Trump Sebut Tangis Pelayat Khamenei Air Mata Palsu
Gambar atau konten salah?
Dalam momen yang seharusnya penuh dengan penghormatan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru melontarkan pernyataan yang memicu kontroversi. Ia menyebut tangisan para pelayat di pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, kemungkinan hanyalah 'air mata palsu'. Pernyataan ini disampaikan Trump di tengah prosesi pemakaman yang berlangsung khidmat di Teheran.
Prosesi pemakaman Khamenei sendiri telah berlangsung sejak Sabtu, 4 Juli. Jenazahnya disemayamkan di kompleks Grand Mosalla, Teheran, selama siang dan malam hingga Senin, 6 Juli. Pemerintah Iran memberikan kesempatan kepada masyarakat umum untuk memberikan penghormatan terakhir dalam seremoni perpisahan tersebut. Selama prosesi berlangsung, pemerintah Iran menetapkan hari libur dengan meliburkan kantor-kantor pemerintah dan swasta di wilayah Teheran, mulai dari Sabtu, 4 Juli hingga Senin, 6 Juli.
Trump mengaku terkejut dengan besarnya antusiasme masyarakat yang menghadiri pemakaman Khamenei. Sebelumnya, ia mengira mendiang pemimpin Revolusi Islam Iran itu tidak disukai oleh rakyatnya. "Saya terkejut. Saya pikir orang-orang membencinya," kata Trump pada Selasa, 7 Juli 2026. Ia kemudian menambahkan, "Mungkin itu air mata palsu," ujarnya mengenai para pelayat yang terlihat menangis selama upacara pemakaman.
Tak hanya itu, Trump juga mengklaim bahwa Iran sangat ingin kembali melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat. "Mereka memohon untuk membuat kesepakatan," katanya. Menurut Trump, kedua belah pihak sepakat untuk menunda pembicaraan hingga rangkaian pemakaman Khamenei selesai. "Mereka semua ada di sana. Satu tembakan (dan kita bisa menyingkirkan mereka semua), tetapi kita tidak akan melakukan itu karena kemudian kita tidak akan punya siapa pun untuk diajak bernegosiasi," imbuhnya. Trump juga menyebut tidak akan ada pihak yang melancarkan serangan selama prosesi pemakaman Khamenei masih berlangsung.
Di tengah rangkaian prosesi pemakaman, Iran mengambil langkah drastis dengan menutup wilayah udara Teheran sepenuhnya pada Senin, 6 Juli waktu setempat. Kebijakan ini berdampak pada penghentian sementara operasional dua bandara utama di ibu kota. Kantor berita ISNA melaporkan bahwa penerbangan di berbagai wilayah Iran masih berlangsung normal tanpa pembatasan pada Minggu, 5 Juli waktu setempat. Namun, pada Senin, 6 Juli, wilayah udara Teheran ditutup total selama prosesi utama pemakaman Khamenei berlangsung.
Sesuai jadwal Organisasi Penerbangan Sipil Iran, penerbangan reguler di Bandara Internasional Mehrabad dan Bandara Internasional Imam Khomeini dihentikan sementara sepanjang Senin, 6 Juli. Penghentian aktivitas penerbangan ini berlangsung selama sehari penuh seiring digelarnya seremoni publik di Teheran. Pada Selasa, 7 Juli waktu setempat, Bandara Mehrabad akan kembali beroperasi normal. Sementara itu, Bandara Imam Khomeini masih tetap ditutup.
Setelah seremoni di Teheran selesai, jenazah Khamenei akan dibawa ke kota-kota suci Syiah di Irak, seperti Najaf dan Karbala. Selanjutnya, Khamenei akan dimakamkan pada 9 Juli di kompleks Makam Imam Reza, Mashhad, yang merupakan kota kelahirannya. Otoritas Iran juga menyatakan wilayah udara di atas Mashhad akan ditutup sepenuhnya pada 9 Juli. Operasional Bandara Internasional Shahid Hasheminejad turut dihentikan sementara selama prosesi pemakaman tahap akhir berlangsung. Sementara itu, penerbangan di wilayah lain di Iran tetap berlangsung normal pada 7-8 Juli waktu setempat. Pengecualian hanya berlaku di Mashhad pada hari terakhir rangkaian pemakaman Khamenei.
Komentar Trump yang meremehkan kesedihan publik Iran ini muncul di saat hubungan kedua negara sedang berada dalam ketegangan. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa rapuhnya komunikasi antara AS dan Iran, bahkan di momen-momen yang seharusnya dihormati. Penutupan wilayah udara Teheran dan penghentian penerbangan di bandara-bandara utama menunjukkan skala besar dari peristiwa ini, yang melibatkan pengaturan keamanan dan logistik yang rumit. Proses pemakaman yang panjang, dari Teheran hingga ke kota suci di Irak dan akhirnya ke Mashhad, menegaskan betapa pentingnya sosok Khamenei bagi pendukungnya di Iran dan kawasan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi