Tsunami 481 Meter di Tracy Arm, Alaska, Indikasi Dampak Iklim

Putri N. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 86 dibaca
Bisik.id
Tsunami 481 Meter di Tracy Arm, Alaska, Indikasi Dampak Iklim

Gambar atau konten salah?

Di wilayah wisata populer di Alaska, sebuah tsunami terjadi di Tracy Arm Fjord, bagian dari Hutan Nasional Tongass. Gelombang ini menjadi tsunami tertinggi kedua yang pernah tercatat, namun beruntung tidak menimbulkan korban luka.

Kejadian ini berlangsung pada pukul 05.30 pagi 10 Agustus 2025. Pada saat itu, tidak ada kapal pesiar atau perahu di area tersebut, sehingga tidak ada yang terluka. Gelombang mencapai ketinggian 481 meter, lebih tinggi dari gedung The Shard di London dan lebih tinggi dari Empire State Building di New York. Gelombang ini begitu kuat sehingga menebas vegetasi dengan ganas dan meninggalkan bekas luka pada dinding batu curam.

Perubahan iklim memicu penyusutan gletser yang menopang gunung. Saat suhu naik, gletser mengerut, membuat bebatuan kehilangan tumpuan dan memicu tanah longsor. Gelombang raksasa semacam ini, yang dipicu oleh tanah longsor, letusan gunung berapi, atau meteor, kadang disebut megatsunami.

“Fakta bahwa tanah longsor terjadi sepagi ini adalah sebuah keberuntungan yang luar biasa. Di lain waktu-dan pasti akan ada waktu berikutnya-kita mungkin tidak akan seberuntung ini,” cetus pakar geomorfologi Universitas Calgary, Dan Shugar, yang juga penulis utama studi yang diterbitkan di jurnal Science ini.

Setelah tsunami, vegetasi yang tersapu bersih menciptakan garis batas yang sangat tajam. Di bagian bawahnya tersisa batu, sedimen, dan beberapa tunggul pohon, sementara di atasnya masih ada hutan perawan yang berdiri utuh seperti pada 9 Agustus 2025 sebelum tsunami. “Vegetasi yang tersapu bersih pada dasarnya membentuk garis pembatas yang sangat tajam. Di bagian bawahnya hanya tersisa batu, sedimen, dan beberapa tunggul pohon, sementara di atasnya masih terdapat hutan perawan yang berdiri utuh seperti pada 9 Agustus sebelum tsunami terjadi. Bagaikan dua dunia berbeda,” paparnya.

Ilmuwan tidak memiliki foto atau rekaman langsung dari peristiwa tersebut. Mereka merekonstruksi kejadian menggunakan foto udara yang diambil setelahnya, serta data lain. Ketinggian tsunami ditentukan dengan mengukur batas hilangnya vegetasi.

Gelombang tersebut menjulang tinggi di Tracy Arm karena volume air sangat besar yang terdesak oleh batu dari tanah longsor terperangkap dan terdorong melewati ruang sempit. Sekitar 83 juta yard kubik batu runtuh dalam waktu sekitar satu menit, setara dengan 24 kali lipat volume Piramida Agung Giza.

“Keruntuhan ini memicu gelombang seismik yang terpantau di seluruh dunia,” sebut ahli geofisika University College London dan rekan penulis studi tersebut, Stephen Hicks yang dikutip dari Sky News.

Kejadian ini menunjukkan betapa cepatnya perubahan iklim dapat memicu bencana alam. Meskipun kali ini beruntung tidak ada korban, potensi kerugian pada masa depan tetap tinggi jika kejadian serupa terjadi pada waktu yang lebih sibuk.

tsunamiTracy Arm FjordHutan Nasional Tongassgletserperubahan iklimtanah longsormegatsunami

Komentar

Memuat komentar...