkan upaya perubahan pendekatan pembangunan. "Saya kira apa yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo ini sudah sangat banyak yang berbeda. Kita semua akan melakukan pembangunan ke depan dengan cara yang berbeda dengan apa yang biasa kita lakukan," katanya.

Ia memberi contoh soal kualitas sumber daya manusia (SDM). Jumlah masyarakat berkapasitas tinggi di Indonesia saat ini masih sangat kecil, sekitar 7 persen. Padahal, untuk menciptakan critical mass yang mampu menggerakkan perubahan peradaban dan ekonomi secara masif, dibutuhkan setidaknya 20 persen populasi berpendidikan tinggi. Atas dasar inilah ia sangat mengapresiasi sejumlah program pemerintah di bidang pendidikan. "Sekarang Presiden sangat semangat dan visioner untuk membuat sekolah macam-macam karena ingin mengejar orang pintar tadi," ungkapnya.

Burhanuddin menegaskan, perubahan cara pembangunan bukan berarti mengubah tujuan akhir pembangunan nasional. Tujuannya tetap sama, yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Target 8 persen ini memang ambisius. Namun, dengan catatan sejarah bahwa Indonesia pernah mencapainya, dan dengan syarat adanya perubahan pendekatan yang fundamental, bukan tidak mungkin target itu terwujud. Fokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi, serta perbaikan kualitas SDM, menjadi kunci yang ditekankan oleh ekonom senior tersebut.

pertumbuhan ekonomi 8%produktivitasefisiensimiddle income trapsumber daya manusiaperubahan pendekatantarget ekonomi

Komentar

Memuat komentar...