Tegangan Tinggi di Thomas Cup 2026: Alwi Farhan Detak 200+ BPM

Ika P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 115 dibaca
Bisik.id
Tegangan Tinggi di Thomas Cup 2026: Alwi Farhan Detak 200+ BPM

Gambar atau konten salah?

Thomas Cup 2026, fase Grup D, Indonesia menghadapi Prancis. Indonesia hanya perlu dua poin untuk masuk perempatfinal, namun dua poin itu menjadi titik fokus ketegangan yang memengaruhi performa pemain.

Pada laga pertama, Jonatan Christie menghadapi Christo Popov. Kemenangan Indonesia tergantung pada hasil kedua tunggal. Christie gagal, menambah beban pada tim.

Alwi Farhan diharapkan menjadi penutup kekalahan. Ia bertanding melawan Alex Lanier. Namun performanya terpengaruh oleh tekanan tinggi di lapangan.

Eng Hian, kepala binpres PBSI, mengungkapkan bahwa detak jantung Alwi Farhan mencapai lebih dari 200 bpm saat pertandingan melawan Prancis. Alwi Farhan menjadi tunggal kedua setelah Christie gagal.

"Kemarin atlet -atlet langsung menyampaikan bahwa ada faktor ketegangan yang mereka belum bisa diatasi di lapangan," kata Eng Hian di Pelatnas PBSI, Jumat (8/5/2026).

"Kenapa tidak disiapkan dari sisi psikolog? Kami sudah siapkan jauh-jauh hari. Kami programkan, juga ada kelasnya. Tapi kembali lagi, ini faktor manusia yang tidak bisa diukur pakai angka. Ketegangan itu bisa bagaimana masing-masing menyikapi ketegangan itu seperti apa."

"Kalau kawan-kawan tahu, seorang Alwi Farhan itu kita bisa track, ketegangan dia itu, heart rate dia itu di atas 200," ujarnya.

"Kan tidak bisa kita bilang, 'eh turun, turun, turun'. Bagaimana turunnya? Yang bisa mengontrol kan dirinya sendiri. Seorang psikolog pun misalnya kita panggil terus 'tarik napas!' masa begitu di tengah lapangan? kan enggak," katanya.

"Bagaimana manusianya. Ini yang akan terus kita pantau dan tingkatkan bagaimana mengatasi yang seperti itu," tambahnya.

"Ini jadi PR kita bersama untuk bagaimana kita terus menggali, mencari, permasalahan-permasalahan ini yang menghambat prestasi dan potensi atlet," kata Eng Hian.

Program psikologis sudah ada, namun hasilnya belum memadai. Tim menilai bahwa mengendalikan reaksi tubuh, seperti detak jantung, tetap menjadi tantangan yang harus terus dipantau.

Situasi ini menyoroti betapa pentingnya kesiapan mental dalam turnamen tingkat tinggi. Meski ada pelatihan, tekanan di lapangan masih dapat mengubah hasil akhir pertandingan.

Thomas Cup 2026tekanan mentalAlwi FarhanChristiePBSIdetak jantung 200 bpmpsikolog

Komentar

Memuat komentar...