Turkish Aerospace Investasi Bandung: Fokus Dirgantara
Gambar atau konten salah?
Forum Ekosistem Dirgantara Indonesia 2026 digelar di Bandung pada 09 Juni 2026. Di sana, para pemangku kepentingan membahas rencana Indonesia memiliki fasilitas perakitan pesawat sekaligus memperkuat industri manufaktur komponen penerbangan melalui kerja sama dengan Turkish Aerospace.
Managing Director Turkish Aerospace Indonesia, Adi Aviantoro, menegaskan bahwa Indonesia sudah memiliki dasar kuat di bidang dirgantara. Ia berharap investasi yang masuk lewat Turkish Aerospace dapat menjadi suntikan modal yang membangkitkan kembali kejayaan aviasi nasional.
“Indonesia sebenarnya memiliki fondasi yang kuat di bidang dirgantara. Setelah sempat mengalami kelesuan, ia berharap investasi yang akan masuk lewat Turkish Aerospace dapat menjadi suntikan modal yang dapat membangkitkan kembali kejayaan aviasi nasional,” kata Adi.
Adi menambahkan sejarah industri dirgantara Indonesia yang pernah mengarah ke sektor tersebut, namun mengalami jeda. Sejak tahun 2022, setelah Turkish Aerospace Indonesia berinvestasi di Indonesia, ia berharap industri dirgantara dan pendukungnya mulai berkembang, khususnya di sektor manufaktur.
“Indonesia ini secara sejarah memang background industrinya sudah diarahkan ke arah industri aerospace. Kemudian ada jeda masa waktu ketika industri aerospace itu lesu. Mulai tahun 2022, setelah Turkish Aerospace Indonesia berinvestasi di Indonesia, kami harapkan industri aerospace dan pendukungnya mulai berkembang, terutama di industri manufaktur,” ujarnya.
Turki melihat potensi Indonesia sebagai negara yang sudah memiliki basis industri penerbangan. Oleh karena itu, Turki berinvestasi di Indonesia, terutama di Bandung, yang telah lama menjadi pusat industri penerbangan.
“Turki melihat Indonesia sudah mempunyai potensi ke arah industri aerospace. Oleh karenanya memang Turki berinvestasi di Indonesia untuk industri pesawat terbang yang sudah ada basisnya di Indonesia, terutama di Bandung,” jelas Adi.
Fokus utama pengembangan saat ini adalah memperkuat industri manufaktur komponen atau part manufacturing. Menurut Adi, penguatan sektor tersebut menjadi fondasi penting sebelum Indonesia dapat meningkatkan kapasitas produksi pesawat terbang.
“Sekarang ini yang harus kita perkuat secara fundamental adalah mengembangkan industri part manufacturing yang kemudian akan berkembang ke arah pesawat terbang yang akan mendukung industri pesawat terbang di Turki. Tapi kita di Indonesia sekarang ini lebih fokus kepada industri part manufacturing,” kata Adi.
Selain membentuk Turkish Aerospace Indonesia sebagai perusahaan yang beroperasi di dalam negeri, pihaknya juga tengah menyiapkan rencana pembangunan fasilitas perakitan pesawat. Namun, nilai investasi yang akan digelontorkan masih dalam tahap kajian.
“Saat ini kita masih dalam studi untuk menyimpulkan besaran nilai investasi,” ujarnya.
Turkish Aerospace Indonesia masih mempertimbangkan beberapa alternatif lokasi. Kawasan Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka disebut sebagai salah satu lokasi yang memiliki peluang besar.
“Saat ini kita ada beberapa pilihan yang belum diputuskan. Kemarin sudah didengar mengenai GMF yang diberikan fasilitas di Kertajati. Mungkin arahan ke depannya juga arahnya akan ke Kertajati,” tambah Adi.
Bandung memiliki posisi strategis dalam pengembangan industri dirgantara nasional. Kota ini tidak hanya memiliki sejarah sebagai pusat industri penerbangan, tetapi juga didukung oleh perguruan tinggi yang menghasilkan tenaga kerja terampil di bidang penerbangan.
“Bandung harusnya paling siap karena didukung dari universitas yang jurusannya penerbangan yang ada di Bandung. Kemudian ada industrinya, industri penerbangan memang pusatnya dari dulu ada di Bandung,” ujarnya.
Untuk tahap awal, Turkish Aerospace Indonesia akan fokus pada pengembangan helikopter komersial. Produk Turkish Aerospace mencakup pesawat sayap tetap maupun helikopter untuk kebutuhan sipil dan militer.
