Tukang Sayur Lampung Siap Haji, Tabungan Koin Seribu
Gambar atau konten salah?
Di pagi yang masih sepi, Adna Yusri, 58 tahun, menata sayuran di atas sepeda motornya di Desa Karang Jaya, Kecamatan Merbau Mataram, Lampung Selatan.
Ia mengatur satu per satu dagangan dengan rapi, lalu melaju berkeliling kampung. Setiap rumah yang ia lewati, ia sapa pelanggan setianya, biasanya ibu-ibu yang menunggu sayur segar. Rutinitas ini sudah ia jalani puluhan tahun, melewati gang-gang sempit, berhenti di rumah satu per satu.
Tak peduli panas terik atau hujan deras, Adna tetap mencari nafkah. Dari profesi sederhana sebagai tukang sayur keliling, ia menanam satu mimpi besar: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Mimpi itu tidak datang dalam semalam. Selama 20 tahun, warga Desa Karang Jaya menyisihkan sebagian penghasilannya. Uang yang terkumpul tidak banyak, sering kali hanya pecahan Rp 1.000. Ia menabung sedikit demi sedikit, dengan tekad yang tak pernah goyah.
“Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Yang penting istiqamah,” kata Adna ketika ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.
Ketika waktu pelunasan biaya haji tiba, Adna datang membawa tabungan yang tak biasa. Uang hasil jerih payahnya memenuhi lima ember, didominasi koin pecahan seribu rupiah. Lima ember koin itu menjadi saksi bisu perjalanan panjang seorang pedagang sayur keliling dalam mengejar impiannya.
Berpatah semangat, Adna akhirnya merayakan hari yang telah lama dinantikan. Namanya tercatat sebagai calon jemaah haji asal Lampung Selatan dan dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 5 Mei 2026. Rasa haru tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
“Saya tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Dari jual sayur keliling, saya kumpulkan sedikit demi sedikit. Ini semua karena doa dan kesabaran,” ujarnya.
Namun kebahagiaan itu belum sepenuhnya lengkap. Haljariyah, istri setianya, belum bisa berangkat bersama karena keterbatasan biaya. Meski begitu, Haljariyah tetap melepas suami dengan penuh keikhlasan.
“Saya berharap suatu hari istri saya juga bisa menyusul,” tutur Adna.
Kisah perjuangan Adna pun menjadi inspirasi bagi warga sekitar. Sumiyati, salah seorang tetangganya, mengenal Adna sebagai pribadi pekerja keras yang tak pernah menyerah.
“Beliau orangnya tekun sekali. Tidak pernah mengeluh. Kami semua ikut bangga dan terharu,” katanya.
Kepala Desa Karang Jaya, Rudi Hartono, menyebut Adna sebagai contoh nyata bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita.
“Kalau ada niat, usaha, dan kesabaran, pasti ada jalan. Kisah Pak Adna ini sangat menginspirasi,” ujarnya.
Perjalanan Adna Yusri menuju Tanah Suci bukan hanya tentang ibadah haji. Ini adalah cerita tentang ketekunan yang dirawat selama dua dekade, tentang mimpi yang dijaga dalam keterbatasan, dan tentang harapan yang tak pernah padam.
Perjuangan ini menunjukkan bahwa tekad dan kesabaran dapat membawa seseorang mencapai impian, meski sumber daya terbatas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Palembang Tangani 496 Kasus DBD, Dinkes Waspada Kemarau
SPMB 2026 Jambi: Mulai 8 Juni, Jalur Afirmasi & Mutasi
FESyar Sumatera 2026: Festival Ekonomi Syariah Palembang
Harga Emas Antam Palembang Turun Rp2,759.000 per Gram
Periksa Status PIP Juni 2026: Cek Online NISN & NIK
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Berita Terbaru
Seleksi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026 Buka 3-15 Juni: Lulusan PPG
Slamet Santoso: Pemuda Banyuwangi Gabung Sokol Pyrzyce
Liburan Baru Fokus Istirahat: Tren Sleep Tourism Meningkat
Pemerintah Perkenalkan Kebijakan Energi Terbarukan 2025
Amalia & Fadia Raih Kemenangan Ganda Putri, Melaju ke P4
Jembatan Selemadeg: Lubang Besar, Perbaikan Masih Menunggu
Jepang Kehilangan 3 Juta Penduduk, Populasi Menurun 123 Juta
Ariston Luncurkan Pemanas Air Andris 3, Kamar Mandi Smart
