Tiket Kayutangan: Warga Butuh Sistem Rapi dan Layanan Ramah
Gambar atau konten salah?
Malang kembali menjadi sorotan setelah fenomena “getok parkir” yang menambah ketegangan di kawasan wisata. Kali ini, masalahnya bukan tentang parkir, melainkan pelayanan warga di Wisata Kayutangan Heritage yang dinilai ketus dan sistem tiket yang membingungkan.
Semua mulai viral ketika akun TikTok @dintdan mengunggah video dengan judul Piye Tanggapanmu soal Tiket Masuk Kampung Kayutangan?. Video tersebut menampilkan pemilik akun bernama Dinta yang mengisahkan pengalaman kurang menyenangkan saat berkunjung ke Kampung Kayutangan Heritage. Sejak 04 Mei 2026, video ini telah ditonton lebih dari 260 ribu kali.
Di dalam carousel, Dinta menunjukkan bagaimana warga setempat sering meneriaki wisatawan dengan kata “tiketnya mana?” tanpa memberi penjelasan yang jelas. Ia juga terdengar celetukan bernada ketus, “Wisata yo mbayar (bayar),” menurut yang dilontarkan warga kepada wisatawan. Unggahan ini menuai banyak komentar, di antaranya komentar dari @ochiii yang berbunyi: “lah aku kan gatau kalo ke toilet situ juga harus bayar tiket masuk, ya aku ke toiletnya (kebetulan toiletnya tuh deket bgt sm loket. kaya depan2an gt) aku kira cm bayar toilet aja soalnya aku gamasuk kan. eh disuruh bayar, diteriakin kek maling 'WONG ENDI SE IKI GAK ERO LEK MELBU KENE BAYAR'.”
Warga setempat juga dikabarkan diminta membayar tiket masuk, sebagaimana dikutip oleh @cantikaa, “aku padahal warlok kayutangan kalo masuk suka ditanya tiket jir, padahal rumahnya dalem kampung ini.”
Masalah ini menjadi lebih rumit karena pintu masuk Kayutangan tidak terpusat pada satu titik. Cara penyampaian kepada pengunjung yang dianggap kurang ramah memperkeruh suasana, membuat wisatawan enggan berkunjung. Saat dikonfirmasi, Dinta menegaskan bahwa peristiwa tersebut ia lihat saat berkunjung ke Kampung Kayutangan untuk kedua kalinya bersama temannya yang merupakan warga asli Malang.
Menurutnya, sistem ticketing di Kayutangan belum tertata rapi dan membuat pengunjung bingung. Ia berkata, “Pas masuk ke Kayutangannya saya menikmati, yang bikin gak nyaman menurut saya cuma tiket masuknya. Kalau emang mau ada pembayaran tiket seharusnya lebih dipertegas lagi tempat loketnya,” sambil menegaskan bahwa petugas seharusnya tetap berjaga di loket agar alur masuk wisatawan lebih jelas. Ia menambahkan, “Mereka juga harus stay di loket karena ada beberapa orang yang gak bayar,” menyoroti pentingnya pengawasan agar tidak ada pengunjung yang masuk tanpa membayar.
Secara keseluruhan, situasi ini menyoroti tantangan manajemen tiket di kawasan wisata tradisional. Keterbatasan infrastruktur dan komunikasi yang kurang jelas menjadi faktor utama yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengunjung. Perbaikan sistem loket dan pelatihan pelayanan warga dapat membantu menciptakan pengalaman wisata yang lebih teratur dan ramah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