“Sementara ini kita masih fokus untuk helikopter yang komersial. Produk Turkish Aerospace ada yang fixed wing dan rotary wing. Yang rotary wing itu ada yang militer dan ada yang komersial, sekarang ini kita fokus untuk yang komersial,” jelas Adi.
Pasar utama untuk produk tersebut saat ini masih berada di Turki. Namun, peluang pemasaran di Indonesia terbuka lebar.
Adi mengakui bahwa industri dirgantara nasional masih menghadapi tantangan, terutama terkait ketersediaan bahan baku. Sebagian besar kebutuhan raw material masih bergantung pada impor.
“Saat ini memang kesulitan yang paling utama adalah raw material. Tapi dengan adanya dukungan finansial, maka mudah-mudahan kendala ini bisa diatasi. Kemudian raw material bisa kita sediakan untuk para supplier di Indonesia. Akhirnya secara financing sudah tidak ada masalah untuk pengadaan material,” ujarnya.
Chairman Indonesian Aircraft Components Manufacturers Organization (INACOM), J. Adi Sasongko, menilai kehadiran Turkish Aerospace Indonesia dapat menjadi angin segar untuk memperkuat industri komponen yang tersebar di berbagai daerah.
“Kita beruntung sekarang ini kita ketemu Turkish Aerospace Indonesia yang mencoba membangun ekosistem. Harapannya kita bisa didukung oleh industri yang banyak tersebar di seluruh Indonesia untuk mensupport Turkish Aerospace Indonesia,” kata Sasongko.
Ia mencontohkan bagaimana Amerika Serikat membangun industri penerbangannya dengan memanfaatkan kemampuan industri otomotif yang kemudian ditingkatkan menjadi produsen komponen pesawat.
“Saya rasa industri aviasi ini sangat besar peluangnya. Seperti di Amerika, industri aviasi dibuat pertama kali dengan mengonversi industri komponen otomotif untuk di-upgrade menjadi industri komponen pesawat. Harapannya kita bisa mengikuti seperti Amerika,” ujarnya.
Meskipun demikian, Sasongko menilai persoalan birokrasi dan regulasi dalam negeri masih menjadi hambatan utama. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan menunda pengembangan industri.
“Birokrasi dan regulasi itu tetanggaan, sama-sama ruwet. Kita tidak akan menunggu birokrasi maupun regulasi sampai benar-benar ideal. Karena kalau kita menunggu ideal mungkin tidak akan pernah datang,” jelas Sasongko.
Ia optimistis bahwa pasar domestik Indonesia mampu menjadi motor pertumbuhan industri penerbangan nasional. Sebagai negara kepulauan, kebutuhan transportasi udara diperkirakan akan terus meningkat dalam jangka panjang.
“Sebenarnya kita merupakan pasar yang sangat besar. Mulai Sabang sampai Merauke membutuhkan transportasi udara yang begitu banyak. Dengan 17.000 pulau, harusnya kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Sekarang yang beterbangan di atas kita ini kebanyakan pesawat impor semua,” tutupnya.
Rencana kerja sama ini menandai langkah penting bagi Indonesia dalam memperkuat ekosistem dirgantara. Dengan dukungan investasi, pengembangan manufaktur komponen, dan potensi pasar domestik yang luas, industri penerbangan Indonesia berpotensi tumbuh menjadi pemain regional. Namun, tantangan terkait bahan baku dan regulasi tetap menjadi hal yang harus diatasi agar visi tersebut dapat terwujud secara nyata.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Pemerintah Rencanakan Peningkatan Dana Pendidikan 2026
Tahun Baru Islam: Perbedaan Kalender Lunar vs Solar
Mahasiswa Bandung Unjuk Rasa di DPRD Jawa Barat, 11 Juni
Ir. Muaz HD Meninggal, DPRD Bogor Berduka Besar, Kebijakan
Kota Bogor Raih WTP ke-10, Konsistensi Keuangan Daerah
Anjani 15, Gambar Icarus & K-Pop Jadi Sorotan Pameran Seni
Berita Terbaru
Roberto Carlos Siap Saksikan Messi di Piala Dunia 2026
XLSmart Luncurkan AI ESTA Eco & Vision di Bravo 500 Summit
Mi Instan: Beban Sodium dan Risiko Metabolik pada Konsumen
Bupati Empat Lawang Tegaskan Anti KKN, Panggil Warga Awasi
Temuan Kepingan Emas di Candi Losari, Fokus Eksplorasi Baru
Piala Dunia 2026 Meksiko: Brazil Siap Hadapi Grup C
Semifinal AFF U-19 2026: Indonesia vs Australia 0-0
XLSmart: Jembatan Integrasi Tujuh Pilar Digital Indonesia
